Penyalahgunaan narkoba menjadi masalah sosial yang melibatkan berbagai kalangan di masyarakat termasuk remaja. Fenomena ini menimbulkan berbagai dampak yang buruk bukan hanya pada individu namun juga lingkungansekitarnya. Kasus penyalahgunaan terus mengalami peningkatan sehingga diperlukan perhatian dari berbagai elemen yang ada di masyarakat. Remaja memiliki rentang usia di mana mereka mencari identitas dan jati diri. Kondisiremaja di fase ini sangat mungkin dipengaruhi oleh hubungannya dengan lingkungan sekitar. Faktor teman atau kelompok sebaya, keluarga, pola asuh, bahkan situasi yang berubah melatarbelakangi remaja rentan terhadappenyalahgunaan narkoba. Penelitian ini akan mengkaji
peristiwa penyalahgunaan narkoba yang dilakukan oleh remaja menggunakan teori sistem ekologi Bronfenbrenner (1979). Peneliti akan mencoba untuk menggambarkan danmemahami bagaimana faktor-faktor lingkungan berperandalam penyalahgunaan narkoba pada remaja. Teori ini memandang individu sebagai bagian dari sistem ekologi yang melibatkan mikrosistem, mesosistem, eksosistem, makrosistem, dan kronosistem. Analisis meliputi pengaruhkeluarga, teman sebaya, sekolah, media, dan faktor budaya terhadap keputusan remaja dalam penyalahgunaan narkoba. Dengan pemahaman yang mendalam tentang pengaruh lingkungan terhadap penyalahgunaan narkoba, upaya pencegahan dan intervensi yang tepat dapat dirancang untuk membantu remaja tidak menjadi korban penyalahgunaan narkoba. Masalah ini bukan hanyamasalah individu, tetapi juga mencerminkan hasil interaksi dalam lingkungan yang lebih luas sehingga memerlukan solusi yang holistik.
Darurat narkoba menjadi permasalahan yang dialami oleh seluruh dunia, termasuk negara Indonesia. Korban penyalahgunaan narkoba telah melibatkan berbagai kalanganyang ada di masyarakat. Kasusnya terus menyebar ke seluruhwilayah di kota-kota besar hingga daerah terpencil sekalipun(Amanda, et al., 2017). Penyalahgunaan narkoba adalah suatuisu yang memerlukan penanganan secara serius karenamenyebabkan dampak buruk bukan hanya kepada korban namun juga berkaitan erat dengan lingkungan sekitarnya. Saat ini penggunaan narkoba terus mengalami peningkatan yang signifikan. Fenomena ini telah menjadi masalah sosial yang membuat resah berbagai pihak sehingga dapat menggoyahkanelemen-elemen di masyarakat secara keseluruhan.(Telaumbanua, 2018).
Menurut Undang-Undang Negara Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika, PenyalahgunaNarkoba dapat didefinisikan sebagai perilaku seseorang yang menggunakan obat-obatan terlarang tanpa izin atau menentangaturan, sementara ketergantungan narkoba merujuk pada keadaan di mana seseorang merasakan dorongan yang kuatuntuk terus menggunakan narkotika secara berkelanjutandengan dosis yang meningkat untuk mencapai efek yang samasehingga jika penggunaannya dikurangi atau dihentikan secaramendadak akan memunculkan gejala fisik dan psikis yang khas (Novitasari, 2017).
Penyalahgunaan narkoba dapat dianggap sebagai bentukgangguan mental saat individu yang menggunakan ataumenderita akibatnya tidak dapat berfungsi dengan normal dalam kehidupan sosial, bahkan dapat menunjukkan tindakanyang tidak sesuai dengan norma-norma yang berlaku(Muhammad, 2022). Menurut pimpinan Badan Narkotika Nasional (BNN), sebanyak 3,6 juta individu di Indonesia telahmenjadi korban penyalahgunaan narkoba hingga tahun 2019. Berdasarkan data tersebut, terdapat peningkatan sekitar 24 sampai 28 persen dalam jumlah remaja yang menggunakannarkoba. Fakta ini menggambarkan kondisi meningkatnyapenyalahgunaan narkoba di kalangan remaja (Puslitdatin, 2019).
