Dalam kesunyian ruang kelas di Pondok Pesantren Sunanul Muhtadin, di mana gawai bukanlah bagian dari keseharian, justru di situlah imajinasi tumbuh paling liar dan murni. Mohammad Afrohul Lubab, seorang guru muda yang baru saja menyandang gelar sarjana Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Unesa, menjadi saksi sekaligus arsitek dari ledakan kreativitas tersebut. Keyakinannya yang besar bahwa masa sekolah adalah masa emas imajinasi, membuatnya memutuskan untuk mengajak sembilan muridnya terjun dalam sebuah petualangan sastra dengan mengikuti lomba menulis cerpen tingkat Kabupaten Gresik bagian utara.
“Berawal dari kecintaanku pada sastra, khususnya cerpen dan puisi, aku selalu percaya bahwa anak sekolah berada pada masa emas imajinasi. Mereka masih jujur, liar, polos, dan berani bermimpi,” ujar Lubab saat ditanya pada Sabtu, 15 November 2025.
Keyakinan inilah yang mendorongnya untuk tidak sekadar mengajar, tetapi juga membimbing. Namun, waktu yang dimiliki sangatlah mepet, hanya satu bulan untuk mempersiapkan segalanya dari awal. Lomba yang diadakan secara online pada 19-28 April 2025 oleh MA Al Karimi itu menjadi tantangan tersendiri. Di lingkungan yang membatasi akses terhadap dunia digital, Lubab harus menjadi jembatan antara imajinasi mentah anak didiknya dengan teknis penulisan cerpen yang baik. Ia tidak memilih karya yang sempurna. Sebaliknya, ia memilih sembilan cerpen terbaik dari karya-karya mereka, bukan karena tulisan mereka sempurna, tetapi karena melihat potensi yang sangat besar di dalamnya. Tantangan nyata segera menghadang. Bagaimana caranya menulis cerpen yang kontekstual dan kaya referensi tanpa akses internet, ditambah dengan waktu persiapan yang hanya satu bulan. Lubab menyadari bahwa dalam keterbatasan ini, perannya harus berubah dari guru menjadi fasilitator penuh, menjadi navigator di dunia tanpa sinyal. “Maka, aku mengambil peran sebagai fasilitator penuh, membimbing mereka sejak menentukan judul, membangun alur, menguatkan konflik, menyempurnakan karakter, hingga merapikan akhir cerita,” cerita Lubab tentang proses yang intens itu. Sebulan yang penuh dengan perjuangan melawan waktu. Proses bimbingan dilakukan dengan memanfaatkan waktu usai jam pelajaran Bahasa Indonesia yang hanya dua kali seminggu. Dalam sesi-sesi tambahan yang penuh keakraban itulah, klinik cerpen mini berlangsung. Lubab mendampingi mereka satu per satu, menguliti setiap draft, dan memicu diskusi kreatif. Ruang kelas berubah menjadi laboratorium imajinasi, di mana setiap ide dihargai dan setiap konflik dibedah bersama. Setiap pertemuan dalam satu bulan itu sangat berharga dan dimanfaatkan semaksimal mungkin. Zahira, Sabitah, Enjel, Michelle, Azza, dan Sausan adalah enam dari sembilan murid yang dengan tekun mengikuti proses maraton selama satu bulan ini. Mereka adalah pelajar yang bukannya dimanja teknologi, justru ditempa untuk mengandalkan kekuatan pikiran dan bimbingan guru. Hasilnya adalah sebuah kejutan yang menggemparkan. Dari total tujuh pemenang lomba yang diumumkan, enam nama yang disebutkan adalah anak didik Lubab. Mereka berhasil menyapu hampir seluruh podium, membuktikan bahwa karya yang lahir dari proses yang tulus dan imajinasi yang jernih, walau hanya dalam waktu satu bulan, mampu bersaing di kancah yang lebih luas.

“Kemenangan itu bukan sekadar piala atau piagam, itu adalah bukti bahwa keterbatasan waktu dan fasilitas bukanlah alasan untuk berhenti bermimpi,” tegas Lubab. Baginya, prestasi ini adalah validasi atas metode pembelajarannya yang berpusat pada siswa dan kolaborasi. Mereka membuktikan bahwa dengan bimbingan, kemauan belajar, dan keberanian berkarya, anak-anak dari sekolah manapun bisa bersaing dan bersinar. Pengalaman ini semakin mengukuhkan panggilan hatinya. Lubab, yang kini telah menyelesaikan pendidikannya, justru memilih untuk tidak terburu-buru. Ia ingin fokus mengabdikan ilmunya. Melalui pengalaman ini, dirinya semakin yakin untuk terus berkontribusi bagi Indonesia lewat literasi dan karya sastra. Ia bercita-cita agar semakin banyak anak yang merasakan bahwa menulis adalah sebuah jembatan, bukan beban. Kisah Lubab dan enam siswanya dari SMP Pondok Pesantren Sunanul Muhtadin ini ditutup dengan sebuah keyakinan yang ia pegang teguh, sebuah filosofi yang kini telah diwariskan kepada murid-muridnya.”Sebab dalam hidup ini, aku percaya satu hal, bahwa tidak ada yang abadi kecuali karya,”ujarnya. Pada akhirnya, di Gresik, enam cerpen yang dilahirkan dalam satu bulan penuh keajaiban itu telah menjadi karya abadi pertama yang mengawali perjalanan panjang mereka.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”







































































