Baru-baru ini, saya disarankan untuk menonton sebuah serial TV berjudul Fleabag membuat saya cukup terkesan. Salah satu alasannya karena Fleabag kerap berbicara langsung ke kamera seolah mengajak para penonton menjadi teman rahasianya. Gaya “break the fourth wall” menjadi cara Fleabag memisahkan diri dari kenyataan emosional yang menyakitkan untuknya. Serial karya Phoebe Waller-Bridge ini juga menunjukkan bagaimana seseorang hidup dalam rasa bersalah dan kehilangan. Fleabag tampak baik-baik saja diluar, namun sebenarnya ia hidup dengan rasa bersalah karena “tidur” dengan pacar dari sahabatnya, Boo, yang kemudian meninggal setelah mengetahui perselingkuhan itu. Menariknya, Fleabag mengingat berbagai perkataan dan perbuatan Boo setiap saat, tetapi ia juga melupakan pengkhianatan yang dilakukannya. Sehingga, saya ingin membahas, bagaimana otak manusia memproses kenangan yang bertentangan, antara bagian yang diingat dan dilupakan.
Untuk melihat bagaimana Fleabag menyembunyikan dan menyimpan rasa sakit akibat rasa bersalah dan kehilangan, kita perlu memahami bagaimana otak manusia memproses dan mengatur emosi. Sistem limbik yang terdiri dari Amigdala sendiri berfungsi untuk memproses emosi, menghubungkan emosi dengan memori dan juga mengaktifkan respon “fight or fight”. Hipotalamus sendiri mengatur respons tubuh terhadap emosi, termasuk perubahan hormon dan aktivasi sistem saraf otonom termasuk respon tubuh terhadap stres serta mengatur emosi, suasana hati dan gairah seksual. Sementara itu, korteks prefrontal berfungsi mengendalikan dan menilai reaksi emosional, sehingga memungkinkan seseorang dapat menampilkan respons yang lebih rasional dan kontekstual (Putra, 2020). Hipokampus juga berperan penting dalam mengolah dan menyimpan memori emosional, sehingga dapat menghubungkan pengalaman dimasa lalu dengan perasaan yang ada pada saat itu. Jika semua berjalan dengan normal, maka bagian-bagian tersebut mempunyai keseimbangan antara reaksi emosional dan kendali tubuh terhadap emosi.
Dalam konteks Fleabag, bagian-bagian tersebut bekerja tidak seimbang. Amigdala yang aktif secara berlebihan akibat stres secara emosional dapat mengganggu fungsi pengendalian diri yang diatur oleh korteks prefrontal, sehingga seorang individu cenderung bereaksi impulsif dan juga dapat menstimulasi hipotalamus dan sistem dopaminergik otak untuk mencari pelepasan emosional melalui aktivitas yang menimbulkan kesenangan sesaat (Faul & LaBar, 2020; Putra, 2020). Pada Fleabag, kondisi ini terlihat dari perilaku seksual yang sangat bebas sebagai respons terhadap tekanan emosional. Humor dijadikan Fleabag sebagai coping mechanism dari tekanan emosional yang terjadi.
Menurut Faul dan LaBar (2020) dalam jurnal mereka yang berjudul ‘Emotional Memory in the Human Brain’, pengalaman emosional memiliki peranan penting dalam menciptakan dan memperkuat sebuah memori. Amigdala dan hipokampus berkolaborasi untuk memperkuat ingatan yang mengandung emosi yang kuat. Ketika seseorang menghadapi stres atau trauma, sistem noradrenergik dan dopaminergik mengeluarkan neurotransmitter seperti norepinefrin dan dopamin yang memperkuat penguatan memori emosional. Dengan menggunakan model GANE (Glutamate Amplifies Noradrenergic Effects), interaksi antara glutamat dan norepinefrin menghasilkan “hot spots” di dalam otak. Hal ini memudahkan untuk mengingat kenangan emosional yang kuat dan menyakitkan. Ini bisa jadi alasan kenapa Fleabag sulit menghapus ingatan tentang Boo, karena rasa bersalah dan kehilangan yang membuat memori tersebut selalu hidup.
Namun, kekuatan emosi yang sama dapat menyebabkan represi ketika kenangan terlalu menyakitkan untuk dihadapi. Anderson (2001) dalam Repression: A Cognitive Neuroscience Approach menjelaskan bahwa represi adalah bentuk pengendalian kognitif di mana korteks prefrontal menekan aktivasi hipokampus untuk mencegah kenangan traumatis muncul kembali. Otgaar dkk. (2025) menambahkan bahwa meskipun fenomena ini masih diperdebatkan secara ilmiah, represi dipercaya sebagai upaya otak untuk melindungi diri dari tekanan emosional yang dirasa terlalu berat. Dalam kasus Fleabag, otaknya memperkuat kenangan tentang Boo, namun menekan bagian pengkhianatan yang memicu rasa bersalah paling dalam.
Pada kasus Fleabag, pikirannya memperkuat kenangan akan Boo, tetapi menekan bagian dari pengkhianatan yang menimbulkan rasa bersalah yang mendalam. Campuran antara emotional memory dan repressed memory ini menjadi kunci kehidupan Fleabag. Hal ini tidak hanya sekadar “melupakan”, tetapi menekan sebagian ingatan demi kelangsungan hidup Fleabag itu sendiri. Setiap kali ia melihat ke arah kamera (break the fourth wall), hal itu menunjukkan usahanya untuk terpisah dari realitas, sebagai bentuk pertahanan di mana ia berusaha untuk mengatur kehidupannya. Dari sudut pandang biopsikologis, Fleabag menggambarkan bagaimana otak manusia berurusan dengan rasa sakit, menyimpan memori yang dapat disimpan dan menutupi hal-hal yang terlalu berat untuk ditangani.
DAFTAR PUSTAKA
Anderson, M. C. (2001). Repression: A cognitive neuroscience approach. In A. Beaudoin-Bgin & M. Solms (Eds.), Psychoanalysis and neuroscience (pp. 307–326). Springer.
Faul, L., & LaBar, K. S. (2020). Emotional memory in the human brain. In M. Kahana & A. D. Wagner (Eds.), The Oxford handbook of human memory. Oxford University Press.
Freud, S. (1957). Repression (J. Strachey, Trans.). In J. Strachey (Ed.), The standard edition of the complete psychological works of Sigmund Freud (Vol. 14, pp. 143–158). Hogarth Press. (Original work published 1915).
Otgaar, H., Howe, M. L., Wang, J., & Merckelbach, H. (2025). The neuroscience of dissociative amnesia and repressed memory: Premature conclusions and unanswered questions. Legal and Criminological Psychology, 30(2), 245–261.
Putra, D. (2018). Kunci melatih otak super. Laksana. ISBN 978-602-407-295-7
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”







































































