Jakarta, 24 September 2025 – Indonesia tengah menghadapi krisis pasokan susu segar. Kebutuhan susu nasional yang mencapai 4,7 juta ton per tahun hanya mampu dipenuhi sekitar 1 juta ton dari produksi dalam negeri. Artinya, produksi lokal baru mencakup sekitar 20 persen kebutuhan nasional, sementara sisanya harus ditutup dengan impor.
Data Produksi vs Kebutuhan Susu Nasional 2015–2025 menunjukkan bahwa laju kebutuhan terus meningkat, sementara produksi dalam negeri cenderung stagnan di kisaran 1 juta ton. Grafik tersebut menegaskan jurang defisit yang semakin melebar dalam satu dekade terakhir.
Ketergantungan impor susu ini semakin terasa ketika pemerintah meluncurkan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Program tersebut diperkirakan menambah kebutuhan susu hingga 3,6 juta ton, sehingga defisit nasional berpotensi membengkak hingga 8,5 juta ton dalam beberapa tahun mendatang.
Visualisasi lain memperlihatkan perbandingan kondisi produksi, kebutuhan, dan potensi defisit tahun 2025. Dengan produksi yang hanya sekitar 1 juta ton, kebutuhan 4,7 juta ton, serta tambahan akibat program MBG, gap defisit terlihat makin mengkhawatirkan.
Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) menyebutkan, stagnasi produksi dipicu populasi sapi perah terbatas, produktivitas rendah, serta keterbatasan akses peternak terhadap bibit unggul, pakan berkualitas, dan teknologi modern.
“Produktivitas sapi perah kita rata-rata masih jauh di bawah negara penghasil susu lain. Satu ekor sapi di Indonesia hanya menghasilkan 10–12 liter per hari, sementara di Selandia Baru bisa mencapai 25 liter,” ungkap Kementerian Pertanian.
Defisit susu ini menimbulkan sejumlah konsekuensi. Dari sisi peternak, keberadaan produk impor dengan harga lebih murah membuat persaingan semakin berat. Dari sisi konsumen, harga susu segar dalam negeri menjadi tidak stabil dan rentan naik jika pasokan impor terganggu. Rendahnya ketersediaan susu segar juga menghambat program peningkatan gizi masyarakat, padahal konsumsi susu per kapita Indonesia masih rendah dibanding negara tetangga di Asia Tenggara.
Untuk menekan defisit, pemerintah menyiapkan Program Percepatan Produksi Susu dan Daging Nasional (P2SDN) dengan rencana impor 1 juta ekor sapi perah dalam periode 2025–2029. Namun, kebijakan ini dinilai tidak cukup tanpa peningkatan produktivitas sapi lokal, penguatan koperasi, pengembangan pakan alternatif, dan edukasi peternak terkait teknologi pemeliharaan modern.
Sejumlah pakar menegaskan bahwa impor sapi perah dalam jumlah besar bukan solusi jangka panjang. Risiko penyakit, biaya investasi tinggi, serta keterbatasan lahan menjadi tantangan serius. “Kalau hanya mengandalkan impor, Indonesia tidak akan pernah mandiri. Kuncinya ada pada peningkatan produktivitas sapi lokal, inovasi teknologi, dan dukungan serius untuk peternak kecil,” kata seorang akademisi peternakan dari IPB University.
Dengan kebutuhan susu yang terus meningkat, masa depan kemandirian pangan Indonesia bergantung pada keberhasilan memperkuat sektor peternakan perah. Tanpa langkah komprehensif, krisis susu segar akan terus menghantui, sementara ketergantungan pada impor semakin mengakar.
Penulis: Libbi Azhafif Gunawan Staff Divisi Riset dan Teknologi PB Ikatan Senat Mahasiswa Peternakan Indonesia
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer






































































