Banjir di Ketanggungan Brebes: Gambaran Krisis Lingkungan dan Sosial Banjir adalah salah satu bencana alam yang sering terjadi di Indonesia, terutama saat musim hujan. Kecamatan Ketanggungan di Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, merupakan salah satu daerah yang sering terdampak banjir. Peristiwa ini tidak hanya berkaitan dengan genangan air yang menutupi rumah dan fasilitas umum, tetapi juga melibatkan masalah lingkungan, sosial, serta kebijakan yang perlu mendapatkan perhatian serius. Banjir di Ketanggungan sudah menjadi masalah tahunan, sehingga penting untuk memahami penyebab, dampak, dan solusi yang bisa diterapkan secara menyeluruh. Banjir yang terjadi di Ketanggungan bukanlah sesuatu yang mendadak. Ada beberapa faktor utama yang menyebabkan daerah ini sangat rentan terhadap banjir. Salah satunya adalah kerusakan Daerah Aliran Sungai (DAS) Pemali. Sungai Pemali yang melintasi wilayah Brebes sering meluap saat hujan deras. Kerusakan ekosistem DAS, seperti penebangan hutan di daerah hulu, penggundulan lahan, dan sedimentasi sungai, semakin meningkatkan risiko banjir. Kondisi ini diperparah oleh pengelolaan DAS yang kurang optimal, sehingga air hujan tidak terserap dengan baik ke tanah dan langsung mengalir ke sungai, yang akhirnya meluap ke permukiman warga (Gunawan, 2025). Selain itu, perubahan fungsi lahan seperti konversi area resapan air menjadi lahan pertanian dan permukiman juga berkontribusi. Ketanggungan yang dulunya memiliki banyak ruang hijau mulai kehilangan kapasitas resapan airnya. Akibatnya, air hujan tidak dapat meresap dan langsung menyebabkan genangan di pemukiman. Faktor lain yang juga berperan penting adalah perubahan iklim global. Fenomena ini menyebabkan curah hujan menjadi lebih tinggi dan tidak menentu. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan peningkatan signifikan intensitas hujan di Brebes dalam beberapa tahun terakhir, terutama pada bulan Desember sampai Maret (BMKG, 2024).
Dampak banjir di Ketanggungan sangat luas, baik bagi lingkungan maupun masyarakat. Dari segi ekonomi, banjir menimbulkan kerugian besar. Banyak infrastruktur umum seperti jalan, jembatan, dan fasilitas lainnya mengalami kerusakan. Selain itu, sektor pertanian juga terdampak. Ketanggungan, yang mayoritas penduduknya petani, sering mengalami gagal panen karena sawah mereka terendam air. Menurut laporan Dinas Pertanian Brebes, banjir besar tahun 2025 menyebabkan lebih dari 1.000 hektar sawah terendam dengan kerugian mencapai Rp2 miliar (Dinas Pertanian Brebes, 2025). Selain kerugian materi, banjir juga menimbulkan masalah kesehatan. Penyakit seperti diare, demam berdarah, dan infeksi kulit sering muncul sebagai akibat banjir. Kondisi ini diperparah dengan keterbatasan fasilitas kesehatan di daerah terdampak banjir yang menyulitkan warga memperoleh pengobatan. Air tergenang yang berlangsung lama juga mencemari sumber air bersih, sehingga masyarakat kesulitan mendapatkan air yang layak untuk digunakan. Selain dampak fisik, banjir juga memberi dampak psikologis. Banyak warga kehilangan rumah dan harta benda akibat banjir. Trauma, stres, dan ketidakpastian masa depan menjadi beban mental yang berat, terutama bagi anak-anak dan kelompok rentan. Bahkan, konflik sosial sering muncul di tengah kesulitan ini, seperti perebutan sumber daya dan ketidakmerataan distribusi bantuan.
Upaya penanganan banjir di Ketanggungan membutuhkan kerja sama berbagai pihak, mulai dari pemerintah, masyarakat, hingga organisasi non-pemerintah. Salah satu langkah yang bisa dilakukan adalah rehabilitasi ekosistem DAS Pemali. Pemerintah harus melakukan penghijauan kembali di daerah hulu sungai dan memulihkan kawasan yang gundul. Penanaman pohon dapat meningkatkan daya serap air hujan dan mengurangi aliran permukaan yang langsung masuk ke sungai. Selain itu, pengerukan sedimentasi sungai secara rutin juga penting untuk meningkatkan kapasitas sungai menampung air hujan. Perbaikan infrastruktur drainase juga sangat dibutuhkan. Sistem drainase yang baik dapat memperlancar aliran air sehingga mengurangi risiko genangan di permukiman. Selain itu, edukasi masyarakat mengenai pentingnya pelestarian lingkungan tidak boleh diabaikan. Masyarakat perlu dilibatkan melalui program penghijauan, pengelolaan sampah, dan pelatihan mitigasi bencana. Kampanye ini dapat dilakukan lewat sekolah, komunitas lokal, dan media massa. Di era digital sekarang, pemanfaatan teknologi informasi juga menjadi solusi yang tepat untuk mitigasi bencana. Misalnya, aplikasi peringatan dini yang memberikan informasi tentang curah hujan dan kondisi sungai dapat membantu warga mempersiapkan diri lebih awal terhadap banjir.
Banjir di Ketanggungan Brebes adalah masalah kompleks yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan satu pendekatan. Penyebabnya yang beragam, mulai dari kerusakan ekosistem hingga perubahan iklim, menunjukkan bahwa diperlukan solusi yang holistik. Dampak yang dirasakan masyarakat tidak hanya bersifat material tetapi juga sosial dan psikologis. Oleh karena itu, upaya penanganan harus mencakup rehabilitasi lingkungan, pembangunan infrastruktur, pemberdayaan masyarakat, serta pemanfaatan teknologi informasi. Dengan komitmen bersama antara pemerintah, masyarakat, dan pihak-pihak terkait, diharapkan masalah banjir di Ketanggungan dapat diatasi secara bertahap. Selain itu, penting juga bagi kita semua untuk menjadikan persoalan banjir ini sebagai pelajaran bahwa menjaga lingkungan adalah tanggung jawab bersama.
– Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika. (2024). Laporan Cuaca dan Iklim Tahunan. Jakarta: BMKG.
– Dinas Pertanian Brebes. (2025). Dampak Banjir Terhadap Pertanian di Kabupaten Brebes. Brebes: Dinas Pertanian.
– Gunawan, A. (2025). Kerusakan DAS Sebagai Penyebab Banjir di Jawa Tengah. Jurnal Geografi dan Lingkungan, 12(3), 45-57.
– Sutrisno, B. (2023). Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Bencana Banjir. Yogyakarta: Pustaka Alam.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer































































