PULO AMPEL, SIARAN-BERITA – Suasana malam Minggu di Kampung Gondara, Kelurahan Pulo Ampel, Kecamatan Pulo Ampel, terasa berbeda dari biasanya. Alunan musik kendang dan gemerincing kecrek berpadu dengan teriakan semangat para pesilat. Di tengah-tengah mereka, terlihat wajah-wajah baru yang penuh antusiasme, mereka adalah mahasiswa Kelompok 84 Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Universitas Bina Bangsa (UNIBA).
Setiap malam Minggu, para mahasiswa ini secara rutin mengikuti kegiatan latihan Pencak Silat Bandrong, sebuah aliran silat khas Banten yang kaya akan nilai sejarah dan budaya. Kegiatan ini menjadi salah satu program unggulan mereka untuk berbaur dan mendekatkan diri dengan masyarakat setempat.
Kegiatan yang berpusat di sebuah padepokan lokal bernama “Bandrong Pulo Kali” ini menjadi wadah interaksi budaya antara mahasiswa dan masyarakat. Nama “Pulo Kali” sendiri memiliki nilai historis yang kental dalam dunia persilatan Bandrong, merujuk pada salah satu pusat penyebaran ilmu silat ini di masa lampau.
Koordinator Bidang Sosial Budaya kelompok KKM 84, Sefia Darmayanti, menyatakan bahwa keikutsertaan mereka bukan sekadar untuk mengisi waktu luang. “Ini adalah cara kami untuk belajar dan menghargai kearifan lokal. Bandrong bukan hanya seni bela diri, tapi juga warisan budaya yang harus kita lestarikan bersama,” ujarnya di sela-sela latihan pada Sabtu malam (02/08/2025).
Para mahasiswa mengaku awalnya merasa canggung dengan gerakan-gerakan silat yang bertenaga dan cepat. Namun, berkat bimbingan sabar dari para pelatih dan sambutan hangat warga, mereka kini mulai menikmati dan bahkan menguasai beberapa jurus dasar.
“Awalnya badan pegal semua, tapi melihat semangat Bapak-bapak dan pemuda di sini, kami jadi termotivasi. Ini pengalaman yang tidak akan kami dapatkan di bangku kuliah,” tutur salah seorang mahasiswi, Sulistiyowati, sambil menyeka keringat.
Kegiatan ini mendapat apresiasi penuh dari Abah Ahmad Siroja, sesepuh sekaligus guru besar Padepokan Pencak Silat Bandrong Pulo Kali. Menurutnya, kehadiran para mahasiswa membawa angin segar dan semangat baru bagi pelestarian Bandrong di kalangan anak muda.
“Saya bangga melihat anak-anak mahasiswa mau ikut ‘kotor-kotoran’ dan berkeringat bersama kami. Ini menunjukkan bahwa generasi muda masih peduli dengan budayanya. Semoga ini bisa menjadi contoh bagi pemuda lainnya,” ungkap Abah Ahmad Siroja.
Partisipasi aktif mahasiswa KKM 84 UNIBA dalam kegiatan Pencak Silat Bandrong ini menjadi bukti nyata bahwa program KKM tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik, tetapi juga pada penguatan ikatan sosial dan pelestarian budaya. Sinergi antara kaum intelektual dan masyarakat lokal diharapkan dapat menjaga warisan budaya tak benda ini agar tidak tergerus oleh zaman.