Media sosial telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat modern. Setiap hari jutaan orang membuka berbagai platform digital untuk mencari hiburan, informasi, atau sekadar melihat aktivitas orang lain. Namun di balik kemudahan tersebut, muncul pertanyaan yang semakin sering dibicarakan: apakah kita benar-benar mengendalikan penggunaan media sosial, atau justru dikendalikan oleh sistem yang bekerja di dalamnya? Salah satu faktor utama yang menentukan apa yang kita lihat di media sosial adalah algoritma. Algoritma merupakan sistem komputasi yang dirancang untuk menyaring dan menampilkan konten berdasarkan perilaku pengguna. Ketika seseorang sering menonton atau menyukai jenis konten tertentu, sistem akan mempelajari pola tersebut dan menampilkan lebih banyak konten yang serupa. Dengan cara ini, platform digital berusaha menjaga perhatian pengguna agar tetap aktif di dalam aplikasi.
Penelitian terbaru yaitu menurut Dhinakaran (2025) menunjukkan bahwa algoritma media sosial tidak hanya berfungsi sebagai sistem teknis, tetapi juga memiliki pengaruh terhadap perilaku pengguna. Konten yang direkomendasikan secara terus-menerus dapat membentuk pola konsumsi informasi dan memengaruhi cara seseorang berinteraksi dengan media digital. Beberapa studi bahkan menjelaskan bahwa algoritma mampu menciptakan siklus keterlibatan yang membuat pengguna terus kembali menggunakan platform tersebut. Menurut saya, algoritma juga memiliki potensi untuk membentuk ruang informasi yang terbatas. Ketika seseorang lebih sering melihat konten yang sesuai dengan minat atau pandangannya, ia akan semakin jarang menemukan sudut pandang yang berbeda atau bisa di bilang stuck di algoritma yg itu itu saja. Fenomena ini sering disebut sebagai echo chamber atau ruang gema informasi. Dalam kondisi ini, pengguna cenderung menerima informasi yang memperkuat keyakinannya sendiri tanpa banyak mendapatkan perspektif lain.
Namun pengaruh media sosial tidak hanya berasal dari teknologi algoritma. Faktor psikologis manusia juga memiliki peran besar dalam membentuk kebiasaan penggunaan media sosial. Salah satu fenomena yang sering dibahas dalam penelitian adalah Fear of Missing Out (FOMO), yaitu perasaan takut tertinggal dari informasi, pengalaman, atau aktivitas yang dilakukan orang lain. Menurut mawaddah (2025) menunjukkan bahwa penggunaan media sosial yang tinggi berkaitan dengan meningkatnya tingkat FOMO pada pengguna, terutama pada kalangan mahasiswa. Perasaan tersebut membuat seseorang merasa perlu terus memeriksa pembaruan di media sosial agar tidak ketinggalan informasi atau tren terbaru.
FOMO dapat mendorong seseorang untuk lebih sering membuka media sosial tanpa tujuan yang jelas. Kebiasaan ini sering kali membuat waktu penggunaan media sosial menjadi lebih lama dari yang direncanakan. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat menimbulkan tekanan psikologis serta kelelahan digital yang dikenal sebagai social media fatigue. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa faktor seperti rasa takut kehilangan (FOMO), kecenderungan individu di media sosial, dan durasi penggunaan platform digital dapat memperparah kelelahan mental akibat penggunaan media sosial yang berlebihan. Kondisi ini pada akhirnya dapat mengurangi keterlibatan pengguna dan bahkan membuat sebagian orang memilih untuk mengurangi penggunaan media sosial. Selain memengaruhi kesehatan mental, FOMO juga dapat berdampak pada cara seseorang mengambil keputusan. Ketika seseorang melihat tren atau gaya hidup tertentu di media sosial, dia mungkin merasa ingin ikut mengikutinya agar tidak tertinggal.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa FOMO bisa membuat seseorang lebih sering belanja secara berlebihan dan merasa tertekan karena tekanan sosial di dunia maya. Selama beberapa tahun terakhir, semakin banyak peneliti yang mempelajari hubungan antara FOMO, penggunaan media sosial, dan kondisi kesehatan mental seseorang. Penelitian menunjukkan bahwa FOMO bisa menyebabkan kecemasan dan stres karena seseorang merasa terus menerus harus mengikuti perkembangan sosial di dunia digital. Dilihat dari sudut pandang ini, media sosial sebenarnya merupakan gabungan antara teknologi dan cara berpikir manusia. Algoritma berjalan dengan cara mempelajari cara pengguna berperilaku, sementara itu manusia cenderung secara alami ingin dicari perhatian oleh orang lain dan selalu ingin tahu informasi terbaru. Ketika kedua faktor tersebut bertemu, terbentuklah sistem yang sangat efektif dalam menarik perhatian pengguna. Hal ini kemudian memunculkan pertanyaan penting: apakah kita menggunakan media sosial karena ambisi pribadi, atau karena secara tidak sadar diarahkan oleh algoritma? Jawabannya mungkin tidak begitu mudah hanya memilih salah satu dari keduanya.
