Wonosobo – Lapangan Desa Slukatan, Kecamatan Mojotengah, Rabu pagi (30/7), tampak lebih ramai dari biasanya. Ibu-ibu menenteng bibit, anak-anak berlarian, dan aroma masakan lokal memenuhi udara. Di balik semarak itu, ada gerakan besar yang tengah dimulai: memperkuat ketahanan pangan dari pekarangan rumah.
Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) kolaborasi dari tiga kampus – UIN Saizu Purwokerto, UIN Sunan Gunung Djati Bandung, dan Universitas Annuqayah Madura – ikut ambil peran. Mereka turun langsung mendampingi masyarakat dalam kegiatan yang diinisiasi Dinas Pangan, Pertanian, dan Perikanan (Dispaperkan) Kabupaten Wonosobo.
“Sangat membantu. Mereka ikut dari awal hingga pelaksanaan. Mulai dari atur lokasi, distribusi logistik, hingga dampingi warga saat demo masak dan pemeriksaan kesehatan,” kata Etika Hayati, Kabid Ketahanan Pangan Dispaperkan.
Acara ini sekaligus menjadi momen peluncuran Gerakan “Rabu Pon: Ibu Menanam Pohon” yang digagas Tim Penggerak PKK Kabupaten Wonosobo. Gerakan ini mengajak para ibu untuk memanfaatkan lahan pekarangan dengan menanam tanaman pangan seperti tomat, cabai, kacang panjang, hingga pisang dan pepaya.
Dispaperkan juga membagikan bibit dan pupuk organik kepada warga. Harapannya, bukan hanya menanam, tapi juga membangun kesadaran tentang pentingnya gizi dan kemandirian keluarga.
“Mahasiswa memberi semangat baru. Kehadiran mereka meringankan kerja tim kami, terutama karena persiapan kegiatan ini cukup singkat,” ujar Siti Fatimah Nuraini, Ketua Bidang 3 TP PKK Kabupaten Wonosobo.
Tak hanya itu, kegiatan ini juga jadi wadah edukasi soal konsumsi pangan Beragam, Bergizi, Seimbang, dan Aman (B2SA). Masyarakat diajak untuk mulai memperhatikan pola makan keluarga, memanfaatkan potensi lokal yang ada.
Wakil Bupati Wonosobo, Amir Husein, yang hadir mewakili Bupati, menyambut positif kolaborasi ini. Menurutnya, ketahanan pangan rumah tangga adalah pondasi penting menghadapi perubahan iklim dan tantangan ekonomi.
“Menanam di pekarangan bukan sekadar urusan bertani. Ini gerakan membangun harapan baru. Perempuan memegang peran penting dalam menjaga ketahanan keluarga,” ujarnya dalam sambutannya.
Amir juga menekankan pentingnya keterlibatan mahasiswa. Ia menilai, program semacam ini adalah bentuk pembelajaran kontekstual yang seharusnya rutin dilakukan kampus.
“Mahasiswa belajar dari masyarakat, masyarakat mendapat manfaat langsung. Ini sinergi yang saling menguatkan,” tegasnya.
Diharapkan, kolaborasi ini menjadi contoh penguatan ketahanan pangan berbasis rumah tangga. Dari pekarangan yang sederhana, bisa tumbuh ketahanan dan kemandirian yang kokoh untuk masa depan.