Sekarang, pembelajaran tidak hanya terjadi di dalam kelas, di mana seseorang harus duduk dan mendengarkan guru untuk memahami materi. Ada AI atau ChatGPT yang dapat menjawab pertanyaan dalam beberapa menit, dan bahkan detik, serta menjelaskan topik dengan ilustrasi yang berguna. Ada survei dari Kemdiknas pada tahun 2024, yang menyatakan bahwa 60% siswa SMA saat ini lebih memilih bertanya kepada AI daripada guru mereka. Ini telah memicu perdebatan tentang AI versus guru. Apakah guru akan menjadi usang? Atau dengan adanya AI, guru dapat berkolaborasi untuk mencapai tujuan pendidikan dengan lebih efektif? Makalah ini akan membahas pentingnya menemukan nilai sebenarnya dari pembelajaran di tengah kemajuan teknologi.
Dari seabad yang lalu orang berpendapat membaca buku tebal ini adalah hal yang buruk, tetapi tidak saat ini. Hal ini disebabkan karena sudah ada AI (Kecerdasan Buatan) yang dapat menuliskan dan menjawab buku secara instan. Pembelajar tidak memiliki proses atau hal keliru, dan ini seharusnya tidak ada, karena masih ada banyak hal yang dapat dipelajari. Hasil tes PISA tahun 2022 menunjukkan Indonesia memiliki fasilitas dan gedung yang megah, tetapi hal ini tidak berbanding lurus dengan kreativitas yang dimiliki, dan ini sejatinya perubahan yang sangat mendasar. Efek pengganda juga sangat besar, karena perubahan dasar ini berisi kekurangan teknologi, dan harapannya adalah mengedepankan pembelajaran. Tanpa membahas lebih lanjut ini adalah sebuah birokrasi dan tidak ada makna yang besar, dan di sisi lain tidak ada hal yang negatif juga.
Ada teori dari Vygotsky yang tepat untuk ini. Dia menyatakan bahwa pengetahuan dibangun dari interaksi dengan orang lain, bukan dari hapalan. Di sini, peran guru menjadi pendamping yang bisa mengarahkan kita untuk dapat mengoptimalkan potensi kita dengan pendekatan personal. Lalu, AI? Hanya memberikan jawaban semata tanpa memberikan dukungan psikologis dan diferensiasi yang diperlukan untuk masing-masing siswa.
Selanjutnya ada juga teori dari taksonomi bloom oleh benjamin bloom yang mengurutkan dari yang paling awal suatu proses pembelajaran di tahap, mengingat, sampai yang ujung paling atas itu menciptakan. AI sangat diuntungkan di level yang dasar, seperti, menghapal fakta. Namun yang di highlight seperti level yang atas itu sangat dibutuhkan peran guru, analisis, evaluasi, dan kreasi, misalnya melalui diskusi kelas yang bisa sangat kaya dengan ide-ide. Pada Journal of Educational Psychology tahun 2023, mengungkapkan bahwa siswa yang pembelajarannya didampingi guru, kreatifitasnya 40% lebih tinggi daripada yang pembelajaran dengan AI saja.
Sebelum bertentangan dengan peran sebagai seorang guru, AI sebaiknya disandingkan dengan guru. Pertama, para guru harus dilatih menggunakan AI sebagai pendamping instruktur. Contohnya, AI menyiapkan bahan pengajaran pada tahap awal, kemudian instruktur menuntun diskusi pada tahap pengajaran selanjutnya. Kedua, kita dapat mencoba dengan sistem ”AI + Human” di mana para siswa diharuskan mendalami jawaban AI dan mendiskusikannya pada kelas, seperti yang diajukan oleh Vygotsky. Ketiga, seharusnya ada penambahan modul ”Literasi Digital + Berpikir Kritis” dalam pembelajaran yang disusun dengan merujuk pada Teori Bloom, contohnya pada pengajaran akhir AI dapat membantu siswa dalam melakukan riset, sedangkan pendidik menilai pada pengajaran yang kreatif.
Finlandia sudah berhasil menerapkan model pembelajaran seperti ini. Guru-guru menggunakan AI, tetapi yang mengatur kelas adalah guru. Hasilnya, Finlandia menduduki peringkat tinggi di PISA. Di Indonesia, sudah ada beberapa sekolah yang mencoba menggunakan AI, seperti salah satu SMK di Jakarta. Hasilnya, meningkat 30% tingkat keterlibatan siswa. Dengan cara ini siswa tidak hanya mendapatkan jawaban, tetapi dapat mempelajari, berkreasi dan mengembangkan diri.
Oleh: Falaqiah, Mahasiswi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Pamulang
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”









































































