Kisah Asal Muasal Adanya Kehidupan di Tana Luwu
Kerajaan Luwu terletak di bagian utara menurut I La Galigo,yang berada di tengah Kota Palopo salah satu kerajaan tertua dan terbesar di Sulawesi Selatan.
Andi Sulolipu Sulthani Opu To Panandrang , Opu KENNI Dapo-Dapo Koordinator Ritual Adat Kedatuan Luwu bercerita tentang dimulainya kisah asal muasal adanya kehidupan di Tana Luwu.
Dengan ditandai turunnya manusia pertama yang bernama Batara Guru yang diercaya sebagai keturunan dewa. Awalnya, dunia tengah atau Lino adalah tempat kosong yang belum dihuni manusia. Untuk mengatur Lino dan menjadikan tempat yang tertib,To Patoto’E mengutus anak lelaki tertuanya yaitu Batara Guru untuk turun kedunia tengah sebagai penguasa pertama. Batara Guru di yakini turun dengan membawa anugerah ilahi berupa kebijaksanaan dan kemampuan untuk memimpin.
Ketika Batara Guru di turunkan ke dunia tengah,salah seorang putri tertua dari penguasa dunia bawah atau biasa disebut dengan nama puritri guru ri selleng atau TodangToja,mengutus anak perempuannya yang bernama We Nyili Timo untuk menjadi permaisuri Batara Guru. Dari pernikahan inilah melahirkan keturunan yang menjadi penguasa-penguasa berikutnya di Kerajaan Luwu. Keturunannya dianggap memiliki darah ilahi, yang memberi legistimasi kepada para raja untuk memerintah.
Kerajaan Luwu sebagai salah satu kerajaan tertua di Sulawesi Selatan,yang mengalami beberapa fase. Fase pertama era mitologi, era sebelum mengenal Masehi,dan fase kedua adalah era setelah mengenal tahun masehi yang di awali dengan munculnya fase Manurung.
Di luwu dikenal dengan era Manurung Simpurusiang, ialah raja pertama di Kedatuan Luwu setelah mengenal tahun Masehi yang di awali dengan berakhirnya fase sianribale atau masa kekosongan.
Kerajaan Luwu dipimpin oleh seorang Raja atau Ratu yang disebut Datu Luwu di Istana Kedatuan Luwu. Beberapa ahli sejara mengatakan bahwa sejarah klasik Kedatuan Luwu terdiri atas dua periode yaitu Periode La Galigo dan Periode Lontra’, kemudian diikuti dengan periode Islam.
Wija To Luwu
Salama’ Ki To Pada Salama’