Pagi itu, suasana rumah sudah riuh oleh suara langkah-langkah kecil dan percakapan penuh antusias. Teteh sibuk memastikan semua perlengkapan masuk ke tas—air mineral, tisu basah, topi, hingga camilan kecil. Mama seperti biasa mengecek ulang, memastikan tak ada yang tertinggal, sementara ponakan yang paling kecil justru sudah berdiri di depan pintu sambil memeluk boneka kesayangannya, seakan-akan tak sabar menunggu petualangan dimulai.
Setibanya di JungleLand, udara segar dari pepohonan tinggi langsung menyambut kami. Mata ponakan langsung membelalak, terpukau melihat patung-patung besar dan warna-warni dekorasi yang seakan membawa kami masuk ke dunia fantasi. Teteh tersenyum lebar, mungkin karena sudah lama tidak merasakan suasana liburan seperti itu, sedangkan mama tampak tenang namun wajahnya memancarkan kebahagiaan yang sulit disembunyikan.
Langkah pertama kami adalah menuju area depan, tempat papan besar bertuliskan “JungleLand” berdiri megah. Di sana, kami tak menyangka akan bertemu maskot badak besar yang lucu. Ponakan awalnya sempat malu, sembunyi di belakang mama, namun tak lama kemudian dia tertawa kecil ketika maskot itu melambaikan tangan dan mengangguk-angguk ramah. Momen itu langsung kami abadikan dalam foto—teteh dengan gaya peace, mama tersenyum lembut, ponakan memeluk bonekanya erat-erat, dan maskot badak yang berdiri dengan pose penuh semangat.
Setelah puas berfoto, kami mulai berjalan menyusuri area taman. Jalanan dipenuhi tanaman hijau yang rimbun, sementara suara riuh pengunjung lain membuat suasana terasa hidup. Sambil berjalan, kami membicarakan rencana wahana apa saja yang ingin dicoba. Mama, seperti biasa, memilih menjadi tim penyemangat sambil membawa tas, sementara teteh sudah mengincar spot-spot untuk berfoto lebih banyak lagi.
Ponakan kecil menjadi pusat perhatian kami. Setiap kali melihat wahana yang bergerak, suaranya langsung melengking senang. Dia menunjuk ke sana, lalu ke sini, seperti ingin mencoba semuanya dalam sekali waktu. Kami pun mengikuti ritme bahagianya: berhenti setiap kali dia terpikat oleh sesuatu, entah itu patung hewan, balon warna-warni, atau stand jualan es krim.
Sekitar siang hari, kami duduk sebentar di bawah pohon besar. Angin sepoi-sepoi mengelus wajah, membuat suasana terasa nyaman. Mama mulai bercerita tentang masa kecil teteh saat masih suka bermain di tempat seperti ini, dan kami tertawa mendengar kisah-kisah lucu yang bahkan teteh sendiri lupa. Ponakan mendengarkan sambil memakan camilan, tak begitu mengerti namun ikut tertawa melihat kami tertawa.
Setelah beristirahat, perjalanan berlanjut. Kami melewati jalur penuh dekorasi seperti hutan mini, lengkap dengan ornamen-ornamen binatang yang membuat tempat itu terasa seperti dunia dongeng. Teteh dan mama bergantian menggandeng tangan ponakan agar ia tidak terlalu jauh. Sesekali ia berhenti hanya untuk menunjuk daun besar, bunga kecil, atau sekadar bertanya, “Itu apa, Teh?” dan setiap pertanyaannya membuat kami semakin tersenyum.
Menjelang sore, kami kembali ke area depan untuk berfoto lagi. Kali ini cahaya matahari mulai redup, membuat suasana menjadi hangat dan lembut. Foto terakhir itu terasa paling spesial—teteh berdiri dengan bangga, mama mengangkat tangan kecil ponakan, dan si kecil menampilkan senyum polos yang tak ternilai. Kami mungkin hanya menghabiskan satu hari di JungleLand, tetapi rasanya seperti mengisi ulang seluruh energi keluarga.
Perjalanan pulang terasa lebih tenang. Di mobil, ponakan tertidur di pangkuan mama, lelah namun dengan wajah bahagia. Teteh memeriksa foto-foto di ponselnya sambil sesekali tertawa mengingat momen-momen lucu hari itu. Mama hanya memandang keluar jendela dengan senyum kecil, mungkin bersyukur karena hari itu berjalan begitu indah.
Hari itu bukan sekadar jalan-jalan. Itu adalah hari di mana keluarga berkumpul, tertawa, berbagi cerita, dan menciptakan kenangan yang akan menjadi cerita manis untuk waktu yang lama. JungleLand menjadi saksi betapa hangatnya kebersamaan kami—teteh, mama, dan ponakan—dalam satu hari penuh cinta dan kebahagiaan
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”








































































