Funko Pop, Lego edisi terbatas, hingga photocard idol K-Pop kini bukan sekadar hobi, tetapi fenomena budaya baru. Semakin banyak anak muda yang rela menghabiskan waktu, tenaga, bahkan uang demi melengkapi koleksi mereka. Namun, apakah hobi ini bisa dilihat sebagai bentuk investasi serius, atau sekadar cara bernostalgia dengan kesenangan pribadi?
Koleksi sebagai Identitas dan Kenangan
Bagi sebagian orang, koleksi adalah bentuk ekspresi diri. Setiap barang yang dimiliki menyimpan cerita, entah tentang masa kecil, fandom tertentu, atau momen spesial dalam hidup. Koleksi memberi rasa kepemilikan yang unik—sebuah kebahagiaan emosional yang sulit diukur dengan uang.
Nostalgia menjadi daya tarik utama. Lego atau mainan jadul, misalnya, membangkitkan kenangan masa kecil yang hangat. Photocard idol menghadirkan kedekatan simbolis dengan sosok yang dikagumi. Hobi ini membuat orang merasa lebih dekat dengan identitas dan komunitasnya.
Dari Hobi ke Investasi
Namun, koleksi bukan hanya soal emosi. Dalam beberapa kasus, barang koleksi justru menjadi aset berharga. Funko Pop edisi langka atau Lego seri terbatas bisa dijual kembali dengan harga berkali lipat. Begitu pula dengan photocard idol tertentu yang harganya melonjak karena kelangkaan.
Inilah yang membuat hobi koleksi kian dipandang sebagai peluang investasi alternatif. Pasarnya jelas, komunitasnya besar, dan nilainya bisa meningkat seiring waktu.
Risiko Konsumtif dan Bubble Koleksi
Meski berpotensi menguntungkan, koleksi juga bisa menjerumuskan pada pola konsumtif. Tidak sedikit yang terjebak membeli barang demi gengsi atau tekanan komunitas, padahal tidak benar-benar menikmatinya.
Selain itu, nilai koleksi sangat dipengaruhi tren. Apa yang laku keras hari ini bisa kehilangan peminat besok. Risiko “bubble” atau penurunan nilai tiba-tiba selalu menghantui pasar koleksi.
Kesimpulan
Hobi koleksi barang unik adalah dunia dua sisi. Di satu sisi, ia memberi kepuasan emosional, menghadirkan nostalgia, dan membentuk identitas. Di sisi lain, ia juga bisa menjadi peluang investasi jika dikelola dengan bijak.
Kuncinya adalah keseimbangan. Koleksi sebaiknya dinikmati sebagai hobi yang menyenangkan, bukan semata-mata ajang spekulasi. Karena pada akhirnya, nilai sejati dari sebuah koleksi bukan hanya di angka rupiahnya, tetapi pada makna dan cerita yang tersimpan di baliknya.
Penulis: Enjelin Amanda Dewi
Sumber gambar: canva.com