Sebagian besar remaja yang terlibat dalam konsumsinarkoba biasanya mulai menggunakan narkoba karenadipengaruhi oleh teman atau kelompok mereka. Remaja akankesulitan menolak tawaran tersebut karena didasari oleh beberapa alasan seperti keinginan untuk mengatasi rasa jenuhatau bosan, keheningan, dan tekanan stres terkait masalahyang dihadapi. Pada umumnya, remaja pertama kali mengenalnarkoba melalui percobaan merokok dilanjutkan denganmencoba minuman alkohol sehingga berakhir terjerumusdalam jerat narkoba. Kurangnya pengetahuan tentang dampaknegatif narkotika terhadap kesehatan juga menjadi faktor yang mempengaruhi remaja dalam menggunakan narkoba (Herman, Wibowo & Rahman, 2018).
Metode
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif karena penelitiingin melihat kondisi objek secara alamiah. Instrumen penelitian adalah peneliti itu sendiriyang menggunakan tahapan-tahapan sesuai dengan aturan atau langkah-langkah pengumpulandata dan informasi penelitian (Sugiyono, 2017). Peneliti memilih pendekatan deskriptif analisisyang dihasilkan dari studi literatur ilmiah. Pengumpulan data dilakukan dengan mengumpulkansumber-sumber literatur mengenai penyalahgunaan narkoba yang dilakukan oleh remajaditinjau berdasarkan teori sistem ekologi Bronfenbrenner (1979) seperti jurnal ilmiah, artikel, dokumen resmi, dan buku.
Setelah itu, peneliti melakukan seleksi dari sumber-sumber yang telah dikumpulkan dengan mengidentifikasi secara seksama sehingga menghasilkan data-data yang paling relevan. Selanjutnya peneliti menganalisis dan mengolah data yang telah didapatkan mengenai pola dan temuan yang dihasilkan dari penelitian terdahulu sehingga dapatmenggambarkan serta mendeskripsikan data secara sistematisdan akurat.
Hasil dan Pembahasan
Teori sistem ekologi yang dikembangkan oleh Bronfenbrenner (1979) menggambarkanproses saling berinteraksi antara sistem lingkungan yang mempengaruhi suatu individu, yaitumicrosystem, mesosystem, exosystem, macrosystem dan chronosystem. Teori ini menekankanbahwa faktor lingkungan dapat mempengaruhi proses perkembangan manusia. Definisi ekologimenurut Bronfenbrenner adalah :
“The ecology of human development involves the scientific study of the progressive, mutual accommodation between an active, growing human being and the changing properties of the immediate settings in which the developing person lives, as this process is affected by relations between these settings, and by the larger contexts in which the settings are embedded.”(Bronfenbrenner, 1979 dalam Gamayanti, 2014).
Terdapat tiga aspek yang perlu diperhatikan dari definisiekologi, yaitu:
1. Perkembangan seseorang tidak hanya dipahami sebagaitabula rasa yang dipengaruhi oleh lingkungan, melainkanmerupakan suatu proses dinamis yang berkembang secaraprogresif dan aktik membentuk kembali lingkungan di mana individu tersebut berada.
2. Definisi menunjukkan bahwa perlu adanya interaksi timbal balik dan saling mempengaruhi antara individu dan lingkungan sebagai bagian integral dari proses perkembangan.
3. Lingkungan dalam konteks perkembangan tidak terbataspada satu setting saja tetapi dianggap sebagai kesatuanyang saling terkait antara beberapa setting.
Bronfenbrenner menyatakan bahwa perkembangan individumenjadi semakin kompleks dan aktif karena terlibat dalamhubungan timbal balik dan saling berpengaruh antara invidudengan lingkungan sehari-hari. Proses ini dipengaruhi oleh bermacam-macam konteks, atau bahkan ada beberapa yang tidak disadari oleh individu itu sendiri.
Untuk memahami proses ini, perlu untuk memeriksaberbagai konteks saat perkembangan tersebut berlangsung, seperti rumah, kelas, tempat kerja, tetangga, dan institusisosial termasuk sistem pendidikan yang lebih luas yang mempengaruhi terhadap keluarga, sekolah, dan aspek lain dalam kehidupan individu. Bronfenbrenner menempatkanindividu di tengah-tengah kelima sistem tersebut.
