Di dunia kampus sekarang, kata “ilmu” udah jadi hal yang sangat diagungkan. Banyak orang berusaha tampil paling ilmiah, paling rasional, dan paling kritis. Namun, di tengah semangat akademik itu, kita kadang lupa nanya hal paling mendasar: sebenarnya, ilmu itu buat apa? Apakah ilmu cuma untuk dapet nilai, jabatan, atau prestise sosial? Atau seharusnya ilmu punya nilai yang lebih tinggi, yang bisa nyambungin kita ke Tuhan?
Di sinilah epistemologi Islam menjadi sangat penting untuk dibahas. Epistemologi Islam tidak hanya berbicara tentang bagaimana manusia memperoleh pengetahuan, tetapi juga bagaimana pengetahuan itu seharusnya diarahkan agar memiliki nilai tauhid; nilai yang menyatukan seluruh pengetahuan kepada Allah sebagai sumber kebenaran tertinggi.
Secara sederhana, epistemologi itu cabang filsafat yang membahas tentang pengetahuan dari mana asalnya, gimana cara dapatnya, dan bagaimana cara menentukan kebenarannya. Dalam dunia filsafat Barat, epistemologi biasanya dibagi dua aliran besar rasionalisme yang mengandalkan akal dan empirisme yang mengandalkan pengalaman.
Tapi dalam pandangan Islam, dua hal itu tidak cukup. Islam menambah satu sumber lagi yang jauh lebih tinggi wahyu.
Jadi, epistemologi Islam bisa digambarkan sebagai proses mencari ilmu lewat indra, akal, dan wahyu dengan semuanya mengarah ke satu titik: tauhid.
Dalam Islam, ilmu tidak pernah dipisahkan dari iman. Ilmu bukan cuma urusan duniawi, tapi juga bagian dari jalan untuk mengenal Allah. Itu sebabnya Al-Qur’an berulang kali menyebut kata ‘ilm (pengetahuan) bersanding dengan kata iman dan hikmah.
Akal dalam Islam tidak pernah dilarang justru diperintah buat dipakai. Tapi akal harus punya arah. Arah itu ditentukan oleh wahyu. Karena secerdas apa pun manusia, tetap ada batas yang tidak bisa ditembus kalau cuma mengandalkan logika dan pengalaman.
Wahyu berfungsi sebagai kompas. Akal bisa jalan jauh, tapi tanpa arah dari wahyu, ia bisa nyasar ke mana-mana. Epistemologi Islam mengajarkan kita bahwa akal dan wahyu bukan dua hal yang bertentangan, tapi dua sisi dari satu kesatuan yang sama-sama menuju tauhid, yaitu pengakuan bahwa segala ilmu berasal dari dan bermuara pada Allah.
Tauhid bukan cuma konsep teologis, tapi juga prinsip epistemologis. Artinya, tauhid bukan cuma soal mengakui bahwa “Tuhan itu satu”, tapi juga cara kita memahami realitas dan ilmu.
Dalam pandangan tauhid, semua cabang ilmu baik sains, sosial, humaniora, sampai agama sebenarnya saling terhubung dan punya akar yang sama: semua berasal dari Allah.
Jadi, tidak ada dikotomi antara ilmu agama dan ilmu umum. Ilmu fisika, biologi, ekonomi, atau komunikasi bisa bernilai tauhid kalau dipelajari dan digunakan dengan niat yang benar, untuk kemaslahatan dan pengenalan terhadap kebesaran Allah.
Sebaliknya, bahkan ilmu agama pun bisa kehilangan nilai tauhid kalau tujuannya cuma hanya dijadikan alat untuk mencari pujian atau cari posisi.
Maka dari itu dalam epistemologi Islam, nilai tauhid itu bukan tempelan, tapi fondasi. Ia mengatur arah, niat, dan tujuan setiap proses pencarian ilmu. Ilmu yang benar bukan cuma yang logis atau empiris, tapi yang bikin manusia makin sadar siapa dirinya dan siapa Tuhannya.
Kita hidup di era yang sering disebut “era informasi”, tapi anehnya, banyak orang justru kehilangan makna. Ilmu berkembang pesat, teknologi maju luar biasa, tapi krisis moral dan spiritual makin parah.
Itu karena ilmu zaman sekarang kebanyakan udah kehilangan nilai tauhid ia jadi sekuler, terpisah dari sumber ilahi.
Banyak mahasiswa belajar biar cepat lulus, bukan untuk mengerti makna hidup. Banyak peneliti nyari dana, bukan nyari kebenaran. Akhirnya, ilmu jadi kering, tidak punya arah, dan sering disalahgunakan.
