Palembang, Siaranberita.com — Aksara Arab Melayu, salah satu peninggalan literasi Islam Nusantara yang nyaris terlupakan, kini kembali diperkenalkan ke masyarakat melalui kegiatan pengabdian mahasiswa. Sejumlah mahasiswi Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Fatah Palembang melakukan kegiatan KKN-PKM (Kuliah Kerja Nyata – Pengabdian kepada Masyarakat) dengan fokus pada pelestarian dan edukasi budaya Arab Melayu langsung di tengah masyarakat Kelurahan Bukit Sangkal, Palembang.
Berbekal semangat membumikan literasi Islam khas Melayu, para mahasiswi ini mengajak masyarakat—khususnya ibu-ibu rumah tangga, remaja, dan tokoh masyarakat—untuk mengenal dan memahami kembali aksara Arab Melayu. Dalam berbagai pertemuan informal dan kelas literasi sederhana yang diadakan di balai warga, mereka mengajarkan cara membaca, menulis, dan memahami sejarah Arab Melayu sebagai bagian dari identitas lokal.
Maya, salah satu mahasiswi pengabdian, mengungkapkan bahwa pendekatan budaya dianggap lebih efektif dalam menjalin kedekatan dengan warga. “Kami tidak hanya datang untuk mengajar, tapi ingin belajar bersama masyarakat. Arab Melayu adalah kekayaan kita bersama yang sayang kalau hilang begitu saja,” katanya. Kegiatan ini mendapat respons positif dari masyarakat setempat. Banyak warga mengaku baru pertama kali mendengar dan mempelajari Arab Melayu, meskipun aksara ini pernah menjadi bagian penting dalam surat-menyurat, kitab pengajian, dan dokumen kerajaan di masa lalu.
Ibu Salbiah (52), salah satu warga yang mengikuti pelatihan, mengaku terkesan dengan pendekatan para mahasiswa. “Saya pikir ini seperti tulisan Arab biasa, ternyata beda. Ini tulisan nenek moyang kita. Saya jadi ingin bisa nulis pakai Arab Melayu,” ujarnya. Selain pelatihan, mahasiswa juga membagikan modul sederhana yang berisi pengenalan aksara, panduan menulis, dan contoh-contoh teks Arab Melayu. Modul ini sengaja dibuat ringan agar mudah dipahami oleh warga dari berbagai usia dan latar pendidikan.
Tokoh masyarakat setempat, H. Amri, menyampaikan apresiasinya terhadap program KKN-PKM tersebut. “Kegiatan seperti ini jarang, padahal sangat penting. Arab Melayu adalah bagian dari sejarah kita. Kalau bukan anak muda yang lestarikan, siapa lagi?” katanya. Pengabdian ini tidak hanya memperkenalkan kembali satu bentuk aksara, tetapi juga membangkitkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga identitas budaya lokal yang islami dan inklusif.
Melalui kegiatan yang berlangsung selama beberapa pekan ini, terlihat jelas bahwa bahasa dan budaya bisa menjadi jembatan kolaborasi yang hangat antara kampus dan masyarakat. Para mahasiswi UIN Raden Fatah membuktikan bahwa pengabdian bukan sekadar datang dan pergi, tapi meninggalkan jejak nilai, kebersamaan, dan warisan budaya yang hidup kembali di tengah masyarakat.