Mikrosistem
Mikrosistem adalah sistem yang berpengaruh secara langsung dan paling dekat terhadap kehidupan suatu individu. Defenisi mikrosistem menurut Brofenbrenner “A microsystem is a pattern of activities, roles and interpersonal relations experienced by the developing person in a given setting with particular physical & material characteristics”(Bronfenbrenner, 1979).
Setting yang dimaksud dari definisi sebelumnya merujukpada tempat-tempat ketika individu dapat terlibat dalaminteraksi langsung, seperti rumah, sekolah, pusat perawatananak, tempat bermain, tempat kerja, tetangga, teman sebaya, dan sebagainya. Dalam konteks ini, individu bukan hanyamenjadi penerima pasif dalam interaksi tersebut melainkanjuga aktif berperan dalam membangun setting. Pengaruhsetting tidak hanya berlaku pada individu, tetapi juga sebaliknya yakni bagaimana individu dapat mempengaruhisetting tersebut. Mikrosistem termasuk hubungan personal yang terkait dengan peran dalam masyarakat seperti peransebagai ibu, anak, guru, atau teman (Bronfenbrenner, 1979).
Mikrosistem tidak hanya digunakan untuk menggambarkaninteraksi seseorang dengan berbagai setting, tetapi juga untukmengeksplorasi bagaimana interaksi tersebut dirasakan oleh individu. Faktor eksternal atau lingkungan memiliki dampakyang signifikan terhadap perilaku manusia. Aspek lingkunganmemiliki peran yang kuat dalam membentuk pertumbuhanpsikologis individu dan memberikan makna pada setiapperistiwa atau pengalaman saat berinteraksi secaraberkelanjutan dengan lingkungan (Bronfenbrenner, 1979).
Mikrosistem yang berpengaruh langsung pada remaja yang menyalahgunakan narkoba adalah latar belakang keluarga ataukeluarga yang bermasalah, peer group dan sekolah. Penyalahgunaan narkoba umumnya dimulai pada masa remajakarena adanya tawaran, bujukan, atau tekanan dari individutertentu atau teman sebaya. Hubungan antar keluarga yang kurang harmonis akan turut mendorong anak untuk terjeratdalam penyalahgunaan narkoba. Penyalahgunaan narkobapada remaja juga dipicu oleh rasa ingin tahu dan keinginanuntuk mencoba sehingga menerima tawaran tersebut. Setelahitu akan memunculkan kecenderungan untuk terus menerimatawaran berikutnya. Dari percobaan awal yang dilakukanberkalikali, akan menimbulkan ketergantungan pada zat yang digunakan.
Mesosistem
Definisi mesosistem menurut Bronfenbrenner adalah“Mesosystem comprises the interrelations among two or more settings in which the developing person actively participates (such as for a child, the relations among home, school, and neighborhood, peer group ; for an adult, among family, work and social life)” (Bronfenbrenner, 1979 hal 25).
Mesosistem merujuk pada interaksi atau hubungan antaradua atau lebih mikrosistem. Sebagai contoh, hubungan antararumah dan sekolah, rumah dan tetangga, atau keluarga dan kelompok teman sebaya. Dengan memahami konsep ini, dapatdiperoleh pemahaman yang jelas terkait dengan bagaimanaindividu yang sama berinteraksi dalam berbagai konteks yang berbeda. Sebagai ilustrasi, seorang ibu bisa saja menjadi guru yang baik untuk siswanya di sekolah, namun mungkin tidakmemenuhi peran sebagai ibu yang baik di rumah.
Contoh lainnya adalah seorang anak yang mungkin dapatmenyelesaikan tugas sekolah dengan maksimal dan memuaskan jika dilakukan di rumah tetapi mungkinmengalami kesulitan ketika mengerjakannya di kelas. Kegagalan di lingkungan sekolah dapat meningkatkan resikobagi remaja untuk terjerumus ke dalam penyalahgunaannarkoba terutama ketika kondisi di rumah tidak mendukung. Seorang anak tidak dapat membentuk hubungan emosionalyang sehat di rumah dan mengalami kegagalan di sekolahdapat menyebabkan penurunan harga diri, yang pada gilirannya dapat mendorong remaja untuk melarikan diri dari situasi sulit dengan menggunakan narkoba.
Eksosistem
Definisi ekosistem menurut Bronfenbrenner adalah “An Exosystem refers to one or more settings that do not involve the developing persons as an active participant, but in which events occur that affect, or are affected by, what happens in the setting containing the developing people.” (Bronfenbrenner, 1979 hal 25).
