Ketidaksesuaian jurusan merupakan salah satu fenomena yang sering terjadi dan sedang dirasakan oleh banyak mahasiswa muda di Indonesia. Tekanan seperti ini muncul bukan hanya karena beratnya tuntunan akademik saja, tetapi juga dari pilihan jurusan yang sebenarnya tidak sesuai dengan minat kita maupun kemampuan kita. Ketika seseorang menjalani sesuatu yang bukan pilihannya bahkan dalam jangka panjang seperti kuliah empat tahun, wajar sekali muncul rasa tertekan, kehilangan semangat, penurunan motivasi, bahkan depresi. Kondisi seperti ini lah yang membuat semakin terasa ketika sebagian mahasiswa memilih jurusan bukan dari atas dasar keputusan pribadi, melainkan karena adanya dorongan dari orang tua, teman, keluarga, memilih jurusan secara tergesa-gesa, karena bingung, ada pula yang awalnya merasa cocok tetapi ketika dijalani ternyata sangat jauh dari kemampuan diri, atau sekedar mengikuti arus tanpa memahami diri sendiri. Tentunya kondisi seperti ini sangat lah miris, karena kenyataannya keputusan sepenting itu justru sering diambil dalam kondisi yang terburu-buru ataupun diambil dengan penuh tekanan emosional. Maka dari itu, kita akan melihat sejauh apa ketidaksesuaian jurusan dapat menjadi sumber tekanan yang signifikan bagi mahasiswa di Indonesia.
Salah satu penyebab paling umum adalah dorongan kuat dari orang tua. Banyak dari orang tua yang ingin menentukan jurusan anak demi masa depan mereka yang stabil. Bahkan dari beberapa orang tua tidak memberi ruang kepada anak untuk memilih jurusan sesuai minat mereka karena orang tua biasanya ingin anaknya masuk jurusan yang dianggap memiliki prospek kerja yang jelas, sangat bergengsi, dan sesuai mimpi mereka sendiri. Namun pada akhirnya mahasiswa menjalani jurusan bukan karena keinginanya, tetapi karena tuntutan orang tua dan tekanan psikologis pada diri mahasiswa pun semakin besar. Menurut penelitian tahun 2022 oleh Wulandari dkk, sebagian besar mahasiswa yang merassa tidak cocok dengan jurusannya mengaku megalami tekanan dalam menjalani kegiatan perkuliahan. Tekanan itu muncul karena tuntutan tugas yang tidak sesuai dengan kemampuan, rasa berat ketika menikuti materi dan kecemasan tentang masa depan. Di dalam penelitian ini juga menegaskan bahwa stres akademik menjadi lebih kuat ketika mahasiswa merasa “tidak berada di tempat yang tepat”.
Faktor terbesar penyebab yang sering terjadi merupakan ketidaksesuaian jurusan adalah pengaruh atau tuntutan orang tua. Menurut penelitian tahun 2023 oleh Andy dan Bagdawansyah mereka menjelaskan bahwa sebagian mahasiswa memilih jurusan bukan berdasarkan minta, tetapi karena dorongan eksternal baik dari keluarga maupun lingkungan sekitar. Kondisi ini lah yang menciptakan benturan antara ekspetasi keluarga dan kemampuaan nyata mahasiswa. Maka ketika jurusan itu tidak sesuai, mahasiswa akan mulai merasakan tekanan yang berlapis seperti takut mengecewakan orang tua, takut salah pada masa depan, dan di saat yang sama kesulitan menajalani perkuliahan yang tidak sesuai dengan dirinya sendiri.
Selain hal tersebut, terdapat pula mahasiswa yang memilih jurusan karena tergesa-gesa atau asal pilih saja. Menurut penelitian pada tahun 2016 oleh Andi dkk, menjelaskan bahwa mahasiswa yang salah jurusan cenderung mengalami penurunan psychological well-being(kesejahteraan psikologis) terutama jika seseorang tidak memiliki strategi koping yang tepat. Kebingungan dalam memilih jurusan membuat sebagian besar mahasiswa hanya mengandalkan pada keberuntungan atau hanya ikut teman tanpa mempertimbangkan minta dan kemampuan mereka. Maka akibatnya adalah ketika perkuliahan dimulai, mereka merasa tidak bahagia menjalaninya, tidak menikmati kegiatan akademik, dan bahkan muncul rasa enggan untuk datang ke kelas.
