SUKOHARJO – Tensi perpolitikan di akar rumput menjelang Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) Serentak Kabupaten Sukoharjo tahun 2026 diprediksi akan mendidih dan menyimpan potensi konflik horizontal yang sangat destruktif. Peringatan keras ini dilontarkan oleh Yoyok Eko Suranto, Ketua Forum Milenial Militan Sukoharjo, yang secara tajam menyoroti kerawanan kohesi sosial masyarakat desa jika dibiarkan tanpa intervensi.
Dalam sebuah wawancara eksklusif yang berlangsung lugas, Yoyok membedah bahaya laten di balik euforia pesta demokrasi desa. Ia menegaskan bahwa masyarakat sering kali menutup mata terhadap realitas bahwa dinamika politik desa memiliki tingkat kerawanan yang jauh lebih sensitif dibandingkan dengan kontestasi politik di tingkat regional maupun nasional.
“Jangan pernah menganggap sepele Pilkades! Ini bukan sekadar datang ke TPS lalu pulang. Di desa, kedekatan emosional, ikatan kekerabatan, dan persinggungan sosial sehari-hari antarwarga pendukung calon kepala desa seringkali memicu eskalasi ketegangan. Sentuhannya langsung ke urat nadi masyarakat. Jika gesekan ini dibiarkan memanas, ini adalah bom waktu yang siap meledakkan kerukunan kita,” tegas Yoyok dengan nada kritis.
Lebih lanjut, Yoyok memaparkan analisisnya terkait ancaman degradasi sosial. Menurutnya, tanpa mitigasi dan edukasi yang terukur, perbedaan pilihan politik berpotensi merusak kohesi sosial dan mencederai kerukunan warga yang selama ini telah terbangun harmonis. Ia secara keras menyoroti maraknya ancaman penyebaran hoaks, ujaran kebencian (hate speech), dan kampanye hitam (black campaign) yang sengaja dipelihara untuk memecah belah warga.
Tidak hanya itu, ia juga mengecam keras praktik politik uang (money politics) yang kerap meracuni kewarasan demokrasi desa. Praktik-praktik amoral tersebut dinilai mampu menghancurkan fondasi persaudaraan hingga ke tingkat rukun tetangga.
Ketua Forum Milenial Militan Sukoharjo ini juga melontarkan kritik pedas terhadap pihak-pihak yang dinilai lamban dan hanya melempar tanggung jawab. Ia menekankan bahwa upaya menjaga kondusifitas daerah tidak dapat hanya dibebankan pada pundak aparat keamanan maupun pemerintah daerah semata.
“Sangat naif jika kita hanya mengandalkan polisi, tentara, atau birokrat untuk memadamkan api konflik di desa. Diperlukan sebuah sinergitas lintas sektoral yang solid antara Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), penyelenggara pemilu seperti KPUD dan Bawaslu, serta yang paling penting, partisipasi aktif dari seluruh elemen masyarakat,” paparnya.
Keterlibatan tokoh agama, tokoh masyarakat, pemuda, hingga organisasi non-pemerintah (LSM) mutlak diperlukan untuk membentengi kewarasan publik. Sebagai representasi generasi muda, Yoyok menuntut kaum milenial untuk berhenti menjadi penonton pasif. Ia mengingatkan bahwa sebagai agen perubahan (agent of change), pemuda memiliki tanggung jawab moral untuk hadir sebagai katalisator kedamaian.
Generasi milenial harus turun gelanggang menjadi agen perdamaian (agent of peace) yang proaktif mengawal kondusifitas wilayah desanya masing-masing.
“Demokrasi kita harus berjalan dengan jujur, adil, dan bermartabat. Kami, dari Forum Milenial Militan Sukoharjo, tidak akan membiarkan ukhuwah persaudaraan warga hancur hanya demi syahwat kekuasaan politik sesaat. Langkah preventif harus dieksekusi sekarang, demi mewujudkan cita-cita besar ‘Sukoharjo Makmur’ yang sesungguhnya!” pungkas Yoyok menutup analisis tajamnya.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer































































