Hubungan romantis memiliki peran penting dalam setiap kehidupan psikologis individu, khususnya sebagai sumber dukungan emosional dan pengatur regulasi perasaan. Keberadaan pasangan sering membantu individu mengelola stres, membangun makna relasional, serta menjaga kestabilan emosi. Ketika hubungan tersebut berakhir, individu tidak hanya kehilangan pasangan, tetapi juga kehilangan figur emosional yang selama ini berkontribusi terhadap keseimbangan psikologis. Oleh karena itu, putus cinta dapat dipahami sebagai stresor interpersonal yang berdampak nyata terhadap kondisi psikologis individu.
Berbagai temuan empiris menunjukkan bahwa putus cinta berkaitan dengan meningkatnya distress psikologis, seperti kesedihan mendalam, kecemasan, serta penurunan fungsi kognitif dan sosial. Dampak ini pada sebagian individu dapat berlangsung dalam jangka waktu yang cukup panjang, terutama ketika proses penyesuaian diri diwarnai oleh kebiasaan mengulang-ulang pikiran tentang hubungan yang telah berakhir.
Dengan demikian, kesedihan dan ketidaknyamanan emosional setelah putus cinta bukanlah indikator kelemahan psikologis, melainkan bagian dari proses adaptasi yang wajar terhadap kehilangan relasi yang bermakna. Pertanyaan yang menjadi lebih relevan bukanlah apakah individu merasa sedih, melainkan bagaimana pengalaman tersebut dikelola agar tidak berkembang menjadi distress psikologis yang berkepanjangan.
𝗣𝘂𝘁𝘂𝘀 𝗖𝗶𝗻𝘁𝗮 𝘀𝗲𝗯𝗮𝗴𝗮𝗶 𝗦𝘂𝗺𝗯𝗲𝗿 𝗗𝗶𝘀𝘁𝗿𝗲𝘀𝘀 𝗣𝘀𝗶𝗸𝗼𝗹𝗼𝗴𝗶𝘀
Putus cinta merupakan peristiwa relasional yang dapat memicu distress psikologis secara signifikan. Distress ini mencakup tekanan emosional negatif, seperti kesedihan, kecemasan, serta gangguan fungsi sosial dan kognitif.
Perbedaan respons terhadap putus cinta dipengaruhi oleh pola kelekatan. Individu dengan pola kelekatan tidak aman cenderung mengalami tingkat depresi dan kecemasan yang lebih tinggi dibandingkan individu dengan pola kelekatan aman. Selain itu, putus cinta juga dapat dipahami sebagai bentuk kehilangan relasional yang berdampak pada identitas dan harapan masa depan individu, sehingga memicu respons emosional yang menyerupai proses berduka.
𝗗𝗮𝗺𝗽𝗮𝗸 𝗞𝗼𝗴𝗻𝗶𝘁𝗶𝗳, 𝗔𝗳𝗲𝗸𝘁𝗶𝗳, 𝗱𝗮𝗻 𝗡𝗲𝘂𝗿𝗼𝗯𝗶𝗼𝗹𝗼𝗴𝗶𝘀 𝗣𝗮𝘀𝗰𝗮 𝗣𝘂𝘁𝘂𝘀 𝗖𝗶𝗻𝘁𝗮
Putus cinta tidak hanya berdampak pada emosi, tetapi juga memengaruhi cara berpikir dan keseimbangan biologis dalam tubuh. Hubungan romantis berkaitan dengan sistem penghargaan otak yang melibatkan hormon seperti dopamin, oksitosin, dan estrogen.
Dopamin berperan dalam menimbulkan rasa senang dan motivasi. Ketika hubungan berakhir, sumber rangsangan dopamin tersebut terputus secara tiba-tiba, sehingga individu dapat mengalami penurunan suasana hati dan kehilangan motivasi. Oksitosin berperan dalam membentuk rasa aman dan keterikatan emosional. Penurunan oksitosin setelah putus cinta sering berkaitan dengan perasaan hampa dan kesepian. Estrogen turut berperan dalam pengaturan suasana hati, terutama pada perempuan, sehingga perubahan keseimbangannya dapat memperkuat respons emosional negatif.
Perubahan emosional ini sering diperparah oleh ruminasi, yaitu kebiasaan mengulang-ulang pikiran tentang hubungan yang telah berakhir. Interaksi antara perubahan hormon dan proses berpikir tersebut menjelaskan mengapa putus cinta sering dirasakan secara intens dan membutuhkan waktu untuk pulih.
