Denpasar, September 2025 – Curah hujan ekstrem yang mengguyur Bali sejak awal bulan menimbulkan banjir bandang dan tanah longsor di sejumlah wilayah. Kabupaten Jembrana, Tabanan, dan Bangli menjadi daerah yang terdampak paling parah. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bali melaporkan belasan orang meninggal dunia, sejumlah warga masih hilang, dan lebih dari seribu orang mengungsi ke tempat aman.
Material longsor menutup jalur utama antar-kabupaten, termasuk jalur vital Denpasar–Gilimanuk. Hal ini menyebabkan distribusi logistik terganggu dan evakuasi korban semakin sulit. “Curah hujan ekstrem menjadi pemicu utama bencana. Kami masih melakukan pencarian korban hilang dan mengevakuasi warga terdampak,” ujar Kepala BPBD Bali.
Tim SAR gabungan bersama TNI/Polri terus bekerja keras membuka akses jalan yang tertutup tanah dan batu, sekaligus mengevakuasi warga. Di beberapa titik, tim menggunakan perahu karet untuk mengevakuasi warga karena ketinggian air mencapai dua meter. Anak-anak, lansia, dan ibu hamil diprioritaskan dalam proses evakuasi.
Selain korban jiwa, kerugian material juga cukup besar. Ratusan rumah rusak berat maupun ringan, sementara sekolah, rumah ibadah, dan fasilitas kesehatan ikut terdampak. Listrik padam di beberapa wilayah, jaringan komunikasi sempat terganggu, dan pasokan air bersih terbatas. Pemerintah memperkirakan nilai kerugian mencapai miliaran rupiah.
Sektor pariwisata Bali turut terpukul. Sejumlah hotel dan vila di kawasan wisata Ubud, Kuta, dan Gianyar melaporkan pembatalan reservasi karena akses jalan terganggu dan kondisi cuaca memburuk. Beberapa destinasi wisata alam, seperti air terjun dan jalur pendakian, ditutup sementara demi keselamatan pengunjung. “Kami baru saja bangkit dari dampak pandemi, tapi bencana ini membuat kami harus memulai lagi dari awal,” kata seorang pengelola hotel di Ubud.
Pemerintah Provinsi Bali telah menetapkan status darurat bencana selama 14 hari. Posko pengungsian didirikan di balai desa, sekolah, dan fasilitas umum lain. Bantuan logistik berupa makanan, obat-obatan, dan selimut mulai disalurkan. Sejumlah hotel bahkan membuka ruang ballroom untuk dijadikan tempat penampungan sementara.
Organisasi masyarakat dan relawan juga ikut terlibat. Komunitas adat Bali bergotong royong membantu evakuasi, sementara komunitas pariwisata menggalang donasi untuk menyediakan kebutuhan dasar bagi pengungsi. Kementerian Sosial menyalurkan tenda darurat, dan Kementerian PUPR menurunkan alat berat untuk membersihkan jalan dari material longsor.
Peristiwa ini kembali menyoroti kerentanan Bali terhadap perubahan iklim. Pakar lingkungan dari Universitas Udayana menilai tata ruang Bali yang semakin padat serta berkurangnya daerah resapan air memperparah risiko banjir dan longsor. “Mitigasi harus diperkuat, mulai dari drainase, konservasi hutan, hingga penegakan tata ruang. Jika tidak, bencana serupa akan semakin sering terjadi,” ujarnya.
Meski menghadapi kesulitan, solidaritas masyarakat Bali menjadi harapan. Gotong royong yang muncul di tengah bencana menunjukkan kekuatan sosial pulau ini. Dengan langkah cepat pemerintah dan dukungan masyarakat, Bali diharapkan segera pulih dari bencana sekaligus membangun sistem ketahanan lingkungan yang lebih baik.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”










































































