A. Latar Belakang
Masa remaja merupakan masa perkembangan dengan perubahan yang signifikan, baik secara fisik maupun emosional. Selama berjalannya masa ini, remaja sering kali menghadapi tuntutan sosial dan konflik terhadap diri sendiri yang membuat remaja sering mengalami kecemasan. Kualitas tidur menjadi salah satu penandanya, durasi tidur terbukti dapat memprediksi gangguan kecemasan pada remaja, tetapi hubungan antara kulitas tidur dan gangguan kecemasan masih belum jelas. (Kim, H. et al., 2022).
Banyak aspek yang dapat menyebabkan kurangnya waktu tidur remaja, meliputi tugas yang menumpuk, penggunaan gadget yang berlebihan, konsumsi kafein secara berkala dan masih banyak lagi. Remaja akan merasa cemas ketika mereka mulai merasa lelah dan khawatir tidak bisa menyelesaikan semua secara bersamaan. Pada titik tertentu, kecemasan dapat sangat mengganggu kualitas tidur hingga meningkatkan insomnia (Yang et al., 2020).
B. Tujuan Penulisan
Mengetahui hubungan signifikan kualitas tidur dengan tingkat kecemasan remaja.
Menjelaskan bagaimana kualitas tidur dapat memengaruhi kondisi emosional remaja.
C. Manfaat Penulisan
1. Dapat mendeskripsikan hubungan kualitas tidur dengan tingkat kecemasan
remaja.
2. Menambah referensi untuk memahami bagaimana kebiasaan tidur dapat
memengaruhi kondisi kecemasan remaja.
3. Meningkatkan pengetahuan pembaca dalam pentingnya pola tidur yang baik.
Pengertian Kecemasan
Kecemasan merupakan perubahan situasi dan kondisi pada seseorang yang dapat menimbulkan khawatir, ketakutan, dan gelisah dari ancaman internal dan eksternal (Anissa et al., 2018). Cemas dapat terjadi di setiap kalangan usia, termasuk remaja. Remaja dapat merasakan peningkatan cemas dari berbagai aspek, salah satunya melalui pengaruh kualitas tidur. Remaja yang mengidap gangguan kecemasan ringan pada umumnya memiliki gejala psikosomatis, yang apabila tidak bisa diatasi dengan baik dapat memberikan dampak buruk hingga menyebabkan seseorang mengalami kegelisahan saat ingin tidur (Wicaksono et al., 2020). Kesulitan emosional yang dapat meningkatkan keadaan stress dan kecemasan subjektif, serta peningkatan reaksi simpatetik terhadap stimulus yang tidak menyenangkan dapat disebabkan oleh gangguan tidur, seperti kekurangan waktu tidur (Dhamayanti et al., 2019).
World Health Organization (WHO) pada tahun 2019 merilis data sebanyak 301 juta orang di seluruh dunia yang mengalami gangguan kecemasan. Sebanyak 58 juta di antaranya adalah anak-anak dan remaja (WHO, 2019). Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, menunjukkan lebih dari 19 juta penduduk berusia lebih dari 15 tahun mengalami gangguan mental emosional, dan lebih dari 12 juta penduduk berusia lebih dari 15 tahun mengalami depresi (Kemenkes, 2021). Mengutip data dari Global Burden of Disease Study tahun 2017, menunjukkan prevelensi gangguan kecemasan di Indonesia pada remaja usia 15-19 tahun sebanyak 3,49% dan pada usia 20-24 tahun sebanyak 3,42% (Global Burden of Disease, 2017).
Kecemasan bisa terjadi dari berbagai faktor, seperti lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Banyak remaja yang lebih mementingkan persepsi orang lain sehingga dapat memperburuk kesehatan emosional mereka. Tetapi, dari faktor-faktor tersebut, gaya hidup juga menjadi salah satu penyebab dalam kecemasan. Sering kali, remaja mengabaikan gaya hidup mereka dan tidak memedulikan kesehatan emosional mereka sendiri. Di sini, kualitas tidur juga menjadi faktor besar dari gaya hidup yang memengaruhi kecemasan. Efek dari kurangnya waktu tidur menyebabkan munculnya kehitaman di sekitar area mata, rasa kantuk yang berlebih, kelelahan, tidak mampu berkonsentrasi dan sulit mengambil keputusan (Hardianti et al., 2021).
Pentingnya Kualitas Tidur
Tidur menjadi proses otak yang dibutuhkan oleh semua orang untuk otak dapat berfungsi dengan baik, otak membutuhkan dua per tiga dari waktu manusia untuk beristirahat melalui tidur. Manusia membutuhkan waktu setidaknya tidak kurang dari 6 jam dan tidak lebih dari 9 jam per hari untuk tidur. (Sugiarta et al., 2019).
Kurangnya kualitas tidur dapat menyebabkan peningkatan kecemasan dan penurunan kualitas hidup. Dalam penelitian (Alfiana et al., 2023) menunjukkan bahwa 45 mahasiswa memiliki kualitas tidur yang buruk, 8,2% memiliki kecemasan tingkat ringan, 26,8% memiliki kecemasan tingkat sedang, dan 11,3% memiliki kecemasan tingkat berat. Dari data tersebut, dapat dinilai bahwa kualitas tidur sangat berpengaruh terhadap tingkat kecemasan remaja.
