Perubahan dunia kerja saat ini berjalan sangat cepat, terutama dengan masuknya tenaga kerja muda yang membawa cara pandang dan kebiasaan kerja yang berbeda dari generasi sebelumnya. Namun, tidak sedikit organisasi yang masih mempertahankan cara kerja lama tanpa penyesuaian. Kondisi ini sering kali menimbulkan kesenjangan antara harapan tenaga kerja baru dengan realitas yang mereka hadapi di lingkungan kerja.
Cara kerja lama umumnya identik dengan struktur yang kaku, jam kerja yang ketat, komunikasi satu arah, serta penilaian kinerja yang lebih menekankan kehadiran fisik dibandingkan hasil kerja. Pola seperti ini mungkin efektif di masa lalu, tetapi menjadi kurang relevan ketika dihadapkan pada tenaga kerja baru yang terbiasa dengan teknologi, fleksibilitas, dan kecepatan informasi. Bagi mereka, bekerja tidak hanya tentang menyelesaikan tugas, tetapi juga tentang makna, ruang berkembang, dan keseimbangan hidup.
Tenaga kerja baru cenderung menghargai lingkungan kerja yang terbuka dan kolaboratif. Mereka lebih berani menyampaikan pendapat, mengharapkan umpan balik yang cepat, serta ingin dilibatkan dalam pengambilan keputusan, meskipun dalam skala kecil. Ketika organisasi tetap memaksakan cara kerja lama yang hierarkis dan tertutup, hal ini dapat menurunkan motivasi dan rasa memiliki terhadap pekerjaan. Tidak jarang, situasi tersebut berujung pada tingginya tingkat pergantian karyawan.
Menurut penulis, permasalahan ini bukan semata-mata karena tenaga kerja baru dianggap “terlalu menuntut”, melainkan karena organisasi belum sepenuhnya siap menghadapi perubahan pola pikir. Tenaga kerja baru tumbuh di era digital yang menuntut efisiensi, transparansi, dan kecepatan. Oleh karena itu, mereka cenderung mempertanyakan aturan yang dianggap tidak relevan dan kurang berdampak langsung pada produktivitas.
Meski demikian, cara kerja lama tidak sepenuhnya harus ditinggalkan. Nilai-nilai seperti disiplin, tanggung jawab, dan etika kerja tetap penting untuk dijaga. Tantangannya adalah bagaimana organisasi mampu menggabungkan nilai-nilai tersebut dengan pendekatan kerja yang lebih fleksibel dan manusiawi. Penyesuaian jam kerja, pemanfaatan teknologi digital, serta pola komunikasi yang lebih terbuka dapat menjadi langkah awal untuk menjembatani perbedaan generasi.
Pada akhirnya, organisasi yang mampu beradaptasi akan lebih siap menghadapi dinamika dunia kerja ke depan. Cara kerja lama yang dipertahankan tanpa evaluasi hanya akan menjadi penghambat, bukan kekuatan. Sebaliknya, organisasi yang bersedia memahami pola pikir tenaga kerja baru dan melakukan penyesuaian akan memiliki sumber daya manusia yang lebih loyal, kreatif, dan berdaya saing. Dunia kerja terus berubah, dan keberhasilan tidak lagi ditentukan oleh siapa yang paling lama bertahan dengan cara lama, tetapi siapa yang paling mampu beradaptasi dengan cara baru.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”





































