Epistemologi Islam datang untuk mengingatkan bahwa ilmu tanpa tauhid ibarat tubuh tanpa jiwa hidup, tapi kosong.
Epistemologi Islam memandang bahwa proses manusia dalam mengetahui sesuatu itu melibatkan tiga dimensi besar:
1. Indrawi: lewat pengamatan langsung. Ini penting buat membangun bukti empiris.
2. Rasional: lewat akal dan logika buat menganalisis data dan fakta.
3. Spiritual (qalb): melalui hati yang bersih yang diterangi oleh iman.
Dimensi ketiga ini yang sering diabaikan oleh epistemologi Barat. Dalam Islam, qalb (hati) bukan cuma tempat perasaan, tapi juga alat untuk memahami kebenaran.
Kalau hati rusak, ilmu bisa menipu. Tapi kalau hati bersih, ilmu bisa jadi cahaya. Karena itu, dalam Islam, menuntut ilmu selalu harus diiringi dengan (tazkiyatun nafs) penyucian diri.
Dengan begitu, ilmu bukan sekadar aktivitas intelektual, tapi juga spiritual. Orang yang ilmunya tinggi tapi hatinya kotor, ibarat punya kompas tapi diselimuti kabut arahnya tetap tidak terlihat.
Syed Muhammad Naquib al-Attas, seorang pemikir Muslim modern, mengatakan bahwa krisis umat Islam bukan hanya disebabkan oleh kurangnya ilmu, tetapi juga karena hilangnya adab terhadap ilmu. Adab di sini berarti mengetahui kedudukan, mengetahui arah, dan mengetahui tujuan dari ilmu itu sendiri.
Dalam epistemologi Islam, tujuan belajar bukan buat “menguasai” alam, tapi untuk memahami tanda-tanda Tuhan dalam ciptaan-Nya. Jadi, seorang ilmuwan Muslim seharusnya bukan cuma ahli di bidangnya, tapi juga sadar bahwa ilmunya adalah amanah dari Allah yang harus digunakan untuk kebaikan.
Ilmu yang bernilai tauhid itu ilmu yang bikin manusia merendah, bukan sombong. Ilmu yang bikin kita makin dekat sama Sang Pencipta, bukan makin jauh. Kalau belajar bikin kita tinggi hati, berarti ada yang salah dengan orientasi ilmunya.
Sebagai mahasiswa, kita hidup di zaman yang serba cepat, serba digital, dan serba pragmatis. Kadang, niat belajar pun jadi dangkal: “Yang penting lulus, yang penting IPK tinggi.” Padahal, kalau kita sadar nilai tauhid dalam ilmu, belajar itu bisa jadi bentuk ibadah.
Belajar fisika bisa bikin kita kagum pada keteraturan ciptaan Allah. Belajar ekonomi bisa ngajarin kita tentang keadilan sosial. Belajar sastra bisa bikin kita mengerti keindahan bahasa Allah dalam Al-Qur’an.
Kalau semua itu dilakukan dengan kesadaran bahwa ilmu berasal dari Allah dan kembali kepada Allah, maka semuanya jadi bernilai ibadah.
Itulah yang dimaksud epistemologi Islam sebagai jalan menuju ilmu yang bernilai tauhid: bukan sekadar kumpulan teori, tapi cara pandang yang menyatukan seluruh aspek pengetahuan dengan kesadaran Ilahi.
Pada akhirnya, epistemologi Islam mengajak kita buat menata ulang cara kita belajar dan berpikir. Ilmu bukan tujuan akhir, tapi jalan menuju pengenalan kepada Allah.
Ilmu yang bernilai tauhid itu bukan cuma membuat kita pintar, tetapi juga membuat kita bijak dan tenang. Karena ilmu yang sejati bukan yang bikin manusia sombong, tapi yang bikin manusia sadar akan kebesaran Sang Pencipta.
Dalam Al-Quran, Allah berfirman:
“Sesungguhnya orang-orang yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah orang-orang yang berilmu.” (QS. Fatir: 28)
Jadi, semakin tinggi ilmu seseorang, seharusnya semakin tinggi pula rasa tunduk dan syukurnya kepada Allah. Itulah puncak dari epistemologi Islam ilmu yang tidak berhenti di akal, tapi berakhir pada tauhid, yaitu pengakuan total bahwa semua pengetahuan, semua kebenaran, dan semua cahaya berasal dari satu sumber: Allah Subhanahu wa Ta‘ala.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”










































































