Siaran Berita, Bandung, (17/1/2026) – Di tengah dinamika kampus yang terus bergerak, kepemimpinan mahasiswa sering kali menjadi ruang pertama tempat gagasan, nilai, dan keberanian diuji. Dari lorong-lorong Fakultas Agama Islam Universitas Islam Nusantara Bandung, lahir sosok mahasiswa yang memilih jalan keterlibatan aktif, bukan sekadar hadir sebagai pengamat. Ahmad Maulana Andrian, mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam, muncul sebagai representasi generasi kampus yang memandang organisasi bukan hanya sebagai struktur formal, melainkan medan pengabdian dan pembelajaran kepemimpinan yang nyata.
Ahmad Maulana Andrian merupakan mahasiswa kelahiran Karawang, 21 Desember 2003, yang kini menempuh pendidikan di Fakultas Agama Islam Universitas Islam Nusantara Bandung. Dia dikenal luas di lingkungan kampus sebagai Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Agama Islam periode 2025–2026, sebuah posisi strategis yang menempatkannya di garis depan kepemimpinan mahasiswa FAI.Ia dikenal sebagai pribadi yang tenang, reflektif, namun memiliki keteguhan sikap ketika menyangkut tanggung jawab kolektif. Perjalanannya di lingkungan kampus membawanya dipercaya sebagai Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Agama Islam periode 2025–2026. Posisi tersebut bukan sekadar jabatan administratif, melainkan amanah yang mengharuskannya mengelola dinamika mahasiswa, menjaga arah organisasi, serta merawat nilai-nilai keislaman dan keilmuan dalam ruang akademik yang terus berkembang.
Dalam kepemimpinannya, Ahmad membawa visi yang ia rumuskan sebagai BEM FAI yang SUPEL, sebuah akronim dari solid, unggul, profesional, efektif, dan luwes. Visi ini lahir dari pengamatannya terhadap kebutuhan organisasi mahasiswa yang tidak hanya kuat secara struktur, tetapi juga adaptif terhadap perubahan zaman. Baginya, organisasi mahasiswa harus menjadi ruang aman bagi gagasan, sekaligus wadah pengembangan kapasitas intelektual dan kreativitas mahasiswa yang berlandaskan nilai MAN YAZRA’ YAHSUD, nilai moral dan spiritual yang ia yakini sebagai fondasi gerak organisasi.
Misi yang diusungnya menempatkan BEM FAI sebagai pusat intelektualitas mahasiswa, ruang dialog, serta motor penggerak kegiatan yang mendorong partisipasi aktif mahasiswa baik dalam lingkup internal maupun eksternal kampus. Ahmad memandang bahwa mahasiswa tidak cukup hanya hadir di ruang kelas, melainkan perlu terlibat dalam proses kolektif yang membentuk kepekaan sosial, kemampuan berpikir kritis, dan tanggung jawab moral. Oleh karena itu, peningkatan mutu kerja organisasi, transparansi, serta kemandirian lembaga menjadi fokus utama dalam kepemimpinannya.

Di luar struktur internal kampus, Ahmad juga aktif dalam organisasi eksternal Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia. Keterlibatannya dalam PMII memperluas perspektifnya tentang pergerakan mahasiswa, relasi sosial, serta peran intelektual muda dalam kehidupan berbangsa. Baginya, pengalaman berorganisasi di luar kampus menjadi pelengkap penting dalam membentuk karakter kepemimpinan yang inklusif dan berwawasan luas. Ia meyakini bahwa masa kuliah adalah ruang strategis untuk membangun jejaring, memperkaya sudut pandang, serta melatih keberanian mengambil peran.
Aktivitas keseharian Ahmad tidak berhenti pada rapat dan agenda formal organisasi. Ia dikenal gemar berdiskusi bersama rekan-rekannya, membicarakan isu keilmuan, sosial, hingga persoalan keumatan. Diskusi baginya bukan sekadar bertukar pendapat, melainkan cara memperluas relasi intelektual dan membangun tradisi berpikir kritis di kalangan mahasiswa. Dalam keseharian yang sederhana itu, Ahmad berusaha menempatkan diri sebagai rekan belajar, bukan sekadar pemimpin struktural.
Selain itu, ia juga aktif membantu teman-temannya mempelajari teknik khat dan kaligrafi, sebuah keterampilan yang tidak hanya bernilai estetis, tetapi juga sarat makna spiritual. Aktivitas ini menjadi wujud konkret kontribusinya dalam menjaga tradisi seni Islam di lingkungan kampus. Melalui kaligrafi, Ahmad menemukan ruang pengabdian yang sunyi namun bermakna, tempat nilai kesabaran, ketelitian, dan keindahan berpadu dalam proses belajar bersama.
Perjalanan Ahmad Maulana Andrian mencerminkan wajah mahasiswa yang memilih bertumbuh melalui proses, bukan jalan instan. Kepemimpinan, baginya, bukan tentang sorotan, melainkan tentang konsistensi merawat tanggung jawab. Di tengah tantangan organisasi mahasiswa yang kompleks, Ahmad berupaya menjaga keseimbangan antara idealisme, realitas, dan nilai-nilai keislaman yang ia pegang.
Ke depan, Ahmad berharap BEM FAI dapat menjadi ruang bersama yang inklusif, produktif, dan relevan dengan kebutuhan mahasiswa. Bagi dirinya, kepemimpinan bukan tujuan akhir, melainkan tahapan pembelajaran untuk menjadi pribadi yang lebih matang, beradab, dan siap memberi manfaat lebih luas. Dalam langkah-langkahnya yang tenang, Ahmad Maulana Andrian menegaskan bahwa perubahan besar sering kali berangkat dari kesungguhan yang sederhana namun konsisten
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”






































































