Dalam rutinitas pagi yang serba cepat dan padat, sarapan tampaknya semakin kehilangan tempatnya di kalangan anak muda. Banyak mahasiswa memilih memulai hari dengan kopi susu, minuman energi, atau bahkan tidak mengonsumsi apa pun hingga siang hari. Tren “skip breakfast” ini semakin berkembang dan dianggap normal, bahkan dianggap sebagai gaya hidup sehat bagi sebagian orang. Namun, pertanyaannya adalah: benarkah sarapan tidak lagi penting, atau kita justru sedang termakan mitos baru?
Fenomena melewatkan sarapan ini bukan muncul tanpa alasan. Gaya hidup mahasiswa seringkali tidak teratur contohnya seperti begadang mengerjakan tugas, bangun kesiangan, hingga harus mengejar jadwal kuliah pagi. Selain itu, popularitas diet seperti intermittent fasting juga membuat banyak orang merasa tidak perlu makan pagi. Di sisi lain, ada pula anggapan bahwa sarapan malah membuat tubuh cepat lapar atau mengantuk. Mitos-mitos inilah yang akhirnya memengaruhi pola makan generasi muda.
Meskipun tren dan alasan gaya hidup tersebut kuat, jika ditinjau dari sisi kebutuhan tubuh, sarapan tetap memiliki peran yang signifikan. Setelah tidur semalaman, tubuh berada dalam kondisi “puasa” sehingga cadangan energi yang tersimpan sudah banyak terpakai. Ketika cadangan tersebut menipis, suplai energi ke otak ikut menurun dan hal ini dapat menimbulkan rasa lemas, pusing, berkeringat dingin, bahkan hampir pingsan pada beberapa orang. Selain itu, kemampuan mengingat dan berpikir juga ikut menurun karena otak tidak mendapatkan bahan bakar yang cukup untuk bekerja optimal. Oleh sebab itu, asupan energi di pagi hari diperlukan agar tubuh dan otak dapat berfungsi dengan baik dalam menjalani aktivitas sepanjang hari (Purnawinadi dan Lotulung, 2020).
Selain itu, penting juga memperhatikan kualitas dari sarapan yang jauh lebih penting daripada sekadar “yang penting makan pagi”. Banyak anak muda menganggap sudah sarapan hanya dengan sepotong roti manis, gorengan, atau minuman tinggi gula. Padahal, jenis makanan seperti itu justru dapat menyebabkan energi cepat turun dan menimbulkan rasa lemas menjelang siang. Sarapan yang sehat harus memenuhi sekurangnya seperempat dari kebutuhan nutrisi harian. Jadi, setidaknya menu sarapan pagi harus mengandung karbohodrat, protein, lemak, vitamin, mineral dan serat, serta air yang cukup (Suraya et al., 2019).
Akan tetapi, tidak semua orang wajib sarapan. Hal itu dikarenakan ada individu dengan ritme biologis berbeda, yang memang baru merasa lapar menjelang siang. Pada beberapa orang, pola makan tanpa sarapan—seperti contohnya intermittent fasting—tidak menimbulkan masalah kesehatan, bahkan justru membuat tubuh terasa lebih ringan dan teratur. Hal ini dikarenakan metode tersebut memiliki efek dalam perubahan berat badan, perubahan metabolik pada tubuh baik jangka panjang maupun jangka pendek, serta perubahan massa otot (Fairuz et al., 2024). Sehingga dapat disimpulkan, sarapan bukan sekadar kewajiban universal, melainkan kebiasaan yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing.
Jika melihat berbagai sudut pandang tersebut, dapat disimpulkan bahwa sarapan bukanlah mitos ataupun aturan mutlak. Sarapan tetap penting, tetapi bentuk dan waktunya perlu disesuaikan dengan pola hidup dan kondisi tubuh setiap individu. Hal yang tidak kalah penting juga adalah memilih jenis makanan yang memberi energi stabil, bukan sekadar makanan cepat saji yang tinggi gula dan lemak.
Pada akhirnya, pilihan ada pada kita: apakah kita memberi tubuh dukungan terbaik untuk memulai hari, atau hanya mengikuti tren tanpa memahami kebutuhan diri sendiri? yang jelas, tubuh membutuhkan perhatian, bukan sekadar rutinitas. Mulai dari langkah sederhana, seperti menyediakan buah, oatmeal, atau telur. Hal itu membuat kita dapat menjaga energi agar tetap stabil dan menjalani aktivitas dengan lebih optimal. Jadi, sarapan bukan soal wajib atau tidak, akan tetapi yang lebih penting adalah bagaimana kita menata gaya hidup agar tetap sehat dan seimbang.
Daftar Pustaka
Fairuz, R. A., Absari, N. W., Utami, R. F., & Djunet, N. A. (2024). Pengaruh diet puasa (intermittent fasting) terhadap penurunan berat badan, perubahan metabolik, dan massa otot. Healthy Tadulako Journal (Jurnal Kesehatan Tadulako), 10(1), 40–47.
Purnawinadi, I. G., & Lotulung, C. V. (2020). Kebiasaan sarapan dan konsentrasi belajar mahasiswa. Nutrix Journal, 4(1), 31–38.
Suraya, S., Apriyani, S. S., Larasaty, D., Indraswari, D., Lusiana, E., & Anna, G. T. (2019). “SARAPAN YUKS” pentingnya sarapan pagi bagi anak-anak. Jurnal Bakti Masyarakat Indonesia, 2(1).
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”










































































