Hiu Tikus, Penjaga Laut yang Kian Terancam di Perairan Indonesia
Di kedalaman laut biru Indonesia, hidup satu predator laut yang jarang terlihat namun memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem: hiu tikus pelagik (Alopias pelagicus). Spesies ini dikenal karena ekornya yang panjang menyerupai cambuk, yang digunakan untuk melumpuhkan mangsa saat berburu. Keunikan ini menjadikan hiu tikus sebagai salah satu hiu paling khas di dunia.
Indonesia merupakan salah satu wilayah penting bagi keberadaan hiu tikus. Spesies ini tersebar luas di perairan tropis dan subtropis, termasuk di kawasan Nusa Tenggara Timur, khususnya Perairan Alor dan Laut Sawu. Namun, di balik kekayaan laut tersebut, hiu tikus kini menghadapi ancaman serius akibat aktivitas manusia.
Berbagai laporan menunjukkan bahwa populasi hiu tikus mengalami penurunan tajam dalam beberapa dekade terakhir. Penangkapan berlebih, baik sebagai target utama maupun tangkapan sampingan perikanan tuna dan pelagis, menjadi ancaman terbesar. Praktik ini diperparah oleh tingginya nilai ekonomi sirip hiu di pasar internasional, meskipun regulasi perdagangan telah diperketat melalui CITES.
Secara global, hiu tikus telah dikategorikan sebagai spesies terancam punah. Laju reproduksinya yang lambat membuat populasi hiu ini sulit pulih ketika tekanan penangkapan terus berlangsung. Jika eksploitasi tidak dikendalikan, keberadaan hiu tikus di perairan Indonesia terancam hilang dalam waktu yang tidak lama.
Upaya konservasi mulai menunjukkan harapan. Di Alor, sejumlah lembaga konservasi bersama peneliti dan masyarakat lokal melakukan riset migrasi, penandaan hiu, serta edukasi kepada nelayan. Pendekatan berbasis komunitas terbukti mampu menekan angka penangkapan hiu tikus secara signifikan, sekaligus membuka alternatif mata pencaharian berkelanjutan.
Selain bernilai ekologis, hiu tikus juga memiliki potensi ekonomi jangka panjang melalui ekowisata bahari. Kehadiran hiu tikus menjadi daya tarik wisata selam yang bernilai tinggi, jauh melampaui keuntungan sesaat dari penangkapan. Model ini menegaskan bahwa konservasi dan kesejahteraan masyarakat dapat berjalan beriringan.
Melindungi hiu tikus bukan sekadar menyelamatkan satu spesies, tetapi menjaga keseimbangan laut Indonesia. Tanpa predator puncak seperti hiu, rantai makanan laut akan terganggu, yang pada akhirnya berdampak pada perikanan dan kehidupan masyarakat pesisir. Masa depan hiu tikus sangat bergantung pada komitmen bersama: kebijakan yang tegas, riset berkelanjutan, dan kesadaran publik yang terus tumbuh.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”









































































