perilaku self harm merupakan istilah Psikologi yang artinya perilaku seseorang melukai dirinya sendiri dengan melakukan berbagai macam cara tanpa memandang ada atau tidaknya tindakan bunuh diri (NICE, 2016). Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengungkapkan bahwa sekitar 20% remaja di seluruh dunia melakukan self harm sebagai upaya mengatasi rasa sakit emosional (Saputra et al., 2022).
Self harm ini juga merupakan perilaku seseorang yang sangat berpengaruh pada masalah kejiwaan yang ada pada dirinya, maka dari itu dalam kondisi yang parah dan kronis self harm bisa saja menggiring pelakunya untuk melakukan tindakan yang jauh lebih buruk. Hal ini tentunya akan sangat berbahaya yang membutuhkan perhatian dan penanganan yang serius. Seseorang rentan melakukan self harm seperti cutting karena Tujuan dari cutting tersebut sebagai salah satu cara mengurangi beban atau bahkan dianggap bisa menghilangkan tekanan yang dirasakan.
Apa itu stres dan bagaimana kerjanya?
stress dapat diartikan dengan respons yang dialami oleh tubuh ketika menghadapi tuntutan, tekanan, atau situasi yang dapat dianggap mengancam baik secara fisik maupun emosional. Menurut Sarafino & Smith (2011), Stres merupakan kondisi yang interaksi individu dengan lingkungannya yang menimbulkan ketidaksesuaian antara tuntutan bersumber dari biologis, psikologis, dan sosial.
Untuk kita bisa memahami stres mempengaruhi perilaku seseorang, termasuk perilaku melukai diri sendiri, perlu untuk mengenali beberapa jenis stres yang sering muncul dalam kehidupan kita sehari-hari. Terdapat stres akut dimana stres ini terjadi ketika kita dihadapkan pada situasi yang membahayakan, seperti mendapatkan komentar menyakitkan dari seseorang. Stres jenis ini biasanya berlangsung dalam jangka pendek, mudah ditangani, dan akan mereda dengan sendirinya jika pemicu stres sudah hilang. Berbeda dengan stres akut, terdapat stres kronis yang berlangsung dalam jangka panjang. seperti, memiliki tekanan akademik yang berkepanjangan sehingga bisa memicu untuk seseorang melakukan self harm seperti cutting / memotong kulit dengan benda tajam.
Ketika kita sedang mengalami stres berat, tubuh akan melepaskan berbagai hormon yang bisa mempengaruhi emosi dan perilaku. Proses ini diawali dari peningkatan kortisol, yaitu hormon utama yang mengatur respons tubuh terhadap stres. muncul ketika tekanan dalam diri kita berlangsung lama, seperti seseorang dituntut dalam hal akademik yang harus selalu unggul dalam setiap hal. Tingkatan hormon kortisol ketika semakin tinggi dapat membuat kita mudah cemas dan sulit untuk mengendalikan emosi yang ada didalam diri. Bersamaan dengan hormon kortisol, tubuh juga mengeluarkan adrenalin dan norepinefrin yang biasa disebut dengan hormon “fight-or-flight”, yaitu hormon yang meningkatkan detak jantung, tekanan darah, dan membuat pikiran kita terasa tidak stabil. Dalam kondisi ini, otak merespons stres yang ekstrem dengan melepaskan beta-endorfin, yaitu hormon pereda rasa sakit alami yang memberikan sensasi rasa lega untuk sesaat.
Bagaimana stres bisa memicu self harm?
Ketika kita mengalami tekanan emosional yang tinggi, tubuh kita akan merespons dengan Kadar kortisol yang semakin meningkat sehingga menyebabkan emosi semakin sulit dikendalikan. Dalam kondisi mental yang penuh tekanan, kita cenderung mencari cara mengatasinya dengan cepat dan instan untuk meredakan emosional tersebut, salah satunya dengan cutting / memotong kulit dengan benda tajam. Rasa sakit yang dialami ketika melakukan cutting memicu tubuh kita untuk melepaskan beta-endorfin.
Ilustrasi self harm, cutting ( sumber : shutterstock )
sebuah penelitian terhadap remaja di Inggris menemukan bahwa tindakan menyakiti diri sendiri secara berulang- ulang sangat terkait dengan gangguan kepribadian, depresi, penggunaan narkoba, dan masalah hubungan dengan teman sebaya atau keluarga, prestasi sekolah yang buruk, dan kesulitan psikososial serta perilaku yang kronis. Sebagai tambahan, pengalaman buruk masa kanak-kanak, termasuk pelecehan seksual dan/atau fisik, penelantaran, dan keterikatan emosional yang tidak stabil dengan pengasuh, serta faktor risiko utama yang perilaku ini (Uh,et al, 2021)
Alasan inilah yang menjadikan sebagian remaja memilih untuk melakukan tindakan cutting / melukai diri sendiri dengan memotong kulit dengan benda tajam. Perilaku cutting ini memicu pelepasan hormon endorfin yang memberikan rasa tenang sesaat dibandingkan tekanan emosional yang mereka rasakan sehingga banyak dari kalangan remaja melepaskan stres yang mereka alami dengan melakukan tindakan cutting.
Cara kita mengatasi perilaku cutting, perlu adanya dari dalam diri untuk bisa mengelola emosi melalui teknik journaling, grounding, atau mindfulness agar lebih mudah untuk mengatur stres yang terdapat dari dalam diri. Konsultasi dengan psikolog juga dapat membantu menemukan solusi yang lebih baik dan nyaman. Menurut data dari Kominfo bahwa terdapat 79,5% remaja di Indonesia yang menggunakan internet (Kominfo.go.id, 2022). Hal ini memberikan peluang besar terhadap pendekatan dalam mengatasi perilaku self-harm.
Stres yang kita tidak kelola dengan baik akan memicu perilaku cutting sebagai cara yang mudah untuk mengurangi tekanan emosional sehingga keduanya memiliki hubungan yang sangat erat. Pemahaman kita bagaimana stres bekerja dengan baik secara emosional maupun biologis menjadi poin penting bagi kita untuk mencegah self-harm dan membantu kalangan remaja menemukan cara yang lebih sehat dalam meghadapi masalah. Dengan meningkatkan kepedulian, kepekaan, dan dukungan dari lingkungan sekitar membantu kita merasa lebih aman untuk bercerita dan mencari bantuan sebelum rasa tertekan berkembang menjadi tindakan yang membahayakan diri.
Referensi
Faradiba, A. T., Syihab, A., Arsad, B. R., Sumarno, R., Prameswari, L. P., Aridin, I. P., … & Wiraputra, A. M. (2024). Cintadiri. Id: Pencegahan dan Penanganan Self-Harm Berbasis Sistem Informasi. Sarwahita, 21(03), 331-341.
Syifa, F. N., & Purwandari, E. (2024). Tinjauan Literatur: Stres Remaja. Jurnal Ilmiah Psikologi MIND SET, 15(02), 90-101.
https://ayosehat.kemkes.go.id/apa-itu-stres
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”




































































