Bahasa Jepang memiliki beberapa bentuk kata dan ungkapan yang berbeda tergantung pada gender pembicara. Penggunaan ragam bahasa yang sesuai dengan gender bisa sangat memengaruhi nuansa percakapan dan keformalan. Berikut adalah contoh perbedaan ragam bahasa Jepang berdasarkan gender:
1. Kata Ganti Diri
- Pria:
- Aku (僕, boku): Bentuk yang lebih sopan, sering digunakan oleh pria dalam percakapan sehari-hari.
- Saya (俺, ore): Lebih informal dan maskulin, sering digunakan dalam situasi santai di antara teman dekat atau dalam konteks yang lebih kasual.
- Wanita:
- Saya (私, watashi): Bentuk yang paling netral dan digunakan oleh wanita dalam percakapan formal atau sopan.
- Aku (あたし, atashi): Bentuk yang lebih santai, sering dipakai oleh wanita dalam percakapan sehari-hari dengan teman-teman dekat.
2. Akhiran Nama
- Pria:
- Pria sering menggunakan akhiran seperti –さん (-san) atau –君 (-kun) (terutama untuk teman atau orang lebih muda).
- Wanita:
- Wanita lebih cenderung menggunakan –さん (-san) dalam situasi formal. Mereka juga bisa menggunakan –ちゃん (-chan) untuk orang yang lebih dekat atau lebih muda.
3. Kata Kerja dan Partikel
- Pria:
- Pria sering menggunakan bentuk kata kerja yang lebih langsung atau kasar dalam situasi informal, seperti だ (da) di akhir kalimat. Misalnya, “これはいいだ” (Ini bagus).
- Dalam percakapan yang lebih formal, pria bisa menggunakan bentuk lebih sopan seperti です (desu) dan ます (masu), tetapi dengan tetap menjaga kepribadian maskulin.
- Wanita:
- Wanita lebih sering mengakhiri kalimat dengan わ (wa) atau の (no) dalam situasi informal untuk memberi kesan lebih lembut. Misalnya, “これはいいわ” (Ini bagus, dengan nada yang lebih feminin).
- Dalam situasi formal, mereka juga menggunakan です (desu) dan ます (masu), tetapi dengan intonasi yang lebih lembut.
4. Ekspresi dan Pilihan Kata
- Pria:
- Pria lebih cenderung menggunakan kata-kata yang langsung dan lebih kasar, misalnya: 面倒くさい (mendōkusai) yang artinya “repot” atau 馬鹿 (baka) untuk “bodoh”.
- Mereka juga lebih sering menggunakan kata ganti seperti あいつ (aitsu) yang berarti “dia” dalam konteks yang lebih kasar.
- Wanita:
- Wanita menggunakan kata-kata yang lebih lembut atau sopan, seperti 大変 (taihen) untuk “repot” atau 馬鹿じゃない (baka janai) yang berarti “tidak bodoh”.
- Mereka cenderung memilih kata ganti lebih sopan, seperti あの人 (ano hito) untuk “orang itu”, dan tidak menggunakan kata-kata kasar seperti pria.
5. Penggunaan Partikel
- Pria:
- Pria lebih sering menggunakan partikel よ (yo) untuk menekankan suatu hal. Misalnya, “これはいいよ” (Ini bagus, lho).
- Partikel か (ka) di akhir kalimat juga lebih sering digunakan dalam kalimat tanya yang lebih langsung.
- Wanita:
- Wanita lebih sering menggunakan ね (ne) untuk meminta persetujuan atau untuk menambah kehangatan dalam percakapan. Misalnya, “これはいいね” (Ini bagus, kan?).
- Mereka juga menggunakan の (no) lebih sering untuk memberikan nuansa yang lebih lembut atau sebagai penanda pertanyaan yang tidak langsung.
Contoh Kalimat:
- Pria (Formal):
- “今日はいい天気ですね。” (Kyou wa ii tenki desu ne.) – “Hari ini cuacanya bagus, ya.”
- Wanita (Formal):
- “今日はいい天気ですね。” (Kyou wa ii tenki desu ne.) – “Hari ini cuacanya bagus, ya.”
- Pria (Informal):
- “今日はいい天気だな。” (Kyou wa ii tenki da na.) – “Cuacanya bagus hari ini, ya.”
- Wanita (Informal):
- “今日はいい天気ね。” (Kyou wa ii tenki ne.) – “Cuacanya bagus, kan?”
Kesimpulan:
Bahasa Jepang memiliki variasi yang kaya tergantung pada gender pembicara, dengan pengaruh terhadap kata ganti diri, akhiran, ekspresi, dan gaya percakapan. Meskipun banyak perbedaan ini terikat pada norma sosial dan kebiasaan budaya, secara umum, pria cenderung menggunakan bahasa yang lebih langsung dan maskulin, sementara wanita lebih memilih ungkapan yang lebih halus dan lembut. (Mariam F. Toliwongi)
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”









































































