Nama lengkapnya Tsulalah Makniyah, bukan sekedar rangkaian kata, melainkan sebuah doa yang disematkan sejak ia pertama kali hadir di dunia. “Tsulalah” dipilih karena ia adalah anak ketiga dalam keluarga, sementara “Makniyah” menjadi harapan agar kelak ia tumbuh sebagai sosok yang memberi arti bagi siapa pun di sekelilingnya. Seiring waktu, doa itu tidak berhenti sebagai harapan. Ia tumbuh bersamaan dengan langkah-langkahnya, dengan setiap prestasi, dedikasi, dan kepedulian yang ia tunjukkan.
Sejak SMP, Tsulalah Makniyah sudah dikenal sebagai sosok yang berbeda. Dia selalu menonjol dalam akademik dan organisasi, meraih juara kelas, menjadi Duta Baca Kabupaten Bekasi, aktif mengikuti lomba syarhil, hingga menjabat sebagai ketua OSIS. Namun dibalik kesuksesan itu, tidak semua orang disekitarnya selalu mendukung. Ada yang iri, ada yang menunggu momen kesalahannya, bahkan saat SMP ia pernah dijauhi oleh temannya.
Di tengah itu, Tsulalah tetap tenang dan mengaku bahwa lingkungan pesantren memberinya rasa aman di tengah derasnya arus perubahan zaman. Nilai-nilai yang ia pegang teguh tampak jelas dalam kesehariannya, terlihat dari cara dia menyapa temannya, bertutur kata, fokus saat belajar, hingga ketenangan menghadapi komentar nyinyir.
“Di pondok pesantren, kita tidak hanya belajar agama, tapi juga belajar banyak hal yang mungkin tidak bisa ditemui di tempat lain, seperti kesederhanaan, kekeluargaan, dan keberkahan yang mengalir di dalamnya,” ujarnya dengan mata berbinar. Nilai itulah yang tetap dipegang erat hingga kini saat ia kuliah di jurusan Pendidikan Biologi UIN Bandung.
Selain akademik, Tsulalah aktif di berbagai kegiatan sosial. Perjalanannya sebagai Duta Genre dimulai dari organisasi PIK-R di sekolah, hingga mengikuti seleksi Duta Genre Kabupaten Bekasi 2024. Ia mewakili Kecamatan Cibarusah dan berhasil menjadi juara dua putri.
“Pengalaman itu membuka mata saya tentang pentingnya kontribusi nyata bagi masyarakat,” kenangnya.
Tahun berikutnya, Tsulalah menyiapkan diri mengikuti seleksi tingkat provinsi. Dari program yang telah ia jalankan, lahirlah SI GEULIS (Generasi Unggul Anti Stunting), sebuah program inovatif yang ditujukan bagi generasi muda. Program ini akhirnya membawanya menjadi Duta Genre Motivator Putri Jawa Barat 2025, sebuah pencapaian yang membanggakan sekaligus tanggung jawab besar.
Meski kesibukan datang silih berganti, Tsulalah selalu berusaha menyusun skala prioritas. Waktu belajar fokus belajar, waktu mengaji fokus mengaji, dan sisanya untuk kegiatan sosial atau pengembangan diri.
“Pernah merasa lelah atau ingin menyerah? Pastinya. Tapi saya selalu mengingat niat awal, yaitu ingin bermanfaat untuk sekitar. Itu yang membuat semangat kembali tumbuh,” ujarnya.
Momen paling berkesan baginya adalah saat turun langsung ke lapangan, bertemu orang-orang baru, merasakan senyum dan tawa mereka, sekaligus belajar dari para pejabat yang menginspirasi dari tingkat kecamatan hingga nasional.
Di balik semua prestasi dan kesibukan itu, sosok paling berpengaruh baginya tetap orang tua. Dari mereka, Tsulala belajar tentang nilai keteguhan, kerja keras, dan keikhlasan yang menjadi prinsip dalam setiap langkah hidupnya.
Bagi Tsulalah, generasi muda, khususnya mahasiswa, memiliki peran sebagai teladan dan agen perubahan. Mahasiswa bukan hanya penerima ilmu, tapi bisa membawa dampak positif lewat ide, karya, dan kegiatan sosial.
“Teruslah belajar, jangan lelah berbuat baik, dan tanamkan niat bahwa setiap langkah adalah ibadah. Jangan menyerah, teruslah bertahan, karena kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi jika menyerah sekarang.” Pesannya yang selalu ia sampaikan kepada generasi muda.
Perjalanan Tsulalah menunjukkan bahwa prestasi dan pengaruh positif tidak datang tanpa tantangan. Sosoknya menjadi inspirasi nyata tentang bagaimana konsistensi, keteguhan hati, dan kepedulian terhadap orang lain bisa berjalan bersamaan, meski menghadapi orang yang nyinyir atau iri. Tsulalah membuktikan, keberhasilan sejati bukan hanya soal penghargaan, tapi juga kemampuan tetap fokus dan berbagi manfaat ditengah dinamika kehidupan.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”








































































