Tidak semua anak memulai perjalanan pendidikannya dengan mudah. Sebagian harus berjalan lebih lambat, bahkan tertinggal dari teman-temannya. Namun, terkadang justru dari keterlambatan itulah lahir kekuatan untuk bangkit. Itulah kisah yang pernah dialami oleh Fauzi Abdul Rohman.
Saat duduk di bangku kelas 1 Sekolah Dasar, Fauzi bukanlah anak yang menonjol. Ia dikenal sebagai anak yang lambat dalam belajar. Membaca pun belum mampu, sementara teman-temannya sudah mulai memahami pelajaran dengan baik. Akibatnya, ia harus menerima kenyataan pahit: tidak naik kelas selama dua tahun berturut-turut.
Orang tuanya tidak tinggal diam. Berbagai upaya telah dilakukan, termasuk mendatangkan guru privat agar Fauzi bisa belajar membaca dan mengejar ketertinggalannya. Namun, hasilnya belum juga terlihat. Fauzi masih kesulitan mengikuti pelajaran.
Tahun ketiga di kelas 1 menjadi salah satu momen terberat dalam hidupnya. Ia harus belajar di kelas yang sama dengan adik kandungnya sendiri. Tidak sedikit orang yang meragukan kemampuannya, bahkan hinaan dan ejekan sering ia dengar. Namun, justru dari situlah mulai tumbuh motivasi dalam dirinya untuk membuktikan bahwa ia mampu.
Perubahan pun mulai terjadi secara perlahan. Fauzi yang dahulu kesulitan membaca, mulai mampu memahami pelajaran. Bahkan, atas izin Allah, ia berhasil meraih peringkat 1 di kelas. Perubahan ini membuat banyak orang terkejut, termasuk orang tuanya sendiri.
Dari anak yang pernah dianggap lambat, Fauzi mulai dikenal sebagai siswa berprestasi. Saat menempuh pendidikan di SDN Pameungpeuk 2, ia aktif mengikuti berbagai perlombaan, baik akademik maupun non-akademik. Salah satu prestasinya adalah meraih Juara 2 Karate Kumite tingkat kabupaten. Ia juga dipercaya menjadi guru ngaji kecil, membimbing teman-temannya membaca Al-Qur’an.
Perjalanan pendidikannya berlanjut ke Pondok Modern Al-Aqsha Jatinangor, Sumedang, Jawa Barat. Di sana, Fauzi mengalami pembentukan karakter yang kuat. Ia aktif di berbagai klub, seperti PAI, IPS, Bahasa Arab, dan karate. Ia juga beberapa kali mewakili sekolah dalam kompetisi seperti Olimpiade IPS, lomba karate, dan LCC Bahasa Arab hingga tingkat nasional.
Tidak semua kompetisi berhasil dimenangkan, tetapi dari setiap pengalaman, Fauzi belajar tentang arti perjuangan dan kerja keras. Ia selalu mengingat satu mahfudzat:
“Man jadda wajada” – siapa yang bersungguh-sungguh akan mendapatkan hasilnya.
Di pesantren, Fauzi juga dipercaya memegang berbagai posisi kepemimpinan, seperti wakil OC event seni angkatan dan ketua angkatan. Ia mulai membentuk prinsip hidup: tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kekuatan mental, kepemimpinan, dan kontribusi sosial. Kerja kerasnya membuahkan hasil. Di akhir masa SMP, Fauzi mendapatkan nominasi lulusan terbaik pertama bidang pesantren.
Namun, perjalanan hidupnya tidak selalu mulus. Saat melanjutkan SMA di Al-Aqsha, ia menghadapi kenyataan pahit karena tidak dapat menyelesaikan pendidikannya di sana dan harus pindah sekolah saat kelas 2 semester 1. Dengan berat hati, ia meninggalkan tempat yang telah banyak membentuk dirinya.
Fauzi kemudian melanjutkan pendidikan di SMAN 5 Garut. Pada masa ini, ia sempat kehilangan arah dan motivasi. Namun, ia tidak ingin berlarut-larut dalam keadaan tersebut. Ia kembali bangkit dan mulai berproses.
Di sekolah barunya, Fauzi justru mendapatkan kepercayaan besar sebagai Ketua Pramuka (Pradana). Padahal sebelumnya ia tidak terlalu aktif di kegiatan tersebut. Rasa ragu sempat muncul, tetapi ia memilih untuk menerima tantangan itu. Baginya, belajar bisa dilakukan sambil berjalan. Selain aktif di sekolah, Fauzi juga terlibat dalam organisasi sosial Garut Selatan Peduli dan dipercaya menjadi Ketua Umum.
Setelah lulus SMA, perjuangannya belum selesai. Ia beberapa kali mengalami kegagalan saat mencoba masuk perguruan tinggi. Meski sempat diterima di salah satu universitas, orang tuanya lebih mendorongnya untuk melanjutkan pendidikan di UIN Sunan Gunung Djati Bandung.
Fauzi pun mencoba kembali, hingga akhirnya, atas izin Allah, ia diterima di Program Studi Manajemen, salah satu jurusan favorit di kampus tersebut. Di dunia perkuliahan, Fauzi kembali aktif. Ia mengikuti berbagai kegiatan volunteer, seperti Gerakan Mengajar Desa, di mana ia dipercaya menjadi mentor muda dan mendapatkan nominasi Mentor Ter-Care.
Selain itu, ia juga aktif di berbagai organisasi kampus, seperti HIPMI PT UIN Sunan Gunung Djati, Himpunan Mahasiswa Garut (Permata Intan Garut), dan DEMA Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam.
Prinsip hidup yang selalu ia pegang sederhana: “Kalau sudah masuk ke suatu tempat, jangan setengah-setengah.” Berkat prinsip tersebut, Fauzi beberapa kali mendapatkan nominasi anggota terbaik dalam organisasi yang diikutinya.
Kini, Fauzi Abdul Rohman adalah mahasiswa semester 6 yang terus berproses, belajar, dan berusaha memberikan manfaat bagi banyak orang. Perjalanannya menjadi bukti bahwa masa lalu tidak menentukan masa depan seseorang. Anak yang dahulu dua kali tidak naik kelas dan dianggap lambat belajar, kini mampu bangkit dan membuktikan bahwa dengan kerja keras, doa, dan kesungguhan, tidak ada yang mustahil. Seperti pesan yang selalu ia pegang: “Man jadda wajada – siapa yang bersungguh-sungguh pasti akan berhasil.”
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer



































































