Adrenaline rush adalah ledakan hormon adrenalin saat seseorang berada dalam kondisi menegangkan, atau beresiko kehilangan nyawa. Yang berdampak pada jantung berdebar cepat, fokus meningkat, rasa takut berubah menjadi keberanian. Saat otak merasa situasi sebagai ancaman hidup dan mati, otak mengeluarkan sinyal pada tubuh untuk bergerak dan melampaui batas diri.
Dalam hitungan detik, tubuh manusia berubah, Jantung berdegup cepat, napas pendek, pikiran mengerucut pada satu tujuan yaitu bertahan hidup. Seperti halnya yang terjadi saat banjir bandang di Sumatera, di Tengah banjir bandang, kita sering melihat pemandangan yang terasa mustahil. Otak tidak memberi ruang untuk ragu. Rasa sakit ditekan, rasa takut dipinggirkan. Fokus menjadi tajam dan tubuh melakukan hal-hal yang diluar kebiasaan normal.
Ilmuwan menjelaskan bahwa ini adalah respons otomatis otak kita. Ketika otak merasa ada ancaman hidup-mati, ia langsung mengirim sinyal ke kelenjar adrenal untuk melepaskan hormon adrenalin. Hormon ini mempersiapkan tubuh untuk bertarung atau lari daribahaya.
Walter Bradford Cannon, seorang fisiolog terkemuka asal Amerika Serikat dari Harvard Medical School. Dialah yang pertama kali mengonseptualisasikan dan mempopulerkan istilah “fight or flight” dalam karya ilmiahnya pada tahun 1915.
Cannon mengamati bahwa saat hewan (dan kemudian manusia) menghadapi ancaman, tubuh mereka menunjukkan serangkaian reaksi fisiologis yang terkoordinasi dengan sempurna untuk mempersiapkan diri menghadapi ancaman fisik (fight) atau melarikan diri(flight).
MENGAPA HAL INI BISA TERJADI?
1. Energi Instan untuk Otot: Adrenalin menyebabkan hati melepaskan gula darah ekstra sebagai bahan bakar darurat untuk otot. Ini yang memberi “tenaga dadakan”. Menurut Journal of Endocrinology, hormonini meningkatkan kekuatan otot secara signifikanu ntuk waktu singkat.
2. Fokus seperti Terowongan (Tunnel Vision): Otak mematikan semua pikiran yang tidak penting. Dalam bencana, Anda tidak akan memikirkan pekerjaan atau tagihan. Pikiran hanya satu: selamat. Ini yang membuat fokus tubuh meningkat dan tidak menghiraukan resiko apapun didepan mata.
3. Pereda Rasa Sakit Alami: Tubuh juga melepaskan endorfin (penghilang rasa sakit alami). Korban banjir sering kali baru menyadari luka lecet atau terkilir setelah sampai di tempat aman. Ini membantu mereka terus bergerak meski cedera.
4. Memori yang Berubah: Banyak penyintas mengaku”kehilangan detil” atau merasa waktu berjalan lambat. Ini karena otak dalam mode tinggi sedang merekam dan memproses informasi dengan cara yang berbeda. Sumber dari American Psychological Association menyebutkan, memori dalam situasi traumatis seringkali sangat jelas untuk hal inti, tetapi kabur untuk detil sekitarnya.
Mekanisme adrenaline rush
Bayangkan di tubuh kita ada “stasiun kendali darurat” bernama hipotalamus (di otak). Saat merasa terancam, stasiun ini langsung mengaktifkan sistem alarm tubuh (sistem saraf simpatik) yang memberi sinyal: “Bahaya! Siapkan tenaga!” ke kelenjar adrenalin. Proses ini terjadi dalam sekejap, seperti menekan tombol darurat.
Setelah bahaya berlalu, tubuh bisa “turun mesin”: kita sering gemetar, lelah sekali, atau merasa kosong. Ini normal, tubuh butuh pemulihan setelah bekerja keras.
Adrenaline rush bisa terjadi dalam keseharian, contohnyasaat hampir tertabrak motor, kita refleks menghindar atau melompat.
Dampak negatif dari Adrenaline rush :
1. Bisa salah ambil keputusan: Karena terlalu fokus pada satu hal, kita mungkin lupa opsi lain yang lebih aman. Contoh: saat kebakaran, seseorang malah lari ke lantai atas karena panik.
2. Bukan cuma “lawan atau lari”: Beberapa orang justru membeku (freeze) seperti rusa terkena lampu mobil. Ini juga respons alami saat otak merasa tidak mungkin melawan atau kabur.
3. Bahaya untuk yang punya penyakit jantung: Ledakan adrenalin bisa membebani jantung. Itu sebabnya berita mengejutkan kadang memicu serangan jantung pada orang yang sudah rentan.
Kesimpulannya, Adrenaline rush adalah sistem survival warisan nenek moyang yang masih melekat pada kita. Ia bisa jadi “superpower” sesaat, tapi juga bisa berisiko. Dengan memahami cara kerjanya, kita bisa lebih menghargai tubuh sendiri dan belajar mengelola responsnya dalam kehidupan modern.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”










































































