Pernahkah kita merasa kesal saat terjebak macet, hanya untuk menemukan penyebabnya adalah pengendara yang menerobos lampu merah atau melawan arus? Ironisnya, banyak dari kita mungkin pernah melakukan hal yang sama. Di sinilah letak masalahnya: ketidakdisiplinan berlalu lintas bukan sekadar pelanggaran aturan, tetapi cerminan sikap kita sebagai warga negara.
Jalan raya adalah ruang publik yang mempertemukan berbagai kepentingan. Ketika seseorang mengabaikan rambu lalu lintas, tidak hanya dirinya yang terancam, tetapi juga keselamatan orang lain. Tindakan kecil seperti tidak memakai helm, menerobos lampu merah, atau menggunakan ponsel saat berkendara menunjukkan rendahnya kesadaran akan tanggung jawab sosial. Padahal, menjadi warga negara yang baik tidak hanya diukur dari kepatuhan terhadap hukum besar, tetapi juga dari kebiasaan sehari-hari seperti tertib di jalan.
Permasalahan ini semakin kompleks karena sering dianggap sepele. Banyak orang beranggapan bahwa melanggar aturan lalu lintas adalah hal biasa selama tidak ada polisi. Pola pikir ini menunjukkan bahwa disiplin masih bersifat “terpaksa”, bukan kesadaran sendiri. Akibatnya, kecelakaan lalu lintas terus meningkat dan merenggut banyak korban setiap tahunnya.
Lebih dari itu, ketidakdisiplinan di jalan mencerminkan budaya instan dan egois: ingin cepat sampai tanpa memikirkan dampaknya. Jika sikap ini terus dibiarkan, maka sulit berharap terciptanya masyarakat yang tertib dan beradab. Sebaliknya, ketika setiap individu mulai disiplin mengikuti peraturan seperti berhenti saat lampu merah, memberi jalan pada pejalan kaki, dan mematuhi aturan yang ada maka kita secara tidak langsung sedang membangun budaya saling menghargai.
Oleh karena itu, disiplin berlalu lintas harus ditanamkan sebagai nilai, bukan sekadar kewajiban. Peran keluarga, pendidikan, dan penegakan hukum yang konsisten sangat penting dalam membentuk kebiasaan ini. Kampanye keselamatan jalan juga perlu dikemas lebih menarik agar menyentuh kesadaran masyarakat, bukan hanya menakut-nakuti dengan sanksi.
Pada akhirnya, jalan raya adalah “cermin berjalan” dari karakter bangsa. Jika kita ingin dikenal sebagai masyarakat yang tertib, maka mulailah dari hal sederhana: patuh pada aturan lalu lintas. Karena menjadi warga negara yang baik tidak dimulai dari hal besar, melainkan dari kebiasaan kecil yang dilakukan dengan konsisten setiap hari.
Penulis :
Deriyan Steffanto
Administrasi Publik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Negeri Yogyakarta
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer






























































