Siaran Berita, Wonosobo, Jawa Tengah – Setiap tahun, langit di sejumlah kota di Jawa Tengah terutama wilayah Wonosobo, Temanggung, dan sekitarnya disulap menjadi hamparan kanvas raksasa yang penuh warna. Ribuan pasang mata menengadah ke atas, menyaksikan balon-balon udara beraneka rupa melayang bebas, membawa semangat tradisi dan kreativitas masyarakat lokal yang telah diwariskan lintas generasi. Fenomena budaya yang dikenal sebagai Festival Balon Udara ini menjadi penanda khas perayaan Idulfitri dan hari-hari besar lainnya, yang tidak hanya sarat nuansa religius dan sosial, tetapi juga berbalut kebanggaan komunitas.
Balon-balon tersebut tak lagi hanya berbentuk bundar sederhana. Dalam satu dekade terakhir, kompetisi antar-desa mendorong masyarakat untuk menciptakan balon dengan desain spektakuler mulai dari replika naga raksasa, tokoh kartun ternama, hingga simbol-simbol nasional berbagai negara. Proses pembuatannya pun bukan hal sepele. Butuh waktu berminggu-minggu, bahkan hingga berbulan-bulan, bagi para pemuda desa untuk menyusun konsep, menggalang dana, merancang kerangka, dan menyatukan lapisan-lapisan bahan seperti plastik tipis, kain parasut, dan bambu agar dapat membentuk struktur yang ringan namun tetap kokoh.
Festival ini telah berkembang menjadi ajang unjuk kebolehan seni dan teknik, dengan kriteria penilaian mulai dari estetika desain, ukuran balon, hingga durasi dan ketinggian terbang. Ribuan wisatawan lokal hingga mancanegara berdatangan setiap tahunnya. Mereka tak hanya menikmati pertunjukan visual di udara, tetapi juga menjadi bagian dari geliat ekonomi mikro: para pedagang makanan, pengrajin kerajinan, penyedia jasa parkir, hingga penginapan rakyat, merasakan lonjakan pendapatan signifikan selama festival berlangsung.
Namun, di tengah semarak warna dan keceriaan yang memenuhi langit, terselip realitas lain yang tak bisa dikesampingkan: ancaman keselamatan yang nyata. Sebagian besar balon udara dalam festival ini masih menggunakan sistem pembakaran terbuka, di mana api menyala di bagian dasar balon untuk menciptakan gaya angkat melalui panas. Praktik ini tidak hanya membahayakan pembuat dan penonton di darat, namun juga menimbulkan risiko besar ketika balon kehilangan kendali, melayang tak tentu arah, atau jatuh dalam keadaan masih menyala. Dalam sejumlah kasus, balon udara yang jatuh telah memicu kebakaran hutan dan lahan, menimbulkan korsleting listrik akibat tersangkut di jaringan transmisi milik PLN, hingga menyebabkan pemadaman skala besar. Bahkan, tidak sedikit laporan dari Direktorat Jenderal Perhubungan Udara terkait gangguan pada lalu lintas penerbangan akibat balon yang mencapai ketinggian tak terkendali.
Peringatan demi peringatan telah dikeluarkan oleh berbagai lembaga resmi, termasuk BMKG, Kementerian Perhubungan, dan PLN. Pemerintah daerah juga telah mengeluarkan regulasi pelarangan penerbangan balon secara bebas tanpa izin. Namun, tantangannya adalah menjaga keseimbangan antara pelestarian budaya dan perlindungan keselamatan publik. Salah satu solusi yang mulai dikembangkan dan diaplikasikan adalah konsep “festival balon tanpa api”, yakni menerbangkan balon menggunakan sistem tali penambat tanpa menggunakan sumber panas terbuka. Metode ini telah diterapkan secara terbatas di beberapa daerah, dan terbukti secara signifikan mengurangi risiko insiden kebakaran maupun gangguan infrastruktur.
Upaya edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat terus digalakkan melalui kerja sama lintas sektor: pemerintah, komunitas lokal, tokoh masyarakat, hingga pihak keamanan. Esensinya adalah agar semangat gotong-royong, keindahan budaya, dan kebanggaan lokal tidak harus mengorbankan keselamatan jiwa maupun kelestarian lingkungan.
Festival Balon Udara sejatinya adalah warisan budaya yang menggambarkan harmoni antara kreativitas dan kebersamaan. Namun, tanpa regulasi yang ketat dan kesadaran kolektif terhadap aspek keselamatan, keindahan yang tergantung di langit bisa berubah menjadi ancaman yang jatuh ke bumi.
===============
Ditulis oleh
Zahra Apriliana
Mahasiswi Universitas Islam Indonesia