Dampak Jangka Panjang dari Kurangnya Kualitas Tidur
Banyak dampak jangka panjang yang dapat terjadi jika remaja terus-menerus memiliki waktu tidur yang kurang, meliputi peningkatan risiko penyakit kronis seperti jantung, darah tinggi, dan diabetes, gangguan mental berat juga dapat muncul seperto depresi dan cemas yang berlebihan. Jika dibiarkan, remaja akan merasakan sakit kritis dalam dirinya dan tidak dapat fokus dalam mengerjakan pekerjaan. Seseorang dengan kualitas tidur yang buruk akan merasakan dampak negatif pada aktivitas belajar dan kehidupan sehari-hari individu yang bahkan dapat menyebabkan peristiwa besar seperti kematian (Wang et al., 2023).
Kesimpulan
Cemas dapat terjadi pada semua kalangan usia termasuk remaja. Kecemasan bisa timbul dari berbagai faktor, termasuk dari faktor kualitas tidur. Kualitas tidur berdampak pada tingkat kecemasan dan karena hal tersebut, remaja akan mengalami gangguan-gangguan, seperti konsentrasi menurun dan sulit mengambil keputusan sendiri.
Pada umumnya, manusia membutuhkan waktu tidur 6-9 jam per hari, tidak kurang dan tidak lebih. Jika tidak dapat memenuhi waktu untuk tidur, badan akan merasa sangat lelah dan manusia dapat mengalami penyakit mendalam serta gangguan emosional.
Saran
Diharapkan dengan adanya risalah ini, masyarakat semakin peduli dengan kualitas tidur dan kesehatan emosional diri sendiri. Pemerintah pun diharapkan untuk memberi sosialisasi terhadap pentingnya pola hidup sehat dan kesehatan emosional masyarakat saat ini.
Referensi
Hyunkyu K., Seung H. K., Sung-In J., & Eun-Cheol P.. 2022. Association Between Sleep Quality and Anxiety in Korean Adolescents. https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC8995938/
Yang, L., Yu, Z., Xu, Y., Liu, W., Liu, L., & Mao, H. 2020. Mental status of patients with chronic insomnia in China during COVID-19 epidemic. International Journal of Social Psychiatry, 66(8), 821-826. https://doi.org/10.1177/0020764020937716
Lisa M. A., Suryani, & Ristina M. 2018. Tingkat Kecemasan Mahasiswa Keperawatan Dalam Menghadapi Ujian Berbasis Computer Based Test. https://jurnalnasional.ump.ac.id/index.php/medisains/article/view/2522/2064
Wicaksono, D. W., Yusuf, A., & Widyawati, I. Y. 2013. Faktor dominan yang berhubungan dengan kualitas tidur pada mahasiswa Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga. https://e-journal.unair.ac.id/CMSNJ/article/view/12133/7032
Meita D., Faisal, Elma C. M. 2019. Hubungan Kualitas Tidur dan Masalah Mental Emosional pada Remaja Sekolah Menengah. https://saripediatri.org/index.php/sari-pediatri/article/download/1493/pdf?utm_source=chatgpt.com
World Health Organization. 1992. The ICD-10 classification of mental and behavioural disorders : cCinical descriptions and diagnostic guidelines. https://iris.who.int/handle/10665/37958
Kemenkes. 2021. Kemenkes Beberkan Masalah Permasalahan Kesehatan Jiwa di Indonesia. https://kemkes.go.id/id/%20kemenkes-beberkan-masalah-permasalahan-kesehatan-jiwa-di-indonesia
Global Burden of Disease Study. 2017. Institute for Health Metrics and Evaluation (IHME). http://ghdx.healthdata.org/gbd-results-tool
Hardianti, S., & Syahasti, F. M. 2021. Hubungan Tingkat Stres Dengan Kualitas Tidur Pada Mahasiswa Akhir S1 Kesehatan Masyarakat. https://journal.universitaspahlawan.ac.id/index.php/prepotif/article/view/2092/pdf
Alda V. S., Citra R. P., Suparto, Irvan. 2019. Hubungan Tingkat Kecemasan terhadap Kualitas Tidur pada Mahasiswa Angkatan 2018 Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana. https://ejournal.ukrida.ac.id/index.php/Meditek/article/view/1748/1794
Dewi A., Irwan S., Baiq N. R. 2023. Hubungan Mekanisme Koping, Kualitas Tidur dan Motivasi Belajar dengan Tingkat Kecemasan pada Mahasiswa Kedokteran. https://jgi.internationaljournallabs.com/index.php/ji/article/view/11/54
Wang, Y., Dai, X., Zhu, J., Xu, Z., Lou, J., & Chen, K. 2023. What complex factors influence sleep quality in college students? https://doi.org/10.3389/fpsyg.2023.1185896
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”









































































