SIARAN BERITA – Salah satu yang mencuri perhatian adalah risol manis, jajanan sederhana yang mendadak naik kelas menjadi primadona takjil di seluruh Indonesia. Menariknya, tren ini tidak lahir dari restoran besar atau industry makanan skala besar, melainkan dari dapur rumahan. Salah satu titik awal yang banyak diperbincangkan dating dari sosok “bu tatu” pelaku usaha kecil yang secara tak terduga menjadi pemantik gelombang tren ini.
Awal mula risol ini dikenal luas tidak bisa dilepaskan dari kisah pilu yang menyertainya. Sosok di balik layar, keluarga Bu Tatu, pernah mengalami kehilangan mendalam atas kepergian sang anak, almarhumah Lula lahfah, dalam sebuah peristiwa tragis yang sempat menyita perhatian publik. Namun dari luka itulah, perlahan muncul kekuatan baru sebuah usaha kecil yang kemudian berkembang menjadi fenomena besar.
Yang membuat risol Bu Tatu berbeda bukan sekadar rasanya, tetapi juga cara ia diperkenalkan ke publik. Proses pembuatan risol dibagikan secara jujur melalui media sosial mulai dari adonan kulit yang dituang tipis di wajan, isian yang disiapkan dengan penuh perhatian, hingga momen menggulung risol yang sering dilakukan bersama adik Lula. Ada kehangatan, ada kebersamaan, dan ada rasa “nyata” yang jarang ditemukan dalam konten kuliner pada umumnya.
Keunggulan produk ini juga tak bisa diabaikan. Lapisan kulitnya yang sangat tipis menciptakan tekstur ringan namun tetap renyah saat digigit. Di dalamnya, isian melimpah menjadi daya tarik utama tebal, padat, dan terasa “niat”. Untuk varian manis, sensasi lumer di dalam benar-benar menjadi pengalaman yang memanjakan lidah. Ini bukan sekadar camilan, melainkan pengalaman rasa yang lengkap.
Seiring meningkatnya popularitas, varian risol manis menjadi salah satu yang paling diburu. Dua rasa yang menonjol adalah matcha dan coklat, yang menawarkan perpaduan rasa kekinian dengan tekstur lumer yang khas. Produk ini juga dipasarkan dalam bentuk frozen, sehingga lebih praktis untuk disimpan dan dinikmati kapan saja. Dengan harga yang dimulai dari Rp60.000 per pack, risol ini tetap diminati meskipun tidak tergolong murah untuk ukuran camilan rumahan.
Namun menariknya, di tengah tingginya permintaan, sistem pemesanan tetap dibuat sederhana bahkan cenderung “menantang”. Tidak ada sistem pre-order yang rapi atau pemesanan massal yang terjadwal. Konsumen harus “war”, menunggu update di Instagram, dan bergerak cepat ketika informasi penjualan dibuka. Alih-alih menjadi hambatan, sistem ini justru menciptakan eksklusivitas tersendiri. Risol Bu Tatu bukan hanya soal rasa, tapi juga soal momen dan keberuntungan untuk mendapatkannya.
Dari titik inilah efek domino mulai terlihat. Tingginya permintaan yang tidak sepenuhnya bisa dipenuhi membuka peluang baru di pasar. Di berbagai daerah, pelaku usaha rumahan hingga UMKM mulai terinspirasi untuk menghadirkan produk serupa, terutama risol dengan varian manis dan isian melimpah. Dalam waktu singkat, tren ini menyebar ke berbagai kota di Indonesia. Risol manis yang sebelumnya tidak terlalu populer, kini menjelma menjadi salah satu primadona baru di dunia kuliner.
Fenomena ini menunjukkan bahwa viralitas tidak hanya berdampak pada satu pelaku usaha, tetapi juga mampu menggerakkan ekosistem yang lebih luas. Dari dapur Bu Tatu, lahir gelombang tren yang menciptakan peluang ekonomi baru bagi banyak orang. Meski demikian, tidak semua mampu menghadirkan hal yang sama. Sebab yang membuat Risol Bu Tatu begitu kuat bukan hanya produknya, tetapi juga cerita, proses, dan keaslian yang menyertainya.
Pada akhirnya, fenomena ini mencerminkan perubahan perilaku konsumen di era digital. Orang tidak lagi hanya membeli produk, tetapi juga cerita, proses, dan kedekatan emosional. Transparansi dalam produksi, keaslian konten, dan interaksi langsung dengan pembuat menjadi nilai tambah yang sangat kuat.
Dari dapur kecil hingga menjadi viral, perjalanan Risol Bu Tatu adalah refleksi dari kekuatan sederhana yang sering dilupakan: ketulusan. Di balik setiap gulungan risol, ada cerita, ada kehilangan, ada harapan, dan ada kerja keras yang nyata. Dan mungkin, itulah resep utama yang membuatnya begitu istimewa di mata banyak orang.
Ditulis Oleh:
Citra Anindya Ayu Kusuma, Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Negeri Yogyakarta
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer































































