Di era digital saat ini, anak-anak tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan gawai dan media sosial. Mereka belajar, bermain, bahkan berinteraksi melalui dunia maya. Media sosial memang menawarkan banyak manfaat, seperti memperluas wawasan, menambah teman, dan menjadi sarana kreativitas. Namun, tanpa bimbingan yang tepat, media sosial juga bisa membawa risiko: penyebaran berita bohong, perundungan siber, hingga kecanduan layar. Karena itu, membiasakan anak untuk bijak bermedia sosial sejak usia dini menjadi langkah penting yang harus dilakukan bersama.
Bijak bermedia sosial berarti anak-anak diajarkan untuk memahami etika berkomunikasi, berpikir kritis terhadap informasi, serta menghargai privasi diri dan orang lain. Mereka perlu dilatih agar tidak mudah menyebarkan berita tanpa verifikasi, tidak mengunggah data pribadi secara sembarangan, dan mampu menggunakan waktu secara sehat sehingga media sosial tidak mengganggu aktivitas belajar maupun interaksi langsung.
Media sosial tidak selalu memiliki dampak negatif; ketika digunakan dengan tepat, ia dapat memberikan manfaat berharga bagi perkembangan anak-anak. Pertama, media sosial memungkinkan anak-anak untuk berkomunikasi dengan teman-teman, keluarga, dan orang lain di luar lingkup geografis mereka. Hal ini membantu mereka membangun keterampilan sosial, meningkatkan kepekaan emosional, dan memperluas jaringan pertemanan. Kedua, media sosial menjadi sumber informasi yang kaya, di mana anak-anak dapat mempelajari topik-topik baru, mengikuti perkembangan dunia, dan mengembangkan minat mereka. Misalnya, mereka dapat mengikuti akun-akun yang berbagi pengetahuan tentang sains, seni, atau budaya. Ketiga, media sosial memberikan wadah bagi anak-anak untuk mengekspresikan diri, memamerkan bakat mereka, dan mendapatkan pengakuan dari orang lain. Hal ini dapat meningkatkan kepercayaan diri dan harga diri mereka.
Meskipun memiliki manfaat, media sosial juga menimbulkan sejumlah tantangan dan risiko bagi anak-anak. Salah satu risiko terbesar adalah paparan konten yang tidak pantas, seperti kekerasan, seksualitas, atau ujaran kebencian. Konten semacam ini dapat memengaruhi perkembangan emosional dan psikologis anak-anak, serta membentuk pandangan mereka tentang dunia yang salah. Risiko lain adalah cyberbullying, yaitu perilaku menyakitkan atau mengancam melalui media digital. Cyberbullying dapat menyebabkan kerusakan jiwa yang parah pada anak-anak, seperti kecemasan, depresi, dan bahkan pikiran bunuh diri. Selain itu, penggunaan media sosial yang berlebihan dapat menyebabkan masalah kesehatan, seperti gangguan tidur, masalah mata, dan kurangnya aktivitas fisik. Anak-anak juga berisiko mengalami ketergantungan pada media sosial, yang dapat memengaruhi kinerja mereka di sekolah dan hubungan dengan orang lain.
Media sosial telah menjadi bagian penting dari kehidupan sehari-hari anak-anak saat ini. Meskipun menawarkan berbagai manfaat, ia juga menimbulkan tantangan dan risiko yang tidak boleh diabaikan. Oleh karena itu, penting bagi orang tua, pendidik, dan anak-anak sendiri untuk bekerja sama guna memastikan bahwa anak-anak dapat menggunakan media sosial dengan cara yang bijak, bertanggung jawab, dan aman sejak dini. Dengan memberikan pendidikan, mengatur batasan, membangun hubungan yang baik, menggunakan fitur keamanan, dan mencontohkan perilaku yang baik, kita dapat membantu anak-anak memanfaatkan manfaat media sosial sambil menghindari risiko yang terkait dengannya. Hal ini akan membantu mereka tumbuh menjadi individu yang sehat, mandiri, dan mampu bersaing di era digital.
Peran orang tua dan guru sangat menentukan dalam membentuk kebiasaan ini. Orang tua dapat menjadi teladan dengan menggunakan media sosial secara bijak, sementara guru bisa memasukkan literasi digital dalam pembelajaran, misalnya melalui diskusi tentang dampak positif dan negatif media sosial. Kolaborasi antara sekolah dan keluarga akan menciptakan ekosistem digital yang aman dan mendukung tumbuh kembang anak.
Jika anak-anak terbiasa menggunakan media sosial dengan bijak, dampak positifnya akan terasa besar. Mereka akan belajar berkomunikasi secara sehat, mampu menyaring informasi dengan kritis, dan tumbuh dengan karakter digital yang kuat. Dengan bekal ini, anak-anak siap menghadapi tantangan zaman sekaligus menjadikan media sosial sebagai ruang belajar, berkarya, dan berinteraksi secara positif.
PENULIS : Cantika Aulia
UNIVERSITAS PAMULANG, FAKULTAS PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR S1 SEMESTER GANJIL 2025
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”










































