Di satu sisi, manusia memiliki hasrat untuk menggunakan media sosial sebagai sarana membangun hubungan, mencari kesempatan, atau menyampaikan perasaan mereka. Banyak orang berhasil memakai media sosial untuk memperluas usaha, membangun nama baik secara profesional, bahkan menyebarkan ide-ide yang berguna bagi masyarakat. Namun di sisi lain, algoritma di platform digital itu dirancang agar bisa meningkatkan partisipasi pengguna. Semakin lama seseorang menggunakan aplikasi, semakin banyak data yang dapat dikumpulkan oleh sistem. Hal ini menyebabkan algoritma secara terus menyesuaikan konten agar tetap menarik bagi pengguna. Oleh karena itu, tantangan terbesar dalam era digital tidak hanya memahami teknologi, tetapi juga memahami cara kita berinteraksi dengan teknologi tersebut. Kesadaran digital sangat penting agar pengguna bisa menggunakan media sosial dengan lebih sehat dan tidak terjebak dalam cara penggunaan yang berlebihan.
Jadi kesimpulannya algoritma memang lah sangat memengaruhi apa yang kita lihat di media sosial. Namun setidaknya manusia masih bisa mengendalikan pilihan yang ia ambil. Dengan kita tahu bagaimana algoritma bekerja dan mengenali pola pikir kita sendiri, masyarakat bisa menggunakan media sosial dengan lebih bijak dan kritis. Apakah algoritma atau ambisi yang mengendalikan kita itu memiliki jawaban yang pasti? Tidak, Namun satu hal yang pasti: kesadaran masyarakat tetap menjadi hal terpenting agar teknologi tidak menguasai kehidupan manusia.
Referensi:
Mawaddah, N., Amin, F. H., Wahid, A., & Hanafie, N. K. (2025). THE IMPACT OF SOCIAL MEDIA ON FOMO (FEAR OF MISSING OUT) AMONG HIGHER EDUCATION STUDENTS. International Journal of Business English and Communication, 3(2), 77-81. https://journal.unm.ac.id/index.php/ijobec/article/view/3245
Paramesti, N., Riorini, S. V., & Faiz, M. R. N. (2024). Pengaruh Privacy Concerns, Fear of Missing Out, Self-Disclosure, dan Time Cost terhadap Social Media Fatigue pada Pengguna Sosial Media. Jurnal Ekonomi Manajemen dan Bisnis, 5(2). https://jurnal.stie.asia.ac.id/index.php/jubis/article/view/2501
Ilahi, W. R., & Febriani, E. (2024). The Phenomenon of Fear of Missing Out Instagram Social Media in Generation Z in the 2024 Presidential Election. Jurnal Indonesia Sosial Teknologi, 5(10). https://jist.publikasiindonesia.id/index.php/jist/article/view/1257
Zhang, Y., et al. (2024).
More Social Media Friends, More Life Satisfaction? https://link.springer.com/article/10.1007/s12144-024-06778-9
Dhinakaran, M. (2025).
The Psychological Impact of Social Media Algorithms on Human Behavior. https://edwin.co.in/egj/index.php/gjess/article/view/284
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer







































