Dasar untuk memahami pendekatan ekologi melibatkanpemahaman terhadap individu dan keluarganya dalam kontekssosial yang lebih luas. Seperti halnya dengan mesosistem, ekosistem melibatkan hubungan antara dua atau lebihpengaturan, tetapi dalam eksosistem, individu tidak berperanatau terlibat secara langsung namun mempengaruhi mereka.
Sebagai contoh, situasi di rumah bagi seorang anak dan suami dapat sangat dipengaruhi oleh kondisi ibu di tempatkerja, meskipun ibu tersebut tidak terlibat secara langsung di rumah pada saat itu. Contoh lainnya mencakup faktor media massa yang ditunjukan oleh beberapa kasus penyalahgunaannarkoba akan dipengaruhi oleh berita atau tayangan terkaitpenyalahgunaan narkoba yang dilakukan oleh individu yang berpengaruh di masyarakat.
Makrosistem
“Macrosystem refers to consistencies, in the form and content of lower-order systems (micro-, meso-, and exo- ) that exist, or could exist, at the level of the subculture or ideology underlying such consistencies” (Bronfenbrenner, 1979 hal26). Makrosistem mencakup semua pola budaya di mana individu hidup yang terdiri dari pola perilaku, keyakinan, nilainilai dominan, kebiasaan, gaya hidup, sistem ekonomi, dan sosial serta segala produk kelompok dan individu darimasa lalu hingga generasi sekarang yang berpengaruh secarasignifikan pada kehidupan individu. Sebaliknya, budayadihasilkan melalui interaksi terus-menerus individu denganlingkungannya. Dengan mengeksplorasi unsur-unsur budaya, peran makrosistem dalam perilaku penyalahgunaan narkobayang dilakukan oleh remaja sehingga dapat dianalisis.
Kronosistem
Menurut Bronfenbrenner, kronosistem merujuk pada polaperistiwa di lingkungan atau transisi sepanjang kehidupanseseorang yang dipengaruhi oleh kondisi pengalaman hidup. Seiring berjalannya waktu, individu akan mengalamiperubahan sepanjang rentang kehidupannya, mulai darikelahiran hingga fase lanjut usia. Perubahan tersebutmencakup berbagai aspek psikologis termasuk kognitif, afektif, dan psikomotor, memainkan peran penting dalamkehidupan individu. Lingkungan yang dihadapi oleh seseorangselama berbagai tahap kehidupannya mengalami transformasiyang dapat mempengaruhi perilaku mereka.
Kronosistem mencerminkan sejauh mana stabilitas atauperubahan terjadi dalam kehidupan seseorang, sepertiperubahan dalam struktur keluarga, tempat tinggal, dan pekerjaan orang tua. Contoh lain mencakup skala yang lebihbesar seperti peristiwa perang, kondisi ekonomi, dan gelombang imigrasi. Selain itu, perubahan dalam polakeluarga juga menjadi bagian dari konsep ini sepertipeningkatan jumlah ibu yang bekerja (Papalia, 2008).
Dari uraian sebelumnya, dapat disimpulkan bahwameskipun sistemsistem yang ada tampak berdiri sendiri, kenyataannya semua tidak dapat dipisahkan sehingga salingmempengaruhi dan berinteraksi. Individu tidak hanyadianggap sebagai produk dari perkembangan tetapi juga berperan aktif dalam membentuk perkembangan tersebut. Seseorang memberikan kontribusi dalam membentukkarakteristik psikologisnya, bakat, keterampilan kemampuan, dan temperamen.
Dalam kerangka penelitian ini, individu ditempatkan di pusat lingkaran konsentrik, tidak hanya sebagai elemeneksternal dari interaksi melainkan sebagai agen yang membentuk permasalahan sendiri yang pada akhirnya dapatmendorong keinginan untuk terjerumus dalampenyalahgunaan narkoba. Karakteristik individu sangat mempengaruhi cara merespons lingkungan dan menyelesaikanpermasalahan hidupnya. Selain berperan dalam pembentukan, individu juga merasakan dampak proses interaksi denganlingkungan. Tekanan berat dalam kehidupan dapat membuatbeberapa orang menjadi kuat dan tabah tetapi bagi yang lain, tekanan tersebut dapat menyebabkan perilaku fatal yakni salah satunya penyalahgunaan narkoba. Keputusan seseorang untukterjerumus dalam penyalahgunaan narkoba dipengaruhi oleh berbagai sistem dalam lingkungannya mulai dari keluarga, teman, rekan kerja, sekolah, hingga tetangga.
