Kabar duka kembali menyelimuti dunia pendidikan. Dua mahasiswa dari kampus ternama di Bali dikabarkan meninggal dunia setelah diduga mengalami tekanan sosial dan perundungan di lingkungan akademik.
Tragedi itu mengguncang nurani banyak orang — terutama mereka yang setiap hari hidup di dunia kampus.
Bagi Bambang Minarso, Dosen sekaligus Pembina Kemahasiswaan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) Semarang), kejadian semacam ini menjadi pengingat bahwa kampus bukan hanya tempat menimba ilmu, tapi juga tempat di mana jiwa-jiwa muda berjuang dalam diam.
“Perundungan di kampus tidak selalu berupa kekerasan fisik. Ia bisa hadir lewat ucapan tajam, tatapan merendahkan, atau bahkan tekanan halus yang tak terlihat,” tutur Bambang dengan nada prihatin, Selasa (29/10/2025).
Menurutnya, tekanan sosial sekecil apa pun, jika datang terus-menerus, dapat meninggalkan luka yang tak tampak oleh mata.
“Kalimat sederhana bisa menumbuhkan semangat, tapi juga bisa mematikan harapan,” ucapnya pelan.
Bambang percaya, peran dosen jauh melampaui tugas mengajar di ruang kelas. Dosen, kata dia, juga punya tanggung jawab untuk menyapa dan memahami dunia batin mahasiswanya.
“Mahasiswa bukan sekadar nomor induk. Mereka manusia muda yang sedang belajar memahami hidup — dan kadang tersesat dalam tekanan,” ujarnya.
Ia lalu menambahkan, kadang, penyelamat itu tidak datang dalam bentuk besar.
“Terkadang, hanya lewat satu sapaan ringan, satu obrolan kecil di kantin, mahasiswa merasa tidak sendirian. Mereka merasa dilihat, dihargai, dan itu bisa jadi penyelamat,” katanya.
Bambang juga menekankan pentingnya peran dosen pembimbing akademik (PA) untuk lebih dekat dengan mahasiswa bimbingannya. Menurutnya, banyak persoalan pribadi yang baru muncul saat percakapan santai.
“Dari situ kadang kita tahu mereka kesulitan ekonomi, punya masalah keluarga, atau jadi korban perundungan. Semua bisa dimulai dari mendengar,” tuturnya.
Ia pun mengingatkan, lingkungan kampus yang ideal bukan hanya soal gedung dan fasilitas, tapi juga rasa aman untuk berbicara dan didengar.
“Prestasi akademik penting, tapi mahasiswa juga harus tahu, ada tempat di kampus untuk bercerita ketika hidup terasa berat,” ujarnya.
Bambang berharap setiap dosen dan tenaga kependidikan memiliki empati yang sama.
“Kita perlu tahu bagaimana cara menangani mahasiswa yang sedang berada di titik rapuh, atau setidaknya tahu ke mana harus merujuk mereka,” ucapnya.
Di akhir percakapan, Bambang menyampaikan pesan yang sederhana namun penuh makna.
“Dosen bukan sekadar pengajar. Ia teman bagi mahasiswa. Tugas kita bukan hanya menyampaikan ilmu, tapi juga menyapa mereka yang diam, dan merangkul yang terluka.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer






























































