Tawangsari, 9 Agustus 2025 – Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang tergabung dalam program Pengabdian Masyarakat Mahasiswa (PMM) melakukan survei ke warga Desa Tawangsari sebelum menggelar kegiatan sosialisasi. Dari pertemuan awal, pihak desa menyampaikan bahwa masalah utama bukan hanya banyaknya sampah, tetapi juga cara pengelolaannya yang belum optimal.
Sosialisasi yang berlangsung di Balai Desa Tawangsari pada Sabtu siang ini mengangkat tema “Bahaya Sampah dan Penerapan Prinsip 3R (Recycle, Reuse, Reduce)”. Materi dimulai dengan gambaran krisis sampah di Bantargebang yang setiap hari menerima lebih dari 7.000 ton sampah. Kondisi ini menjadi pengingat bahwa persoalan sampah tidak hanya soal jumlahnya yang terus bertambah, tetapi juga akibat yang ditimbulkan: sampah tidak dipilah, banjir semakin parah, suhu makin panas, pembuangan dan pembakaran sembarangan, hingga udara yang semakin kotor.
Dalam sesi tanya jawab, pemateri mengajukan pertanyaan, “Sampah ini salah siapa? Apakah pemerintah, petugas, atau masyarakat?” Warga yang hadir serempak menjawab, “Masyarakat.” Pemateri menegaskan, meskipun ada banyak pihak yang terlibat, kebiasaan sehari-hari setiap orang juga memberi kontribusi besar terhadap masalah sampah.
Materi kemudian membahas kebiasaan yang memperparah masalah, seperti belanja online berlebihan yang menghasilkan banyak kemasan sekali pakai, tren fast fashion yang membuat baju cepat dibuang, membuang popok, pembalut, dan botol plastik menjadi satu tanpa dipilah, hingga ucapan sepele seperti “Cuma satu plastik, kok…” yang jika dilakukan jutaan orang akan berdampak besar.
Akibatnya, lingkungan mengalami berbagai kerusakan mulai dari pencemaran udara, air, hingga meningkatnya risiko banjir. Untuk mengatasinya, warga diperkenalkan pada prinsip 3R: reduce (mengurangi barang sekali pakai), reuse (menggunakan kembali barang yang masih layak), dan recycle (mendaur ulang sampah menjadi barang berguna). Langkah sederhana yang bisa dimulai dari rumah antara lain memisahkan sampah organik dan anorganik, membuat kompos dari sisa makanan, membawa tas belanja sendiri, dan menolak plastik tambahan.
Salah satu warga mengaku kegiatan ini membuatnya lebih peka terhadap kebiasaan pribadi. “Selama ini saya pikir satu kantong plastik tidak masalah, ternyata kalau semua orang mikir begitu, jumlahnya jadi banyak sekali,” ucapnya. Acara diakhiri dengan sesi tanya jawab. Mahasiswa PMM berharap warga dapat menerapkan kebiasaan baru ini secara konsisten agar lingkungan desa lebih bersih dan sehat.