Indonesia masih dihadapkan persoalan serius terkait masalah sampah. Berdasarkan data dari Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN), jumlah sampah yang dihasilkan mencapai lebih dari 35 juta ton setiap tahun, atau jutaan ton setiap bulannya. Sampah dari rumah tangga menjadi penyumbang terbesar, yang sebagian besar berupa sampah organik, plastik, dan berbagai jenis sampah campuran. Dari keseluruhan tersebut, sekitar 50-60% merupakan sampah organik. Sebenarnya, sebagian besar limbah organik ini masih bisa diolah dan dimanfaatkan kembali.
Upaya dalam memanfaat limbah organik, mahasiswa program studi Administrasi Publik Universitas Sultan Ageng Tirtayasa melakukan kegiatan pengabdian masyarakat di Desa Singamerta, Kecamatan Ciruas, Kabupaten Serang dengan memperkenalkan sebuah inovasi sederhana yang mengurangi limbah rumah tangga, yang ternyata bermanfaat bagi lingkungan maupun tanaman di rumah, yaitu mengolah cangkang telur menjadi pupuk organik yang bernutrisi tinggi untuk tanaman.
Selama ini, cangkang telur hanya dianggap sebagai limbah dapur yang tidak memiliki nilai guna. Namun, melalui sosialisasi ini masyarakat mengetahui bahwa lebih dari 90% komposisi cangkang telur merupakan kalsium karbonat, mineral penting yang mampu membantu memperkuat batang tanaman, menjaga keseimbangan pH tanah, dan mendukung perkembangan akar. Selain itu, cangkang telur juga memiliki kandungan magnesium dan fosfor. Banyak masyarakat yang tidak mengetahui nilai nutrisi dari cangkakng telur sehingga cangkang telur hanya dianggap sebagai sampah yang tidak memiliki nilai guna .Padahal limbah cangkang telur ini bisa menjadi alternatif pupuk sehat yang bisa menggantikan penggunaan pupuk kimia.
Melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang berlangsung secara interaktif, warga diajak untuk melihat langsung proses pembuatan pupuk dari cangkang telur. Prosesnya pun cukup mudah: cangkang telur dicuci, dikeringkan, lalu dihaluskan hingga menjadi bubuk. Bubuk ini bisa langsung ditaburkan ke tanah atau diolah menjadi pupuk cair dengan mencampurnya bersama cuka dan mendiamkannya selama 24 jam sebelum dilarutkan dalam air. Metode sederhana ini membuat warga merasa bahwa pengolahan limbah bisa dilakukan oleh siapa saja di rumah tanpa memerlukan alat khusus atau biaya tambahan besar.
Sebelum kegiatan dimulai, mayoritas warga Singamerta belum pernah tahu informasi mengenai manfaat dan proses pembuatan pupuk dari cangkang telur. Terlihat dari hasil pre-test yang menunjukkan sebagian besar warga Singamerta belum pernah membuat pupuk organik dari cangkang telur. Namun setelah mengikuti kegiatan dan penjelasan, tingkat pemahaman masyarakat meningkat drastis. Berdasarkan post-test, banyak masyarakat mulai memahami langkah-langkah pembuatannya dan tertarik untuk mencobanya sendiri di rumah. Antusiasme warga menjadi bukti bahwa edukasi sederhana dapat membuka peluang baru dalam pemanfaatan limbah rumah tangga.
Masyarakat merasa antusias dan senang karena inovasi ini tidak hanya memberikan manfaat bagi tanaman, tetapi juga membantu mereka menghemat biaya pembelian pupuk. Selain itu, penggunaan pupuk organik dari cangkang telur dianggap lebih aman dan ramah lingkungan, sekaligus membantu mengurangi jumlah sampah.
Program sosialisasi ini diharapkan dapat menjadi langkah awal menuju kebiasaan baru yang lebih hijau dan berkelanjutan. Dengan memanfaatkan limbah sederhana seperti cangkang telur, warga dapat berkontribusi langsung dalam menjaga kelestarian lingkungan sekaligus meningkatkan ketahanan pangan di tingkat rumah tangga. Inovasi kecil ini membuktikan bahwa solusi lingkungan tidak selalu harus besar dan mahal. Terkadang, perubahan yang berarti dimulai dari hal kecil atau lingkungan terdekat.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer




































































