Fenomena viral pembatasan media sosial bagi anak di bawah 16 tahun, menunjukkan perkembangan teknologi digital telah membawa dampak signifikan terhadap kehidupan sosial dan psikologis remaja (Haddock et al., 2022). Dari sisi individu, penyebaran informasi yang belum tentu benar dapat menimbulkan kecemasan, kebingungan, serta kesalahpahaman pada remaja dan orang tua terkait aturan penggunaan media sosial. Berbagai dampak yang diakibatkan dengan peningkatan paparan media, salah satunya adalah fenomena “Doomscrolling”. Tren “doomscrolling” adalah kebiasaan terus-menerus mengonsumsi berita negatif atau konten yang memicu stres di media sosial (Winarko, 2023). Remaja dapat merasa terancam kehilangan akses terhadap ruang interaksi digital, sementara orang tua bisa menjadi terlalu khawatir atau justru salah dalam mengambil keputusan tanpa dasar informasi yang jelas.
Dari sisi sosial, fenomena ini memperlihatkan bagaimana media sosial mempercepat penyebaran informasi sekaligus memperbesar potensi misinformasi. Informasi yang viral sering kali diterima begitu saja dan disebarkan ulang tanpa proses verifikasi, sehingga membentuk opini publik yang belum tentu sesuai dengan fakta. Hal ini berdampak pada terbentuknya persepsi kolektif yang dapat memengaruhi sikap masyarakat terhadap isu pembatasan tersebut, baik dalam bentuk dukungan maupun penolakan. Oleh karena itu, fenomena ini menunjukkan pentingnya literasi digital dan kemampuan berpikir kritis dalam menghadapi arus informasi yang cepat, karena keduanya membantu individu dalam menyaring dan mengevaluasi informasi sehingga tidak mudah terpengaruh oleh hoaks (Kominfo, 2020; UNESCO, 2021). Tanpa kemampuan tersebut, masyarakat akan lebih rentan terhadap hoaks dan misinformasi yang dapat memengaruhi cara pandang serta pengambilan keputusan. Dengan demikian, pembahasan ini menegaskan bahwa pengaruh utama dari fenomena viral ini tidak hanya terletak pada isi informasinya, tetapi juga pada bagaimana informasi tersebut dipahami, ditafsirkan, dan disebarkan oleh masyarakat.
Hubungan fenomena ini dengan Logika Penyelidikan Ilmiah adalah bagaimana suatu informasi seharusnya ilmu pengetahuan diperoleh melalui proses berpikir logis dan sistematis yang dapat dipertanggungjawabkan (Suriasumantri, 2010). Namun, dalam fenomena ini, banyak masyarakat yang langsung mempercayai dan menyebarkan informasi tanpa melalui proses penyelidikan tersebut, sehingga informasi yang belum tentu benar dapat dengan cepat menjadi viral.
Selain itu, LPI menekankan pentingnya sikap kritis dan skeptis terhadap informasi yang diterima. Dalam konteks ini, masyarakat seharusnya tidak langsung menerima isu pembatasan media sosial sebagai fakta, dalam bukunya yang berjudul Beyond Feelings: A Guide to Critical Thinking, Vincent Ryan Ruggiero mengatakan bahwa ada tiga aktivitas dasar yang terlibat dalam pemikiran kritis yaitu menemukan bukti, memutuskan apa arti buku itu, dan mencapai kesimpulan berdasarkan bukti itu. Berbagai bentuk fakta yang dapat kita peroleh dari otoritas, kertas riset, statistik, testimoni, dan informasi lainnya. Ketika tahapan ini diabaikan, maka yang terjadi adalah terbentuknya pemahaman yang keliru dan penyebaran misinformasi secara luas. Gambaran mengapa harus berfikir kritis karena realitas masyarakat kita yang sejak dulu kala selalu diwarnai dengan kebodohan dan tidak memiliki analisis kritis. Mereka sangat mudah dijajah, dibohongi, dan dimanfaatkan oleh kekuatan yang mengisapnya dan mengambil keuntungan sendiri.
Kesimpulan
Dengan demikian, fenomena ini menunjukkan bahwa penerapan prinsip-prinsip LPI dalam kehidupan sehari-hari masih belum optimal. Banyak individu yang belum terbiasa melakukan penyelidikan sederhana terhadap informasi yang diterima, sehingga mudah terpengaruh oleh arus informasi digital. Dari sisi individu, hal ini berdampak pada munculnya kecemasan dan kesalahpahaman, sementara dari sisi sosial dapat membentuk opini publik yang tidak selalu sesuai dengan fakta. Dalam perspektif Logika Penyelidikan Ilmiah, fenomena ini mencerminkan belum optimalnya penerapan proses berpikir logis, sistematis, dan berbasis bukti dalam menilai kebenaran informasi. Oleh karena itu, diperlukan peningkatan literasi digital dan kemampuan berpikir kritis agar masyarakat mampu menyaring, mengevaluasi, dan menyikapi informasi secara rasional, sehingga tidak mudah terpengaruh oleh fenomena viral yang belum tentu benar.
Daftar Pustaka
Barthel, M., Mitchell, A., & Holcomb, J. (2016). Many Americans believe fake news is sowing confusion. Pew Research Center. https://www.pewresearch.org/journalism/2016/12/15/many-americans-believe-fake-news-is-sowing-confusion/
Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Lampung. (2023). Mengapa pentingnya literasi digital dalam era digital? https://perpusda.lampungprov.go.id/detail-post/mengapa-pentingnya-literasi-digital-dalam-era-digital
Haddock, G., Keatley, D. A., & Houston, D. M. (2022). Social psychology. Sage Publications.
Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia. (2020). Literasi digital adalah. https://aptika.kominfo.go.id/2020/10/literasi-digital-adalah/
Kementerian Komunikasi dan Digital Republik Indonesia. (2026, Maret 10). Pemerintah jelaskan alasan penundaan akses media sosial bagi anak di bawah 16 tahun. https://komdigi.go.id/berita/siaran-pers/detail/pemerintah-jelaskan-alasan-penundaan-akses-media-sosial-bagi-anak-di-bawah-16-tahun
Ruggiero, V. R. (2012). Beyond feelings: A guide to critical thinking (9th ed.). McGraw-Hill.
Suriasumantri, J. S. (2010). Filsafat ilmu: Sebuah pengantar populer. Pustaka Sinar Harapan.
UNESCO. (2021). Media and information literacy. https://www.unesco.org/en/media-information-literacy
Winarko, H. B. (2024). Kecemasan digital: Penggunaan media sosial dan dampaknya terhadap kesehatan mental remaja Indonesia. Soetomo Communication and Humanities.
Yudha, B. P., Khairani, D., & Yanti, F. (2025). Tinjauan literatur sistematis: Pengaruh adiksi media sosial terhadap kesejahteraan remaja. JPTAM.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer




























































