Pertumbuhan regulasi afek pada anak-anak dan remaja mirip dengan “upgrade sistem operasi” dalam otak. Di sisi lain, sistem limbik, yang terdiri dari amigdala, hipokampus, dan ventral striatum, telah sangat aktif sejak awal. Ini adalah inti dari reaksi emosional cepat, deteksi ancaman, rasa penasaran, dan dorongan spontan.karena itu banya anak remaja dan anak-anak mengalami respon emosional yang cukup intens. Sebaliknya, korteks prefrontal (pfc) dan anterior cingulate cortex (acc) berfungsi sebagai “pengurus” yang mengatur pengendalian diri, rencana masa depan, pertimbangan risiko, dan evaluasi situasi. Bagian ini berkembang lebih lambat dan baru benar-benar matang di usia dewasa muda. Oleh karena itu, masa remaja sering dipenuhi dengan drama emosional dan keputusan impulsif karena sistem kontrolnya belum benar-benar siap secara biologis.
Hal inilah yang membuat anak dan remaja cenderung lebih sensitive terhadap ancaman, mudah terbawa suasana dan sering mengambil resiko karna hanya dorongan sesaat. Namun perkembangan ini akan terus bergerak dari hubungan antara limbik dan korteks terus berubah melalui proses mielinisasi, pruning sinaptik dan pengalaman sosial sehari-hari. Semakin sering otak dipakai untuk mengambil keputusan, refleksi dan menghadapi konsekuensi semakin kuat juga jalur antara kedua sistem ini.
Dalam risalah ini, kita akan mempelajari lebih lanjut hubungan inti dan peripheral antara sistem limbik dan korteks selama perkembangan. Kita juga akan membahas bagaimana mekanisme ini mengatur afek, dan apa saja faktor biologis dan lingkungan yang memengaruhi proses ini. Tujuannya adalah untuk mengetahui alasan mengapa anak-anak dan remaja sering berperilaku “meledak-ledak” atau “random”, serta bagaimana pola perkembangan ini dapat diubah ke arah yang lebih adaptif.
Pendahuluan
Kemampuan seseorang untuk mengatur emosi mereka dikenal sebagai regulasi afek. Kemampuan ini berkembang pada anak-anak dan remaja seiring perubahan neurobiologis, penglaman sosial, dan proses belajar Sistem Limbik dan respons sosial menjadi lebih kuat karena perkembangan sistem limbik yang mengatur emosi. Di sisi lain, prefrontal cortex yang bertanggung jawab atas pengendalian diri dan penilaian risiko berkembang lebih lambat.
Hasilnya, masa remaja adalah masa ketika dorongan emosional kuat dan kemampuan menahan diri belum siap sepenuhnya. Hasil ini sejalan dengan penelitian neuroimaging longitudinal yang menunjukkan bahwa remaja cenderung merespons emosional dengan cepat sebelum bagian sistem kontrol kognitif benar-benar tumbuh.
Landasan Neuroanatomis
Regulasi emosi bergantung pada kerja sama beberapa bagian otak sistem limbik termasuk amigdala, hipokampus, dan struktur lain yang mengatur respons emosi dasar. Amigdala berfungsi sebagai alarm cepat yang memberi tahu kita tentang ancaman dan memicu respons emosional awal. Hipokampus membantu memberi konteks sehingga seseorang dapat memahami makna dari pengalaman emosional. Ventral striatum, yang termasuk nucleus accumbens, bertanggung jawab atas motivasi dan ras “reward”, yang berdampak pada keinginan untuk mencari hal-hal yang menyenangkan.
Sebagai lawan, korteks prefrontal (PFC) terdiri dari orbitofrontal, dorsolateral, dan ventromedial cortex. PFC juga berperan dalam pengambilan keputusan, menilai kemungkinan risiko, serta mengatur reaksi emosional yang berlebihan. Korteks cingulate anterior (ACC) berfungsi untuk mengintegrasikan informasi emosional dengan tujuan kognitif sehingga otak dapat menyeimbangkan dorongan dengan metode pengendalian. Hal ini memungkinkan otak untuk menanggapi dengan cepat dan mempertimbangkan analisis yang lebih kompleks yang dapat diubah.
Maturasi Limbik dan Korteks pada Masa Perkembangan
Maturasi otak terjadi secara bertahap dan tidak tiba-tiba. Remaja lebih peka terhadap sinyal reward dan ancaman karena sistem limbik mereka berkembang lebih cepat, terutama amigdala. Ini berarti respons emosional mereka lebih kuat daripada anak-anak atau orang dewasa. Sebaliknya, prefrontal cortex (PFC) berkembang jauh lebih lambat dan baru mendekati matang pada awal dua puluhan.
Konektivitas amigdala PFC berubah seiring usia, yang menyebabkan ketidakseimbangan antara dorongan emosional dan kemampuan pengendalian diri. Pada masa kanak-kanak, hubungan keduanya cenderung positif, tetapi pada masa remaja, pola negatif mulai muncul, yang menunjukkan peningkatan kontrol top-down. Meskipun demikian, proses ini sangat dipengaruhi oleh faktor sosial dan kehidupan sehari-hari, sehingga setiap orang dapat menunjukkan pola perkembangan yang berbeda.