𝗖𝗼𝗽𝗶𝗻𝗴 𝗠𝗲𝗰𝗵𝗮𝗻𝗶𝘀𝗺 𝗣𝗮𝘀𝗰𝗮 𝗣𝘂𝘁𝘂𝘀 𝗖𝗶𝗻𝘁𝗮
Mekanisme koping merujuk pada cara individu mengelola tekanan emosional setelah putus cinta. Penelitian menunjukkan adanya perbedaan antara koping adaptif dan koping maladaptif.
Dalam kehidupan sehari-hari, koping adaptif dapat muncul melalui berbagai aktivitas, seperti mendengarkan musik, berolahraga, menjalankan ibadah, menjaga rutinitas, serta mempertahankan hubungan sosial yang suportif. Aktivitas-aktivitas tersebut membantu menstabilkan emosi dan mengurangi ruminasi berlebihan, meskipun tidak menghilangkan kesedihan secara instan.
Sebaliknya, koping maladaptif, seperti menarik diri secara berlebihan atau menyalahkan diri sendiri, cenderung mempertahankan tekanan emosional dan menghambat proses penyesuaian diri.
𝗞𝗲𝘀𝗶𝗺𝗽𝘂𝗹𝗮𝗻
Putus cinta merupakan peristiwa psikologis yang berdampak signifikan terhadap kondisi emosional, kognitif, dan biologis individu. Distress pasca putus cinta dipengaruhi oleh pola kelekatan, kecenderungan ruminasi, serta perubahan keseimbangan hormon yang berperan dalam rasa senang dan keterikatan emosional.
Kesedihan setelah putus cinta merupakan respons yang wajar, namun arah pemulihan sangat ditentukan oleh cara individu mengelola pengalaman tersebut. Mekanisme koping adaptif berperan penting dalam membantu individu menyesuaikan diri dan memulihkan kesejahteraan psikologis secara bertahap.
𝗠𝗲𝘁𝗼𝗱𝗲 𝗣𝗲𝗻𝘂𝗹𝗶𝘀𝗮𝗻
Artikel ini disusun menggunakan metode studi literatur dengan menelaah jurnal psikologi, buku akademik, serta publikasi ilmiah yang relevan dengan topik putus cinta dan dampaknya terhadap kondisi psikologis individu. Sumber yang digunakan berasal dari publikasi lima tahun terakhir dan dipilih berdasarkan relevansinya dengan pembahasan mengenai distress psikologis, proses kognitif, perubahan biologis, serta mekanisme koping setelah putus cinta. Seluruh data yang digunakan merupakan sumber sekunder.
𝗗𝗮𝗳𝘁𝗮𝗿 𝗣𝘂𝘀𝘁𝗮𝗸𝗮
Adikusumah, R. M. R. (2023). How emerging adults deal with romantic breakups. Insight: Jurnal Ilmiah Psikologi, 25(2), 123–135.
Gehl, K., Lavy, S., & Mikulincer, M. (2024). Attachment and breakup distress: The mediating role of coping strategies. Clinical Psychological Science, 12(1), 45–61.
Mancone, S., Rossi, A., & Marchetti, I. (2025). The role of rumination and coping mechanisms in life impact after romantic breakup. Frontiers in Psychiatry, 16.
Yue, X., Li, Y., Zhang, H., & Chen, S. (2025). The roles of self-concept clarity, resilience, and self-esteem in adjustment following romantic breakup. Journal of Social and Personal Relationships, 42(3), 567–584.
American Psychological Association. (n.d.). Breakups aren’t all bad: Coping strategies and positive outcomes.
𝗧𝗲𝗻𝘁𝗮𝗻𝗴 𝗣𝗲𝗻𝘂𝗹𝗶𝘀
Ibra Haidar Mustofa merupakan mahasiswa Psikologi Universitas Negeri Semarang yang memiliki ketertarikan pada kajian psikologi relasi, kesehatan mental, serta dinamika emosi dalam hubungan interpersonal. Tulisan ini disusun berdasarkan kajian literatur ilmiah dan analisis psikologis, bukan pengalaman personal penulis.
𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗧𝗲𝗿𝗯𝘂𝗸𝗮
Tulisan ini disusun melalui pendekatan studi literatur dan terbuka terhadap kritik serta masukan untuk memperkaya diskusi pemahaman mengenai tema yang dibahas dan dapat anda sampaikan melalui alamat dibawah ini.
Artikel ini ditulis oleh Ibra Haidar Mustofa, mahasiswa Psikologi Universitas Negeri Semarang, yang membahas fenomena putus cinta sebagai stresor interpersonal dari perspektif psikologi melalui pendekatan studi literatur.
Instagram: https://www.instagram.com/ibrahaidarmustofa_/
Email: hayydar2018@gmail.com
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”








































