Bronfenbrenner (1979) menyebutnya dengan mikrosistem. Mikrosistem memiliki dampak pada perilaku seseorang seperticontohnya ketika remaja terlibat dalam penyalahgunaannarkoba. Faktorfaktor seperti latar belakang keluarga yang tidak mendukung, timbul rasa diabaikan, komunikasi yang kurang baik antara anak dan orang tua, kurangnya dukungansosial, dan keterlibatan yang kurang baik dengan lingkungansekolah akan menciptakan tekanan yang mempengaruhi setiapindividu.
Sistem selanjutnya adalah mesositem yang merupakankombinasi dari satu atau dua lingkungan. Interaksi antararumah dan tempat kerja, atau antara rumah dan sekolah, memberikan pemahaman yang lebih jelas tentang bagaimanaindividu yang sama berinteraksi dalam berbagai situasi. Begitupula dengan eksosistem yang menjelaskan bahwa meskipunindividu tidak terlibat secara langsung sehingga pengaruhnyadapat berdampak pada seseorang. Sebagai contoh adalahketika adanya tekanan yang dialami oleh orang tua di tempatkerja dapat mempengaruhi cara mereka untuk bersikapterhadap anak di rumah. Media sebagai salah satu eksosistemyang memungkinkan seorang remaja terpengaruh untukterjerumus menggunakan narkoba. Perannya dalammenyebarkan berita mengenai penyalahgunaan narkoba yang tidak menyampaikan berbagai dampak secara besar-besaran, disadari atau tidak turut mempengaruhi keputusan seoranganak dalam melakukan perilaku maladaptif tersebut.
Selain itu, dalam perjalanan hidup seringkali mengalami perubahan yang akan mempengaruhi individu itu sendiri. Transisi ini dapat muncul sebagai hasil dari berbagaiperubahan, seperti perceraian orang tua, pindah tempattinggal, perubahan sekolah, atau pekerjaan orang tua. Bronfenbrenner menyebut fenomena ini sebagai kronosistemyang dapat menjelaskan dinamika perubahan tersebut. Kronosistem adalah representasi dari penyesuaian yang diperlukan oleh individu Ketika menghadapi perubahan dalamkehidupannya.
Faktor budaya mencakup penilaian dan konsep terkaitpenyalahgunaan narkoba oleh remaja sehingga ikutmempengaruhi pola penyalahgunaan narkoba. Budaya yang berkembang dalam masyarakat merupakan hasil dari interaksiantara semua individu dalam lingkungan yang terbentuk selama bertahun-tahun bahkan lebih lama. Keyakinan, nilai, dan norma dalam budaya dipengaruhi oleh interaksi individu-individu dalam lingkungan kecil mereka seperti rumah, tetangga, sekolah, dan sebagainya. Sebaliknya, hasil dariinteraksi ini akan mempengaruhi cara setiap individuberinteraksi dengan lingkungan mereka.
KESIMPULAN
Dari pembahasan di atas menghasilkan kesimpulan bahwapenyalahgunaan narkoba pada remaja merupakanpermasalahan yang dipengaruhi oleh berbagai aspekkehidupan individu secara keseluruhan. Masalah sosial yang telah dikaji lebih dalam menggunakan teori sistem ekologimembuktikan bahwa sistem lingkungan berperan secaraholistik dalam perkembangan individu dalam menentukanperilaku di masyarakat. Teori sistem ekologi Bronfenbrenner (1979), dapat menjelaskan peran lingkungan dalammembentuk perilaku penyalahgunaan narkoba yang dialamioleh kaum muda. Lingkungan mikrosistem, termasukkeluarga, teman sebaya, dan sekolah, memberikan pengaruhuntuk mengarahkan remaja bersikap dan memutuskanterjerumus menjadi penyalahguna narkoba. Faktorfaktorseperti latar belakang keluarga yang tidak harmonis, tekananteman sebaya, dan kurangnya dukungan sosial merupakanfaktor pemicu penyalahgunaan narkoba yang dilakukan oleh remaja.
