

Di tempat-tempat kecil yang dahulu diramaikan oleh bunyi kursi plastik dan bau spidol, pendidikan nonformal pernah berkembang sebagai alternatif yang tenang namun esensial. Pengajar menyampaikan pengetahuan melalui kata-kata, melalui gerakan tangan, dengan kedekatan yang tak tergantikan. Namun kini, dunia bergerak sangat pesat, terlalu cepat, sampai percakapan itu perlahan-lahan berubah menjadi rangkaian byte yang mengalir di layar. Pendidikan nonformal sedang melalui perubahan bentuk yang tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga filosofis.
A. Belajar Tanpa Batas Ruang
Dulu, kelas harus dibatasi oleh dinding, sekarang cukup melalui tautan. Zoom menggantikan bangku panjang, Google Classroom menggantikan berkas tugas fotokopian, dan video pembelajaran berfungsi sebagai guru yang selalu siap menjelaskan tanpa henti. Pendidikan nonformal kini menemukan dirinya di area baru: ruang yang tidak terhingga. Seseorang dari desa bisa mengambil kursus desain grafis dengan pengajar di Jakarta. Ibu rumah tangga bisa mempelajari bisnis online sambil menjaga anak. Pekerja malam bisa meningkatkan keahlian teknis setelah subuh. Digitalisasi bukan hanya sekadar alat; ia membuka banyak kesempatan yang sebelumnya tertutupi.
B. Potensi yang Berkembang Bersama Teknologi
Ada tiga pilar penting yang membuat pendidikan nonformal semakin maju di era digital:
1. Akses yang luas
Ini bukan lagi tentang bisa hadir atau tidak, melainkan tentang kemampuan untuk terhubung. Jarak kini bukan menjadi halangan.
2. Kurikulum yang bisa diadaptasi
Kompetensi dapat diperbarui dengan cepat sesuai kebutuhan industri. Tidak perlu bertahun-tahun untuk membuat modul baru, hanya perlu memperbaharui konten digital.
3. Microlearning yang sesuai dengan gaya hidup modern
Belajar selama 10 menit setiap hari sekarang terbukti lebih efektif dibandingkan duduk selama tiga jam di kelas. Pendidikan nonformal sangat cocok dengan pola ini.
Teknologi memberikan kemampuan untuk menanam pengetahuan seperti menanam benih: secara perlahan, tetapi tetap berulang dan konsisten.
Namun, Perubahan Tidak Selalu Mudah
Di balik cahaya digital, ada berbagai tantangan yang harus diperhatikan.
Kesenjangan keterampilan digital antara pengajar dan peserta masih terlihat. Banyak pengajar yang mahir dalam mengajar, tetapi kurang terampil dalam teknologi.
Fasilitas sangat bervariasi, dari peserta yang memiliki laptop hingga mereka yang hanya menggunakan ponsel pinjaman.
Interaksi menjadi berkurang, membuat proses belajar tampak dingin dan kurang bermakna.
Motivasi bisa dengan mudah pudar, karena tanpa tatap muka, kehadiran hanya menjadi nama yang tidak bersuara.
Transformasi digital tidak hanya tentang alat, tetapi juga tentang pola pikir, kebiasaan, dan keberanian untuk beradaptasi.
C. Peran Lembaga Nonformal: Antara Inovator dan Kurator
Pendidikan nonformal memiliki kelebihan; ia fleksibel, dapat beradaptasi, dan tidak terhalang oleh birokrasi yang rumit seperti pendidikan formal. Maka dari itu, ia memiliki potensi besar untuk menjadi pionir dalam transformasi pendidikan digital di Indonesia.
Ada beberapa langkah yang perlu diambil:
-Meningkatkan keterampilan digital para pengajar
-Menguasai perangkat bukanlah tujuan utama; yang lebih penting adalah menciptakan pedagogi digital yang efektif dan humanis.
-Menggunakan model pembelajaran hibrida yang seimbang
-Menguji penggabungan pertemuan langsung dan pembelajaran daring untuk memberikan fleksibilitas tanpa kehilangan kedekatan.
-Menciptakan konten yang kreatif, singkat, dan personal
-Materi video berdurasi 5 menit seringkali lebih berkesan daripada ceramah daring selama satu jam.
-Membangun ekosistem kolaboratif
-Berkolaborasi dengan komunitas kreator, industri digital, dan platform teknologi.
D. Di Balik Byte, Masih Ada Manusia
Transformasi digital tidak berarti akhir dari interaksi yang hangat; ini hanyalah perubahan media.
Percakapan yang dulunya terucap kini berubah menjadi pixel, suara yang diolah oleh algoritma, dan pesan yang mengalir cepat.
Namun, inti dari semua ini tetap serupa: pendidikan adalah interaksi antar individu, meskipun melalui layar. Teknologi berfungsi sebagai penghubung, bukan sebagai tujuan akhir.
Ketika kata-kata guru berubah menjadi data, kita diingatkan bahwa esensi pendidikan tidak terletak pada wujudnya, tetapi pada semangat untuk mengubah kehidupan.
E. Penutup
Pendidikan nonformal kini berada di titik sejarah yang penting. Ia berpotensi menjadi pilar utama dalam membangun masyarakat yang kompeten, resilient, dan mampu beradaptasi di tengah perubahan yang cepat. Digitalisasi bukanlah sekadar pilihan; hal ini adalah suatu keharusan yang harus dipahami.
Dan pada akhirnya, meskipun cara berkomunikasi telah berubah menjadi data, semangat untuk meningkatkan pengetahuan tetaplah konsisten: menghadirkan pemahaman baru bagi setiap orang yang berkeinginan untuk belajar.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”










































































