Transformasi sistem pendidikan melalui perubahan kurikulum merupakan keniscayaan dalam menjawab tantangan zaman. Indonesia telah mengalami perjalanan panjang kurikulum mulai dari Kurikulum Berbasis Kompetensi (2004), KTSP (2006), Kurikulum 2013, hingga yang terbaru Kurikulum Merdeka. Kurikulum Merdeka hadir sebagai solusi atas krisis pembelajaran pascapandemi dengan menawarkan tiga pilar utama: pengembangan soft skills, fokus materi esensial, dan fleksibilitas belajar melalui program P5 dan skema implementasi bertahap.
Namun yang terjadi justru sebuah BENCANA PENDIDIKAN yang sangat mengerikan! Kurikulum ini telah berubah menjadi monster yang menghancurkan masa depan generasi muda. Guru-guru dibuat seperti robot yang kelelahan dengan administrasi tak berujung, sementara siswa-siswa dijebak dalam proyek P5 yang menyita semua waktu belajar mereka sampai hampir tak ada lagi kesempatan untuk memahami pelajaran dasar. Kebijakan kenaikan kelas otomatis telah menciptakan generasi pemalas yang tak lagi memiliki motivasi belajar. Yang lebih mengerikan lagi, penghapusan ujian nasional telah melahirkan krisis intelektual terbesar dalam sejarah pendidikan Indonesia!
Dampak destruktif ini semakin nyata dengan merosotnya kemampuan dasar siswa. Konten viral di media sosial menunjukkan betapa mengerikannya kondisi itu – siswa tidak mampu menjawab pertanyaan sejarah paling dasar sekalipun. Program P5 yang seharusnya membentuk karakter justru berubah menjadi mesin pembunuh waktu belajar yang efektif, memproduksi generasi yang lelah secara mental namun kosong secara pengetahuan.
Kekhawatiran semakin menjadi-jadi ketika melihat fakta bahwa 80% siswa di platform Quora mengaku mengalami kelelahan ekstrem dan kebingungan belajar. Fleksibilitas yang dijanjikan kurikulum justru berubah menjadi kekacauan sistemik dimana guru dan siswa sama-sama tersesat dalam labirin proyek dan administrasi tanpa ujung.
Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa Kurikulum Merdeka dalam implementasinya justru menjadi ancaman serius bagi masa depan pendidikan Indonesia. Daripada menjadi solusi, kurikulum ini malah memperparah krisis pembelajaran dengan menciptakan generasi yang lelah, stres, dan minim pengetahuan dasar. Jika tidak segera dilakukan evaluasi total, dikhawatirkan Indonesia akan kehilangan satu generasi penerus bangsa akibat eksperimen kurikulum yang terburu-buru ini.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”










































































