Fenomena Quarter Life Crisis Meningkat di Kalangan Gen Z: Antara Tekanan Digital dan Belajar Menerima Takdir
Fenomena quarter life crisis kini semakin nyata dirasakan oleh generasi Z. Mereka yang tumbuh di era serba cepat, serba terlihat, dan serba dibandingkan. Di usia 20-an, yang dulu dianggap sebagai fase eksplorasi, kini berubah menjadi periode penuh tekanan dan kecemasan.
Banyak anak muda hari ini tidak hanya menghadapi pertanyaan klasik seperti “mau jadi apa?”, tetapi juga dihantui oleh standar sosial yang terus bergerak. Di layar ponsel mereka, kesuksesan tampak datang lebih cepat: teman sebaya sudah bekerja di perusahaan ternama, memiliki bisnis sendiri, bahkan menikah dan membangun keluarga. Sementara itu, tidak sedikit yang masih berjuang mencari pekerjaan, berpindah-pindah karier, atau bahkan merasa kehilangan arah.
Sebut saja Dinda (25), seorang lulusan perguruan tinggi yang hingga kini masih bekerja freelance tanpa kepastian penghasilan tetap. Setiap hari ia mengaku merasa cemas saat membuka media sosial. “Rasanya seperti semua orang sudah tahu jalan hidupnya, kecuali aku. Aku capek membandingkan, tapi sulit berhenti,” ujarnya.
Psikolog menyebut kondisi ini sebagai kombinasi antara krisis identitas, tekanan sosial, dan kelelahan mental yang terakumulasi. Generasi Z hidup dalam eksposur informasi yang konstan, mereka tidak hanya menjalani hidup, tetapi juga terus-menerus “menyaksikan” hidup orang lain.
“Media sosial menciptakan ilusi bahwa hidup memiliki standar waktu yang pasti. Padahal, realitasnya sangat beragam,”. Ia menambahkan bahwa perbandingan sosial yang intens dapat memicu perasaan tidak cukup, bahkan ketika seseorang sebenarnya sedang berada dalam proses yang wajar.
Namun di tengah tekanan tersebut, mulai muncul kesadaran baru di kalangan anak muda: pentingnya berhenti sejenak dan menerima hal-hal yang tidak bisa dikendalikan. Pendekatan ini sering dikaitkan dengan konsep penerimaan takdir, bukan sebagai bentuk menyerah, melainkan sebagai cara untuk berdamai. Bagi sebagian Gen Z, penerimaan takdir hadir dalam bentuk sederhana: berhenti memaksakan diri untuk “sejalan” dengan orang lain, menerima bahwa kegagalan adalah bagian dari proses, dan memahami bahwa tidak semua rencana harus berjalan sesuai ekspektasi. “Sekarang aku masih belum tahu mau ke mana, tapi aku mulai belajar untuk tidak membenci diriku sendiri karena itu,” kata Dinda.
Fenomena ini juga mendorong munculnya ruang-ruang refleksi, baik dalam komunitas kecil, forum diskusi, maupun konten digital yang membahas kesehatan mental secara lebih terbuka. Anak muda mulai berbagi cerita, bukan lagi tentang pencapaian semata, tetapi juga tentang kegagalan, keraguan, dan proses pencarian jati diri. Para ahli menilai bahwa quarter life crisis tidak selalu menjadi tanda kegagalan. Justru, fase ini dapat menjadi titik penting dalam pembentukan identitas dan kedewasaan emosional seseorang.
Di tengah dunia yang terus bergerak cepat, mungkin yang paling dibutuhkan bukanlah jawaban instan, melainkan keberanian untuk tetap berjalan, meski pelan, meski belum pasti. Karena bagi sebagian orang, menerima takdir bukan berarti berhenti bermimpi, tetapi belajar bahwa hidup tidak selalu harus sesuai dengan rencana untuk tetap bermakna.
Referensi:
Allifah, S. A. P. (2025). Eksplorasi faktor-faktor penyebab quarter life crisis pada generasi Z di Indonesia. Consilia: Jurnal Ilmiah Bimbingan dan Konseling, 8(2), 9–16. https://doi.org/10.33369/consilia.8.2.9-16
Maharani, P. K. G. K., & Merida, S. C. (2025). Social comparison and quarter-life crisis in Generation Z: A study of Instagram users. Developmental and Clinical Psychology, 6(1). https://doi.org/10.15294/dcp.v6i1.31974
Setyowati, N. W., Saragih, S., & Prasetyo, Y. (2024). Self compassion dan dukungan sosial: Kunci mengatasi quarter life crisis Gen Z. JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia, 3(1). https://doi.org/10.30996/jiwa.v3i01.12719
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer










































































