Transformasi komunikasi di era digital perlahan menggeser cara manusia berinteraksi. Dari relasi yang kaya nuansa emosional, komunikasi kini kian dipersempit menjadi transaksi informasi yang serba cepat, ringkas, dan efisien. Dalam proses ini, satu elemen penting bahasa justru terpinggirkan: basa-basi atau small talk.
Padahal, secara psikolinguistik, basa-basi bukanlah percakapan kosong. Ia menjalankan fungsi fatik bahasa (phatic communion), yakni membangun dan memelihara ikatan sosial antarindividu. Ketika kita bertanya “Apa kabar?” atau mengomentari cuaca, kita sebenarnya sedang melakukan pemindaian emosional—menguji kesiapan, suasana batin, dan posisi sosial lawan bicara. Di situlah empati mulai bekerja.
Namun, budaya komunikasi digital cenderung menyingkirkan fungsi ini. Pesan-pesan singkat di aplikasi percakapan lebih berorientasi pada transactional talk: langsung ke inti, minim konteks, dan bebas basa-basi. Akibatnya, dimensi interactional talk—bahasa yang berfungsi menjaga hubungan—mengalami erosi. Interaksi menjadi mekanis, kaku, dan miskin kehangatan.
Dalam kajian psikolinguistik, memahami maksud seseorang tidak hanya bergantung pada makna kata, tetapi juga pada konteks, intonasi, ekspresi wajah, dan isyarat pragmatik lainnya. Basa-basi menyediakan jeda kognitif bagi otak untuk menyesuaikan diri dengan frekuensi emosional lawan bicara. Ketika elemen ini hilang, kemampuan Theory of Mind—yakni membaca perspektif dan perasaan orang lain—perlahan tumpul.
Dampak lanjutannya cukup serius. Kita berisiko mengalami apa yang bisa disebut sebagai “kebutaan interaksional”: mahir bertukar informasi, tetapi gagap membaca emosi. Lebih jauh lagi, manusia cenderung terobjektifikasi. Lawan bicara diperlakukan sebagai fungsi atau alat, bukan sebagai subjek yang memiliki perasaan dan pengalaman.
Empati, sejatinya, membutuhkan waktu. Ia tumbuh dalam ruang-ruang sapaan yang sering dianggap remeh dan tidak produktif. Basa-basi adalah bentuk pengakuan eksistensial—sebuah sinyal bahwa kehadiran orang lain diakui dan dihargai. Tanpanya, mesin sosial manusia (interactional engine) kehilangan pelumasnya.
Karena itu, erosi basa-basi di era digital tidak bisa dipandang sekadar sebagai perubahan gaya komunikasi. Ia adalah ancaman terhadap fondasi kemanusiaan kita. Peradaban yang terlalu memuja efisiensi berisiko menjadi sangat informatif, tetapi kering secara emosional dan rapuh secara sosial.
Sebagai penutup, penting bagi kita—terutama para pendidik bahasa—untuk mereklamasi fungsi interaksional bahasa. Bahasa tidak cukup diajarkan sebagai sistem tata bahasa dan struktur kalimat, tetapi juga sebagai sarana membangun empati dan koneksi antarmanusia. Dalam setiap sapaan ringan dan kalimat yang dianggap “tidak penting”, sesungguhnya kecerdasan interaksional sedang dilatih dan kemanusiaan kita sedang dirajut kembali.
Tanpa basa-basi, kita mungkin akan hidup dalam dunia yang serba cepat dan efisien, tetapi kehilangan kehangatan yang membuat kita benar-benar manusia. (*)
Penulis: Ahmad Al Farizi (Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, UNW Mataram)
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”










































































