Erupsi Gunung Semeru di Jawa Timur, yang secara rutin melepaskan awan panas dan material vulkanik, adalah suatu fenomena alam yang secara mendalam mempengaruhi masyarakat sekitar. Dalam pandangan Ilmu Sosial, kejadian ini bukan hanya sebagai bencana geologis, tetapi juga menjadi kasus yang kompleks yang melibatkan hubungan antara manusia, lingkungan, ekonomi, dan sosial. Dampak letusan Semeru terhadap masyarakat dapat dipahami secara mendalam melalui dua konsep utama dalam ilmu sosial yaitu Kesejahteraan Sosial, dan Perubahan Sosial.
Konsep sosiologis Kesejahteraan Sosial dan Dampak Ekonomi Aspek paling penting dari dampak letusan Semeru terkait dengan konsep Kesejahteraan Sosial, yang merupakan inti dari studi Ekonomi dan Sosiologi dalam ilmu sosial Kesejahteraan diukur dari kepuasan kebutuhan dasar dan ketenangan dalam hidup seseorang. Gangguan Mata Pencaharian: Masyarakat yang tinggal di sekitar lereng Gunung Semeru, terutama di Kabupaten Lumajang, sangat bergantung pada sektor pertanian, peternakan, dan pertambangan pasir (Aji & Susilo, 2022). Erupsi menyebabkan hancurnya lahan pertanian dan menghambat aktivitas penambangan, sehingga menyebabkan hilangnya pekerjaan dan sumber penghasilan secara mendadak. Kondisi ini meningkatkan risiko terjadinya kemiskinan dan ancaman kestabilan ekonomi keluarga. Dislokasi dan Pengungsian, Hilangnya rumah membuat ribuan orang menjadi pengungsi. Kejadian ini membuat mereka sangat rentan, karena tidak hanya kehilangan barang berharga, tetapi juga merasa tidak aman. Dalam ilmu sosial, pengungsian merupakan salah satu bentuk perubahan sosial yang memerlukan bantuan dari pemerintah dan masyarakat agar kebutuhan dasar seperti makanan, pakaian, dan tempat tinggal para korban dapat terpenuhi.
Konsep sosiologis dan Solidaritas, Letusan Semeru menyebabkan perubahan sosial yang sangat cepat. Kejadian ini mengubah cara hidup masyarakat yang sebelumnya bergantung pada pertanian menjadi masyarakat yang harus beradaptasi dengan lingkungan yang baru. Solidaritas Sosial: Meskipun terjadi bencana, letusan Semeru menunjukkan rasa solidaritas yang sangat kuat. Bantuan yang cepat dari berbagai tempat, organisasi, dan pemerintah menunjukkan peran positif dari kelompok sosial dalam menghadapi situasi darurat. Rasa saling membantu dan kepedulian ini adalah cara yang penting untuk beradaptasi secara sosial saat pemulihan. Adaptasi Budaya, Masyarakat yang terkena dampak harus mengatur kembali kehidupan sosial mereka, beradaptasi dengan tempat tinggal baru, baik sementara maupun permanen. Proses ini melibatkan penyesuaian terhadap pekerjaan yang baru dan norma-norma yang ada di lingkungan baru, yang secara bertahap akan membantu mereka membangun budaya yang tahan terhadap bencana.
Dampak yang terjadi pada masyarakat akibat letusan Gunung Semeru dapat dilihat dari berbagai sudut pandang, yang dapat dipahami sepenuhnya melalui kacamata ilmu sosial. Situasi ini menunjukkan bahwa bencana alam tidak hanya menyebabkan kerusakan, tetapi juga membantu kehidupan masyarakat, menyoroti permasalahan dalam mengelola interaksi manusia dengan ruang dan, pada saat yang sama, memicu perubahan sosial seperti saling membantu dan beradaptasi. Oleh karena itu, penanganan pascabencana harus menyeluruh, tidak hanya fokus pada pembangunan kembali, tetapi juga pada penguatan masyarakat dan peningkatan kemampuan dalam menghadapi bencana di masa mendatang agar masyarakat dapat lebih aman dan hidup lebih baik.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”







































































