Tidak semua perjalanan besar berakhir di garis puncak. Sebagian justru menemukan maknanya di tengah jalan, di ruang-ruang belajar yang sunyi, di proses yang panjang, dan pada keberanian untuk tetap melangkah.
Bagi Aisha Fitri Shakira Faladin, murid kelas XII PK2 MAN 1 Yogyakarta, pengalaman mengikuti Future Agile Leader Program (FALP) menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan itu. Bukan semata soal lolos atau tidak, melainkan tentang bagaimana ia belajar mengenali dirinya sendiri di tengah kompetisi ribuan anak muda dari berbagai penjuru.
Program yang diinisiasi oleh alumni Institut Pertanian Bogor (IPB) bersama IPB ini memang tidak dirancang sebagai ajang biasa. Sejak awal, seleksi berlangsung ketat. Dari sekitar 5.000 pendaftar, hanya 4.030 peserta yang bertahan. Jumlah itu terus menyusut menjadi 800, lalu 80 besar hingga akhirnya tersisa 20 orang yang memperoleh golden ticket ke IPB.
Aisha melangkah hingga 80 besar. Sebuah capaian yang, jika dilihat sepintas, mungkin terasa “hampir”. Namun bagi Aisha, justru di sanalah letak perjalanan sesungguhnya.
“Awalnya deg-degan, tapi lama-lama aku menikmati prosesnya,” ujarnya pelan, mengenang rangkaian kegiatan yang ia jalani.

Tahapan demi tahapan bukan sekadar formalitas. Peserta diminta mengikuti webinar, merangkum materi, lalu membagikannya melalui media sosial. Sebuah latihan sederhana namun menuntut ketekunan dan kemampuan menyampaikan gagasan. Tidak berhenti di situ, mereka juga ditantang merancang social project, sebuah langkah kecil untuk melihat sejauh mana kepemimpinan bisa hadir dalam kehidupan nyata.
Puncaknya adalah leadership camp di IPB. Di sana, Aisha dan peserta lain tidak hanya mendengarkan materi, tetapi juga mengalami langsung dinamika kepemimpinan, seperti; berdiskusi, bertukar gagasan, dan menapaki lingkungan kampus yang selama ini mungkin hanya mereka bayangkan.
“Banyak banget ilmu baru yang aku dapat. Tapi yang paling berkesan itu ketemu teman-teman yang hebat. Dari situ aku merasa, ternyata banyak orang yang punya semangat luar biasa,” katanya.
Pertemuan-pertemuan itu, bagi Aisha, menjadi jendela baru. Ia tidak hanya belajar tentang kepemimpinan, tetapi juga tentang kerendahan hati, bahwa di luar sana, selalu ada orang-orang lain yang sama kuatnya, bahkan mungkin lebih.
Program FALP memang dirancang untuk satu tujuan: membentuk calon pemimpin masa depan yang tangguh. Namun dalam praktiknya, proses itu sering kali berjalan tidak dengan gemerlap, melainkan lewat latihan-latihan kecil yang berulang, seperti; mendengar, berpikir, mencoba, dan kadang gagal.
Kepala MAN 1 Yogyakarta, Edi Triyanto, S.Ag., S.Pd., M.Pd., melihat pengalaman Aisha sebagai bagian dari proses yang lebih besar.
“Dalam pendidikan, yang paling penting adalah proses. Ketika murid berani keluar dari zona nyaman, mengikuti seleksi nasional, dan belajar dari pengalaman, di situlah karakter terbentuk,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa capaian bukan selalu soal posisi akhir.
“Kita tidak bisa hanya mengukur keberhasilan dari siapa yang sampai di 20 besar. Yang jauh lebih penting adalah siapa yang terus belajar dan berkembang. Pengalaman seperti ini akan menjadi bekal berharga di masa depan,” kata Edi.
Bagi Aisha, perjalanan itu mungkin belum selesai. Ia memang tidak membawa pulang golden ticket, tetapi ia pulang dengan sesuatu yang lebih sulit diukur: cara pandang yang berubah, jaringan pertemanan yang meluas, dan keberanian untuk bermimpi lebih jauh. (dee)
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer






























































