Tantangan Internal Muhammadiyah di Era Digital: Penurunan Pengaruh, Kritik Generasi Muda, dan Lemahnya Tradisi Keulamaan
Surabaya – Di usia lebih dari satu abad, Muhammadiyah sebagai salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia menghadapi serangkaian tantangan struktural yang semakin terasa belakangan ini. Data survei dan kritik dari internal serta eksternal menunjukkan potensi penurunan jumlah simpatisan, kesulitan merangkul generasi muda yang kritis, serta kelemahan dalam membangun tradisi keulamaan yang kuat dan karismatik.
Menurut survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA pada 2023, proporsi penduduk Indonesia yang mengaku sebagai bagian dari Muhammadiyah turun drastis dari 9,4% pada 2005 menjadi hanya 5,7% pada 2023—hampir separuh dalam kurun waktu kurang dari dua dekade. Penurunan ini kontras dengan peningkatan signifikan afiliasi Nahdlatul Ulama (NU), yang melonjak dari 27,5% menjadi 56,9% di periode yang sama. Para pengamat menilai faktor utama adalah lemahnya kaderisasi di kalangan generasi muda perkotaan, persaingan dakwah digital yang lebih atraktif dari kelompok lain, serta pendekatan organisasi yang dianggap terlalu formal dan kurang adaptif terhadap budaya populer serta media sosial.
Generasi muda kritis sering kali merasa Muhammadiyah kurang fleksibel dalam merespons aspirasi mereka. Pendekatan modernis-puritan yang menekankan amar ma’ruf nahi munkar secara tegas dan rasional kadang dianggap kaku, elitis, atau kurang inklusif terhadap tradisi lokal serta ekspresi spiritual yang lebih emosional. Akibatnya, banyak anak muda beralih ke konten dakwah independen di platform digital yang lebih viral dan relatable.
Salah satu figur yang sering menjadi sorotan dalam diskusi ini adalah Gus Ibnu Yusuf bin Kholil, dai muda Muhammadiyah yang dikenal dengan kritik konstruktifnya. Pada akhir 2025, ia menyuarakan evaluasi mendalam terkait Milad ke-113 Muhammadiyah, menyoroti kelemahan kaderisasi ulama di pondok pesantren Muhammadiyah—termasuk Mu’allimin—serta ketergantungan pada institusi eksternal seperti pesantren NU atau salafi untuk menghasilkan ulama berkualitas. Kritik ini bertujuan agar organisasi berbenah, bukan tanda keluar dari Muhammadiyah. Bahkan, pada Desember 2025, Gus Ibnu Yusuf dikukuhkan sebagai Ketua Umum GawagisMU dan terus aktif mengisi kajian serta dakwah di lingkungan Muhammadiyah, meskipun belakangan ia memutuskan fokus mengajar hanya di Ma’had Al Iman miliknya dan pondok keluarga—keputusan yang mengejutkan sebagian jamaah.
Sementara itu, nama Hilmy Kiemas Yahya (atau variasi seperti Yahya Hilmi Kiemas) tidak menunjukkan kaitan signifikan dengan isu internal Muhammadiyah atau aksi “keluar” organisasi berdasarkan catatan publik terkini. Kemungkinan besar, ini merupakan kekeliruan penyebutan atau konteks yang berbeda.
Lebih lanjut, kritik terhadap lemahnya tradisi keulamaan di Muhammadiyah semakin sering muncul, terutama di era influencer. Ulama Muhammadiyah dikenal argumentatif, sistematis, dan berbasis manhaj tarjih yang rasional, namun sering kalah cepat dalam menarik perhatian massa dibandingkan dai-dai digital yang mengandalkan emosi, sensasi, dan konten singkat. Tradisi keilmuan yang berhati-hati dan mendalam kurang viral di algoritma media sosial, sehingga eksposur dakwah Muhammadiyah di kalangan generasi Z terasa terbatas. Beberapa tokoh internal mengakui perlunya rekonstruksi pemahaman akidah, penyegaran kurikulum, dan peningkatan dakwah kultural agar tetap relevan tanpa kehilangan identitas purifikasi dan modernisasinya.
Meski demikian, Muhammadiyah tetap kuat di sektor amal usaha seperti pendidikan, kesehatan, dan sosial, serta terus berupaya beradaptasi melalui program kaderisasi digital, penguatan IPM/IMM, dan inisiatif dakwah kontemporer. Tantangan ini bukan pertanda akhir, melainkan momentum introspeksi agar organisasi tetap berkhidmat bagi umat dan bangsa di tengah perubahan zaman yang cepat.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer











































































