Kuningan, 24 Maret 2026 – Di balik senyuman cerah dalam foto-foto kelas dan pencapaian akademiknya, Selvi Widiawati (15), siswi kelas 9 asal Kuningan yang lahir pada 17 September 2010, menyimpan perjuangan diam-diam melawan rasa terasing di lingkungan sekolahnya sendiri.
“Kalau dilihat dari luar, foto-foto ini kelihatan biasa aja. Ada aku, ada teman-teman, ada senyuman, ada momen di kelas, dan ada juga pencapaian yang aku pegang. It looks normal. It looks like I belong,” tulis Selvi dalam catatan pribadinya yang kini menjadi viral di media sosial. Namun, kenyataannya jauh lebih kompleks. “Aku memang ada di situ, ikut foto, ikut berdiri di antara mereka. Tapi di dalamnya, aku sering ngerasa kayak orang luar.
Kayak cuma numpang ada.”
Perasaan “there, but never really part of it” ini bukan sekadar momen sesaat bagi Selvi. Ia sering merasa sendirian di tengah keramaian teman-temannya yang saling dekat, berbagi tawa, dan membentuk circle sendiri. “Aku ada, tapi nggak benar-benar masuk ke dalamnya,” ungkapnya. Upaya untuk bergabung sering kali gagal, memicu pertanyaan menyakitkan seperti “Apa aku kurang asik? Apa aku nggak cukup baik?”
Selvi memilih merahasiakan beban itu. “I kept those thoughts to myself,” katanya. Meski capek berpura-pura baik-baik saja—“honestly, it’s exhausting sometimes”—ia tetap menjalani rutinitas: masuk kelas, belajar, mengerjakan tugas, dan ikut kegiatan. Dari luar, tak ada yang berubah. Tapi di dalam, ia berjuang keras untuk tetap kuat.
Titik balik datang saat Selvi mengalihkan fokus ke diri sendiri. “Aku nggak bisa maksa orang lain buat ngerti aku, tapi aku bisa milih buat tetap berkembang,” tulisnya. Ia serius belajar, memprioritaskan tanggung jawab, dan mengejar perbaikan pribadi—bukan untuk orang lain, tapi untuk dirinya.
Hasilnya? Sertifikat dan pencapaian di foto-foto itu, yang bagi Selvi bukan hadiah dari kenyamanan, melainkan bukti ketangguhannya. “Itu datang dari hari-hari dimana aku tetap berusaha, walaupun lagi ngerasa sendiri.”
Kini, Selvi belajar menerima: “Sometimes, you grow in places that hurt you.” Ia tumbuh di situasi tak nyaman, menjadi lebih kuat dan mengenal diri sendiri. “Aku masih sering overthinking, tapi at least now, I don’t feel as lost as before,” akunya. Bahkan jika tak pernah sepenuhnya diterima, “I never stopped trying to grow.” Bagi Selvi, kekuatan diam itu adalah pencapaian terbesarnya.
Kisah Selvi mengingatkan banyak remaja di Kuningan dan Indonesia bahwa rasa terasing bisa jadi pupuk pertumbuhan. “Aku masih ada di foto-foto itu, tapi sekarang aku tahu, aku juga punya jalan aku sendiri,” pungkasnya.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer































































