Pernah tidak kalian ada di situasi yang bikin tidak nyaman banget, tapi kamu berusaha untuk tetap tenang agar tidak merasa stress? Nah, itu bisa dijelasin di teori Behavioral Constraint dalam Psikologi Lingkungan. Behavioral Constraint itu adalah kondisi dimana lingkungan membatasi kenyamanan, kebebasan, atau ruang gerak kita, baik secara fisik maupun psikologis. Tapi, yang menarik adalah manusia itu tidak hanya diam aja. Terus kita biasanya otomatis cari cara buat ngatasin keterbatasan itu supaya tetap nyaman secara mental.
Contoh yang paling gampang di kehidupan sehari-hari yaitu, pas kita lagi ada di dalam Angkutan umum yang penuh banget, berdiri, berdesak-desakan, panas, belum lagi macet. Secara fisik kita terbatas dan tidak bisa bergerak bebas, tidak bisa duduk santai, ruang pribadi hampir tidak ada. Itu dia namanya constraint dari lingkungan fisik kita. Tetapi secara otomatis fisik kalian mencari kenyamanan dengan memakai headset, dengerin lagu favorit, mungkin lagu yang bikin tenang atau bikin mood baik. Meskipun suasana nya masih sama sih, bus nya tetap penuh. Tapi setidaknya, pikiran kalian lebih santai. Nah, di situ kalian sedang melakukan respon terhadap behavioral constraint. Kamu tidak bisa mengubah situasinya, tetapi kalian bisa mengatur respons kalian.
Contah lain misalnya lagi di ruang tunggu rumah sakit. Suasananya cenderung serius dan tegang. Orang-orang diam serta ekspresinya khawatir. Secara psikologis itu bisa bikin kita ikut cemas. Tetapi itu juga bentuk constraint lingkungan membatasi kita ekspresi kita. Dan tidak mungkin kan kita ketawa-ketawa keras di situ. Tapi, supaya tidak ikut tegang, kalian bisa main hp, nonton video lucu, atau chat teman. Itu cara kalian menjaga kondisi mental supaya tetap stabil walaupun lingkungannya “menekan”.
Atau contoh lain yang relate banget sama mahasiswa yaitu, ruang kelas yang cukup formal. Kursinya rapi, di depan ada dosen dan suasananya hening. Kita jadi otomatis duduk tegak dan tidak bisa ngobrol bebas. Itu merupakan constraint dari setting ruang. Tapi misalnya kamu mulai coret-coret catatan, bikin doodle kecil, atau minum kopi biar tetap fokus dan tidak bosan. Itu juga bentuk adaptasi terhadap keterbatasan situasi.
Behavioral constraint juga sering muncul di kos atau rumah. Misalnya, kalian tinggal ditempat yang aturannya ketat dan ada jam malamnya, tidak boleh berisik, tidak boleh bawa teman sembarangan. Secara perilaku kamu jadi terbatas. Tapi mungkin kalian menyiasatinya dengan video call kalau tidak bisa kumpul, atau pakai headset biar tetap bisa dengar music tanpa ganggu orang lain. Lagi-lagi, ada keterbatasan tapi ada cara untuk tetap merasa “bebas” dalam pikiran.
Yang harus dipahami, behavioral constraint itu bukan cuma soal dibatasi. Tapi lebih ke gimana sih lingkungan bisa bikin kita itu merasa ruang gerak kita sempit, lalu kita secara sadar atau nggak sadar cari strategi buat coping. Nah, Kadang strateginya sederhana banget kayak dengerin lagu, scrolling, tarik napas dalam, atau mengalihkan perhatian.
Kalau dipikir-pikir, hampir tiap hari kita ngalamin ini. Kalian pernah nggak pas lagi hujan deras dan nggak bisa keluar rumah? Nah, kan biasanya kita ngelakuin hal lain kayak nonton film biar nggak bete. Terus pas Lagi di antrean panjang nih enaknya ngapain? Kita main HP supaya nggak fokus sama capeknya. Lagi di tempat yang rame banget? Kita pasang earphone biar punya “ruang pribadi” sendiri.
Jadi, behavioral constraint itu sebenarnya nunjukin satu hal penting yang mana dapat diartikan bahwa manusia itu adaptif. Ya meskipun terkadang lingkungan mungkin nggak selalu ideal, bahkan kadang bikin nggak nyaman. Tetapi kita punya kemampuan buat ngatur respons kita sendiri supaya tetap stabil secara mental.
Intinya, constraint itu datang dari luarnya. Tapi cara kita menghadapi dan mengelolanya datang dari dalam diri kita sendiri. Dan di situlah menariknya psikologi lingkungan nih ternyata hubungan antara manusia dan lingkungan itu dinamis banget, nggak satu arah. Lingkungan bisa membatasi kita, tapi kita juga punya cara buat tetap merasa punya kontrol atas diri sendiri kita sendiri.
Oleh Anggita Wahyu Nabilah
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer






























