Pada titik tertentu ini, tekanan seperti itu dapat berubah menjadi kelelahan mental. Lalu, mahasiswa yang terjebak dalam jurusan yang tidak sesuai sering mengalami penurunan motivasi, kehilangan semangat, sulit fokus, bahkan malas mengerjakan tugas dari dosen. Bagi beberapa mahasiswa, beban tersebut bisa saja berkembang menjadi kecemasan maendalam atau gejala depresi ringan. Semua ini sejalan dengan temuan dari ketiga penelitian yang dilakukan bahwa ketidaksesuaian jurusan bukan hanya masalah akademik saja, melainkan juga berhubungan dengan kondisi emosional dan psikologis mahasiswa.
Tetapi, ketika kita melihat fenomena ini secara netral, masalah ketidaksesuaian jurusan bukan hanya sepenuhnya kesalahan dari orang tua atau mahasiswa itu sendiri. Namun, karena sistem pendidikan yang kurang memberi ruang eksplorasi minat, minimnya tentang layanan konseling karier, serta tekanan sosial tentang “jurusan yang aman dipilih agar masa depan terjamin” turut ikut serta. Di Indonesia saat ini masih menghadapi tantangan dalam menyediakan bimbingan karier yang memadai sebelum siswa memasuki perguruan tinggi. Maka dari itu, akibatnya banyak mahasiswa memilih jurusan tanpa pemahaman mendalam tentang diri mereka sendiri.
Lalu, apakah solusi yang kita lakukan agar mahasiswa di Indonesia tidak lagi terjebak dalam pilihan jurusan yang salah?
Pertama, sekolah dan perguruan tinggi perlu memperkuat layanan konseling karier yang berbasis assesmen minat dan bakat atau melakukan layanan dari guru bk yang mengundang orang psikologi dalam tes psikologi agar siswa mengetahui mereka ahli di bidang mana saja. Kedua, orang tua perlu memahami bahwa setiap anak berhak memiliki pilihannya sendiri untuk memilih jurusan atau kehendak yang mereka minati. Dan orang tua wajib memberi dukungan tentang pilihan anak mereka tanpa memaksakan kehendak orang tua, agar anak berkembang secara lebih mandiri dan sehat. Ketiga, pemerintah dan lembaga pendidikan harus memperluas literasi karier melalui tes minat dan bakat, seminar, serta program eksplorasi jurusan agar siswa tidak memilih jurusan secara tergesa-gesa atau asal pencet saja. Keempat, bagi mahasiswa yang sudah terlanjur salah memilih jurusan perlu sekali diberi akses pada konseling akademik dan dukungan psikologis, sehingga mereka dapat mencari strategi penyesuaian atau mempertimbangkan opsi pindah jurusan secara tepat dan bijak.
Namun pada akhirnya, ketidaksesuaian jurusan ini adalah persoalan yang nyata sekali adanya yang dapat menimbulkan tekanan besar bagi mahasiswa muda di Indonesia. Tetapi dengan sistem dukungan yang lebih kuat, baik dari orang tua, keluarga, teman, sekolah, maupun instansi pendidikan fenomena ini dapat kita minimalkan. Mahasiswa atau siswa berhak sekali berada pada jurusan yang mereka mau dan benar yang sesuai dengan dirinya serta minat dan bakat yang mereka miliki, agar proses belajar bukan menjadi beban tetapi perjalanan menuju proses masa depan yang mereka yakini dan jalani dengan penuh kesadaran. Buat kalian yang mengalami hal ini tetap semangat dan jangan menyerah, tidak apa-apa jika merasa jurusanmu bukan lah yang tepat atau yang kamu inginkan. Yang penting, kamu jujur pada dirimu sendiri dan bertahan sambil mencari jalan yang lebih sesuai. Pelan-pelan saja kamu berhak memiliki jalan yang kamu inginkan dan kamu tidak sendirian.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”








































