Selain itu, mesosistem dan eksosistem juga berpengaruh. Perubahan dalam lingkungan, seperti perubahan dalamkeluarga. Hal lain yaitu peristiwa eksternal yakni teknologiyang canggih yang dapat mengakses media massa secaramudah, dapat mempengaruhi kecenderungan remaja terhadappenyalahgunaan narkoba karena melihat banyak berita tentangmaraknya pengguna narkoba bahkan dari kalangan yang mereka idolakan. Dalam konteks yang lebih luas, budaya dan nilainilai masyarakat juga memainkan peran dalammembentuk pandangan remaja tentang narkoba.
Terakhir, pada kronosistem mencerminkan bagaimanasituasi kehidupan yang berubah di sepanjang kehidupanseseorang dapat menyebabkan kecenderungan remajamenyalahgunakan narkoba dengan dalih pergi dari masalahkarena mengalami tekanan atau perubahan yang berat. Penjelasan-penjelasan yang telah dipaparkan memberikanpemahaman mengenai peran berbagai sistem ekologiseseorang. Setelah diketahui faktor-faktor yang dapatmempengaruhi penyalahgunaan di kalangan remaja, setiaplapisan ekologi individu dapat mengambil kesimpulan untukmelakukan tindakan untuk mencegah masalah ini terjadi. Diperlukan upaya kolaboratif dari pemerintah, masyarakat, sekolah, dan keluarga untuk memberikan dukungan dan pendidikan kepada remaja agar mereka dapat menghindarienyalahgunaan narkoba. Penelitian sejenis juga dapatdijadikan landasan dibuatnya solusi yang tepat untukmengatasi masalah penyalahgunaan narkoba di kalanganremaja secara holistik.
Adapun saran yang dapat peneliti diberikan daripembahasan yang telah disampaikan yaitu untuk lebihmemperhatikan pendidikan bagi remaja terkait pemahamandampak negatif penyalahgunaan narkoba terhadap korban dan lingkungan terdekat korban. Pengetahuan yang efektifdiharapkan dapat memunculkan kesadaran pada remaja bahwanarkoba hanya akan merusak masa depan bangsa dan negara.
Keluarga dan sekolah dapat menjadi pencegahan yang paling dini di tingkat mikrosistem anak sehingga perlunyamembangun hubungan yang kuat antara orang tua dan anak-anak mereka, serta dukungan dengan pihak-pihak sekolahsang anak. Memastikan anak bergaul dengan teman sebayayang memiliki sikap dan perilaku positif juga menjadi salah satu cara agar anak tidak terjerumus dalam jerat narkoba.
Referensi
Gamayanti, W. (2014). Usaha bunuh diri berdasarkan teoriekologi Bronfenbrenner. Psympathic: Jurnal IlmiahPsikologi, 1(2), 204-230.
Novitasari, D. (2017). Rehabilitasi Terhadap Terhadap Anak Korban Penyalahgunaan Narkoba. Jurnal Hukum Khaira Ummah, 12(4), 917-926.
Telaumbanua, T. B. (2018). Peran Badan Narkotika Nasional dalam Upaya Pencegahan dan Peredaran Gelap Narkotika di Gunungsitoli. Jurnal Mahupiku, 1(2).
Bronfenbrenner, U. (1979). The Ecology of Human Development: Experiments by Nature and Design. Cambridge, MA: Harvard University Press.
Puslitdatin Badan Narkotika Nasional (BNN). (2019). Survei Prevalensi Penyalahgunaan Narkoba: Laporan Nasional 2019 (Survei Nasional Penyalahgunaan Narkoba 2019). Badan Narkotika Nasional.
Papalia, D. E., Olds, S. W., & Feldman, R. D. (2008). Human Development (ed. terjemahan Indonesia). Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Sugiyono. (2017). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: CV. Alfabeta.
Herman, H., Wibowo, A., & Rahman, N. (2019). Perilaku penyalahgunaan narkoba di kalangan siswa Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Banawa, Kabupaten Donggala. Media Publikasi Promosi Kesehatan Indonesia (MPPKI), 2(1), 21–26.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”









































