Perubahan Konektivitas Fungsional
Hubungan amigdala dan medial PFC mengalami reorganisasi yang signifikan selama perkembangan. Mereka cenderung mengikuti dorongan limbik karena konektivitasnya positif pada awalnya. Konektivitas berubah menjadi negatif saat remaja, yang menantang kontrol PFC yang kuat. Perubahan ini bergantung pada mielinisasi dan efisiensi sinaps. Stres dini dapat mengubah pola tersebut, seperti membuat konektivitas negatif terlalu cepat muncul atau tidak berkembang dengan baik, meningkatkan risiko kecemasan dan depresi.
Aliran Bottom-Up dan Top-Down dalam Regulasi Afek
Sistem Limbik menghasilkan respons emosional otomatis, dan PFC memberikan kontrol sadar. Anak kecil sangat bergantung pada bantuan eksternal untuk mengatur emosi mereka. Seiring bertambahnya usia, PFC meningkatkan kontrol internal. Namun, remaja lebih rentan terhadap impulsivitas dan ledakan emosi karena sinyal bottom-up berkembang lebih cepat daripada kontrol top-down.
Peran ACC dan Insula
Insula memberikan informasi tentang kondisi tubuh yang berkaitan dengan emosi, sementara ACC mengawasi konflik antara emosi dan tujuan kognitif. Perubahan neurokimia pada ACC, seperti kadar GABA dan glutamat, memengaruhi kemampuan remaja untuk mengendalikan emosi mereka. Individu yang mengalami masalah dalam mengendalikan emosi mereka sering menunjukkan aktivitas ACC yang tidak konsisten dalam situasi emosional sulit.
Pengaruh Faktor Biologis dan Lingkungan
Perkembangan konektivitas limbik–kortikal juga dipengaruhi oleh lingkungan sosial. Sementara pola pengasuhan negatif atau stres dapat meningkatkan respons amigdala dan melemahkan kontrol PFC, hubungan yang ramah dan aman dapat membantu membangun konektivitas yang sehat. Sensitivitas limbik meningkat, terutama terhadap reward dan ancaman, karena hormon pubertas seperti testosteron dan estrogen. Kerentanan remaja terhadap masalah afektif juga dipengaruhi oleh variasi gen pada sistem dopamin dan serotonin.
Variasi Individu dan Risiko Psikopatologi
Tidak semua remaja mengalami perkembangan yang sama. Risiko kecemasan meningkat dengan respons amigdala yang tinggi. Aktivitas ventral striatum yang berlebihan terhadap reward dapat menyebabkan kecenderungan impulsif atau adiktif. Konektivitas PFC-limbic yang belum matang meningkatkan risiko depresi, terutama ketika dikombinasikan dengan pengalaman negatif seperti penolakan sosial atau kekerasan. Studi yang berlangsung selama waktu yang lama menunjukkan bahwa pola ini dapat bertahan sampai awal dewasa.
Implikasi klinis
Kita mungkin menemukan gejala awal dari masalah emosional. Ini dapat membantu dalam mengenali konektivitas yang tidak normal dengan menggabungkan evaluasi klinis dan pencitraan otak.Dengan memperkuat hubungan antara PFC dan amigdala, CBT meningkatkan kemampuan untuk mengatur emosi. Teknik seperti pelatihan pengaturan kognitif, evaluasi ulang kognitif, dan pelatihan kesadaran merupakan strategi intervensi yang bisa digunakan untuk meningkatkan kontrol dari PFC.Studi yang diterjemahkan juga memperhatikan kemungkinan neuromodulasi.
Arah Intervensi
Pelatihan regulasi kognitif, penilaian ulang kognitif, dan pelatihan kesadaran dapat digunakan untuk meningkatkan kontrol PFC. Selain itu, penelitian translasi mempertimbangkan potensi neuromodulasi. Namun, belum ada bukti yang menunjukkan bahwa metode ini aman atau efektif dalam jangka panjang. Dibutuhkan studi tambahan untuk menentukan dosis yang ideal, durasi, dan kelompok yang paling diuntungkan.
Kesimpulan
Perubahan aturan mengenai dampak pada anak-anak dan remaja muncul dari hubungan antara sistem limbik dan korteks. Periode remaja sangat penuh emosi dan memiliki tingkat kelenturan yang tinggi karena adanya ketidakseimbangan dalam proses pematangan. Elemen biologis, hormonal, lingkungan, dan sosial yang saling berhubungan akan menghasilkan perkembangan yang bervariasi bagi setiap individu. Agar terhindar dari masalah emosional yang lebih serius di masa depan, sangat krusial untuk melakukan intervensi yang peka, berbasis bukti, dan dilakukan segera.
Referensi
Gee, D. G., et al. (2013). A developmental shift from positive to negative connectivity in amygdala–prefrontal circuitry. Journal of Neuroscience. https://www.jneurosci.org/content/33/10/4584
Konrad, K., & Eickhoff, S. B. (2013). Brain development during adolescence. Trends in Cognitive Sciences. https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC3705203/
Herringa, R. J., et al. (2016). Enhanced prefrontal–amygdala connectivity following. https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC5055123/
Paulus, F. W., et al. (2021). Emotional dysregulation in children and adolescents. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/34759846/
Konicar, L., et al. (2022). Brain stimulation for emotion regulation in adolescents. https://www.frontiersin.org/journals/psychiatry/articles/10.3389/fpsyt.2022.840836/full
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”








































































