Tahun Baru Masehi merupakan penanda pergantian waktu yang dirayakan oleh banyak masyarakat di berbagai belahan dunia. Di Indonesia, momen ini kerap diwarnai dengan beragam tradisi seperti pesta kembang api, konser hiburan, kumpul bersama teman, hingga hitung mundur menjelang tengah malam. Fenomena ini menjadi bagian dari budaya modern yang terus berkembang. Namun, bagaimana Islam memandang Tahun Baru Masehi dan tradisi yang mengiringinya?
Dalam perspektif Islam, pergantian tahun pada dasarnya adalah peristiwa alamiah yaitu waktu terus berjalan sesuai dengan sunnatullah. Islam tidak menetapkan Tahun Baru Masehi sebagai hari raya keagamaan, karena umat Islam memiliki kalender sendiri, yaitu kalender Hijriyah, yang dimulai dari peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah. Meski demikian, Islam tidak melarang umatnya untuk menyadari dan memaknai pergantian waktu, selama tidak bertentangan dengan nilai-nilai syariat.
Islam memandang waktu sebagai amanah yang sangat berharga. Allah SWT bersumpah atas nama waktu dalam Al-Qur’an, sebagaimana dalam Surah Al-‘Ashr, yang menegaskan bahwa manusia berada dalam kerugian kecuali mereka yang beriman, beramal saleh, serta saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran. Oleh karena itu, pergantian tahun termasuk Tahun Baru Masehi dapat dijadikan momentum muhasabah, yakni introspeksi diri atas apa yang telah dilakukan dan perencanaan amal kebaikan di masa depan.
Tradisi perayaan Tahun Baru yang berkembang saat ini perlu disikapi dengan bijak. Islam mendorong umatnya untuk menjauhi hal-hal yang mengandung maksiat, pemborosan, hura-hura berlebihan, atau aktivitas yang melalaikan dari mengingat Allah. Rasulullah SAW mencontohkan kehidupan yang sederhana dan penuh makna, bukan euforia sesaat yang berakhir tanpa nilai.
Sebaliknya, Islam menawarkan alternatif yang lebih bermakna dalam menyambut pergantian tahun, seperti memperbanyak dzikir, doa, membaca Al-Qur’an, menghadiri majelis ilmu, atau berkumpul bersama keluarga dalam suasana yang positif. Bahkan, memperbaiki niat, memperbarui komitmen ibadah, dan menetapkan target amal saleh untuk tahun yang akan datang merupakan bentuk perayaan waktu yang sejalan dengan ajaran Islam.
Dengan demikian, Tahun Baru Masehi tidak harus dimaknai sebagai perayaan besar, tetapi dapat dijadikan titik refleksi spiritual dan sosial. Umat Islam dituntut untuk cerdas dalam menyikapi tradisi yang berkembang, mengambil nilai positifnya, dan meninggalkan hal-hal yang tidak sejalan dengan ajaran Islam. Pada akhirnya, yang terpenting bukanlah bagaimana kita merayakan pergantian tahun, tetapi bagaimana kita mengisi waktu yang terus berjalan dengan iman, amal, dan kebermanfaatan bagi sesama.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”








































































