Bulan Ramadhan selalu menjadi momen istimewa bagi umat Islam untuk berlomba-lomba melipatgandakan amal ibadah. Namun, ibadah tidak terbatas pada ritual semata. Mencari ilmu dan berdiskusi memiliki kedudukan yang sangat mulia dalam Islam, bahkan mengungguli ibadah sunnah, sehingga sangat sayang jika dilewatkan di bulan penuh berkah ini.
Pendidikan dan keilmuan menjadi sangat krusial, terutama di tengah situasi sosial-politik saat ini yang cukup memprihatinkan. Banyak orang dengan mudahnya berceramah agama tanpa pemahaman dasar yang mumpuni, serta melontarkan kritik-kritik politik tanpa landasan data yang jelas. Untuk mengatasi kekacauan narasi ini, pendidikan adalah kunci utamanya.
Semangat keilmuan ini tecermin dalam sebuah diskusi daring sederhana di malam Ramadhan. Meski menggunakan platform Zoom yang memiliki banyak keterbatasan, esensi pembelajaran tetap tersampaikan. Diskusi yang menghadirkan Ibu Rika Inggit Asmawati, M.A. ini menyoroti rekam jejak gerakan pemuda dan mahasiswa sebagai kekuatan moral dalam sejarah Indonesia, dari masa pra-kemerdekaan hingga reformasi.
Namun, kiprah mahasiswa saat ini dihadapkan pada ujian berat. Kampus perlahan bergeser dari ruang penempaan pemikiran menjadi sekadar pabrik pencetak tenaga kerja yang pragmatis. Lebih jauh, gerakan mahasiswa kini dihadapkan pada tiga tantangan kompleks:
- Fragmentasi: Menurunnya solidaritas karena terjebak dalam sekat-sekat sektarian, sehingga gagal menyatukan suara.
- Kooptasi: Hilangnya independensi karena disetir oleh kepentingan partai politik atau birokrasi, mengubah mahasiswa dari agen perubahan menjadi alat golongan tertentu.
- Integrasi Aksi: Kesulitan memadukan pergerakan di dunia maya (daring) dan dunia nyata (luring), yang jika salah langkah bisa berujung pada misinformasi dan blunder.
Sebagai agent of change, mahasiswa dituntut memiliki daya tahan, integritas, dan objektivitas yang tinggi. Mereka harus mampu menjaga jarak dari kepentingan politik praktis dan menghindari “distorsi nalar”—kondisi di mana emosi menutupi logika dan perasaan dianggap sebagai fakta. Jika nalar sudah tumpul, kehadiran mahasiswa justru akan memicu masalah baru, alih-alih memberikan solusi.
“Idealisme adalah kemewahan terakhir yang hanya dimiliki oleh pemuda.” – Tan Malaka
Penulis: Muhammad Ali Wafa (Aktivis PMII Kota Malang)
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer










































































