Kelompok mahasiswa proyek Mata Kuliah Wajib Kurikulum (MKWK) 01 Intoleransi Universitas Sumatera Utara (USU) mengadakan edukasi dan sosialisasi dalam upaya menciptakan interaksi sosial dan komunikasi yang positif di UPT SMPN 41 Medan, Sabtu (01/11/2025).
Dengan bimbingan dari Dr. Aflah, S.H., M.Hum sebagai dosen fasilitator dan Rebecca Agnesya Panjaitan sebagai Mentor. Kelompok Intoleransi 01 ini mengambil judul “Edukasi tentang interaksi sosial dan komunikasi yang positif untuk mencegah intoleransi di lingkungan sekolah”. Judul ini diambil berdasarkan tema proyek Mata Kuliah Wajib Kurikulum (MKWK) USU tahun 2025/2026 dimana Intoleransi merupakan salah satu dari tiga dosa besar pendidikan yang menjadi fokus utama untuk diberantas dalam sistem pendidikan nasional.
Mahasiswa-mahasiswi program sarjana Universitas Sumatera Utara (USU) yang terdiri dari 21 orang beserta mentor dengan beragam latar belakang fakultas dan program studi ini bekerja sama untuk memberi pemahaman,pencegahan,dan contoh terkait intoleransi pada siswa-siswi sekolah menengah pertama, pemahaman ini bertujuan untuk menanamkan sikap saling menghormati,menerima perbedaan, serta membangun komunikasi yang positif antar siswa.
Perwakilan dari pihak sekolah bapak Drs.John Glora Pelawi menyambut baik program bermanfaat ini, ia turut memberikan arahan kepada siswa-siswi sebelum mengikuti kegiatan ini.“Jadi ini ada abang dan kakak kalian yang sedang berkuliah di USU,mereka kesini mau mengadakan sosialisasi, simak baik-baik karena materinya penting untuk kalian agar kalian nanti bisa menjadi orang-orang terpilih yang bisa berkuliah seperti abang dan kakak ini.”
Edukasi dimulai dengan pemberian materi kepada siswa-siswi, di antaranya mengenai contoh perbedaan dan keberagaman dalam kehidupan sehari-hari seperti perbedaan cara berdoa, perbedaan pendapat, ras, dan warna kulit. Contoh sederhana dalam menghadapi tindakan intoleransi serta penanganan terhadap korbannya juga turut dijelaskan agar siswa memahami cara bersikap ketika melihat atau mengalami situasi tersebut, sehingga mereka dapat mengenali bentuk intoleransi dan pentingnya menjaga sikap saling menghargai.
Untuk memperkuat pemahaman tersebut, kegiatan pembelajaran tidak hanya terhenti pada pemberian contoh-contoh keberagaman, tetapi juga dilanjutkan dengan berbagai metode penyampaian yang lebih aplikatif dan melibatkan partisipasi aktif siswa seperti diskusi interaktif dan drama. Pendekatan ini dirancang agar siswa tidak hanya mengetahui bentuk-bentuk perbedaan dan intoleransi, tetapi juga mampu menghubungkannya dengan situasi nyata yang mereka temui sehari-hari.
“Diharapkan adik-adik kita ini nantinya bisa memahami bahwa toleransi bukan hanya sekedar sikap, tetapi harus menjadi kebiasaan agar suasana belajar yang damai dan kondusif dapat tumbuh.” Ujar Dicky sebagai ketua kelompok. Selain itu, Ia juga optimis akan hasil nyata dari proyek MKWK Intoleransi kelompok 01 ini yaitu terwujudnya interaksi sosial dan komunikasi yang positif di lingkungan sekolah yang majemuk berlandaskan Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer








































































