Palembang, Siaranberita.com — Di tengah keberagaman agama dan budaya yang menjadi warna khas Indonesia, SMA Bina Cipta Bukit Sangkal Palembang menjadi salah satu contoh sekolah inklusif yang berhasil membangun lingkungan pendidikan yang nyaman dan toleran bagi semua siswa, termasuk mereka yang non-muslim.
Di sekolah ini, seluruh siswa mendapat kesempatan yang sama untuk mengikuti pelajaran dan kegiatan sekolah, termasuk mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Bahasa Arab yang menjadi bagian dari muatan lokal. Meskipun bukan pemeluk agama Islam, siswa non-muslim tetap dilibatkan dalam proses pembelajaran secara terbuka, tanpa paksaan dan dengan pendekatan yang ramah.
Salah satu siswa non-muslim yang duduk di bangku kelas XI mengaku bahwa awalnya ia merasa canggung mengikuti pelajaran yang penuh istilah keagamaan Islam, terutama ketika diperkenalkan dengan huruf hijaiyah. “Tapi lama-lama saya terbiasa. Apalagi gurunya sabar dan tidak membedakan,” ujarnya.
Ustadzah Kinkin, guru Pendidikan Agama Islam di SMA Bina Cipta, menekankan bahwa tujuan pembelajaran bukanlah untuk mengubah keyakinan siswa, melainkan mengenalkan budaya literasi Arab sebagai bagian dari pembentukan wawasan dan toleransi.
“Kami tidak mengajarkan dogma. Kami ajarkan dasar-dasar huruf hijaiyah sebagai pengantar bahasa Arab dan budaya Islam, bukan agama itu sendiri,” jelasnya.
Keberagaman latar belakang siswa di sekolah ini justru menjadi kekuatan yang memperkaya suasana belajar. Kepala SMA Bina Cipta, Ari Susilo, S.E., mengatakan bahwa pihak sekolah selalu berkomitmen menjaga iklim pendidikan yang sehat dan saling menghargai. “Kami bangga karena siswa-siswa kami tumbuh dalam lingkungan yang saling menghormati. Tidak ada diskriminasi. Justru dari sinilah nilai toleransi dibangun sejak dini,” ujarnya.
Dari hasil evaluasi pembelajaran, meskipun tidak semua siswa non-muslim menguasai materi secara penuh, mereka mampu menunjukkan keterbukaan dan antusiasme dalam mengikuti kelas. Guru-guru pun memberikan pendekatan yang fleksibel, fokus pada pengenalan budaya dan komunikasi, bukan pada aspek keimanan.
Pengalaman belajar siswa non-muslim di SMA Bina Cipta menjadi cermin bahwa pendidikan bukan hanya soal transfer ilmu, tetapi juga pembentukan karakter dan penguatan nilai kemanusiaan. Toleransi, empati, dan keterbukaan terhadap perbedaan menjadi nilai-nilai yang terus ditanamkan dalam setiap proses belajar-mengajar.
Dengan semangat inklusivitas yang terus dijaga, SMA Bina Cipta Palembang membuktikan bahwa keberagaman bukan hambatan, melainkan jembatan menuju pemahaman yang lebih luas tentang arti hidup bersama dalam damai.